Bab 8
Selamat Malam Juga, Putri Isvara.
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, pandangan sedikit buram dan ingatanku yang terakhir adalah aku jatuh pingsan karena Naresh yang akan (atau sudah ya?) memanah apel di atas kepalaku.
Astagah!
Itu memalukan!
"Lihat Ibunda, Putri Kesara sudah bangun."
Aku mendengar suara tak ramah yang akhir-akhir ini sering mampir ke kupingku, siapa lagi kalau bukan Isvara ck! Males banget deh harus manggil dia dengan embel-embel Putri.
"Yah, entahlah dia pura-pura atau serius, kita tidak pernah tau kelicikannya untuk mendapatkan hati Naresh." Suara lain menimpali.
Oh Man! Apa dia sedang becanda? Menggosipi orang di depannya langsung apa sebuah kehormatan? Ini aku sedang berada di depannya lho. Plis aku bisa dengan jelas mendengar mereka asik 'mengobrol' tentang diriku.
Aku membuka mata sepenuhnya, yang kulihat ada Puri yang sedang memijiti kakiku dan dua orang aneh tadi yang sibuk berbicara tentang aku.
"Aku pingsan sungguhan omong-omong." Sahutku lemas. Puri yang mengerti langsung mengulurkan gelas padaku.
"Begitukah Putri Kesara? Aku dengar kau memang sering diajak Pangeran bermain-main." Tanya Isvara tanpa bisa menutupi rasa tidak sukanya padaku.
"Apakah itu cara bermain-main Pangeran Naresh?" tanyaku sarkasme.
Aku tidak tahu gelar apa yang disandang Serena tapi Serena ikut berucap, "Kau saja yang lemah," matanya mengamati, "membuat repot seluruh istana saja."
"Ayo Isvara, dia sudah sadar. Sebaiknya kita pergi dari sini." Lanjutnya, lalu pergi dengan langkah yang harus kuakui anggun sekali.
Sebelum Isvara menyusul Selir Serena, dia sempat mengatakan sesuatu padaku, "Kesara, kau tampak lain, tapi tak apa aku menyukainya, yah setidaknya kau tidak bisa bersembunyi pada punggung Naresh selamanya, bukan?"
Aku mengerutkan dahi, bingung. Apa maksudnya?
"Putri Isvara," Isvara yang akan meninggalkan kamarku berbalik arah dan memandangku dengan wajah angkuhnya. Sial! Kenapa pula mulutku berbicara di luar kendali? Kalau begini aku harus bicara apa padanya?!
Dia menatapku dengan senyum angkuh khasnya, "Aku menunggu, Putri Kesara."
"Kau tidak perlu khawatir tidak menemukan lawan yang seimbang, aku tidak akan pernah lagi bersembunyi pada punggung Pangeran Naresh." Sial kuadrat! Sebenarnya apa yang sedang aku bicarakan?!
Isvara tersenyum anggun, "Ohh begitukah? Ya aku senang mendengarnya. Baiklah, kau sepertinya mengerti apa maksudku. Kalau begitu, selamat malam Putri Kesara."
Aku tidak menjawab. Ucapannya seperti lagu pengantar tidur bagiku, ya pengantar tidur yang ketika mendengarkannya kau tidak akan bangun lagi. Bodoh! Rutukku dalam hati, kenapa juga aku bisa terpancing! Lagipula hei? Aku tidak tahu apa-apa. Kenapa kelihatannya akan terjadi perebutan sesuatu ya? Mungkinlah kami sedang berebut Naresh?
"Putri Kesara?" sapa Puri yang berhasil aku ketahui keberadaannya. Aku hampir lupa bahwa ada Puri yang mendengar perbincangan kami.
Aku tersenyum, "Ya, ada apa?"
"Saya bangga pada Putri, yang tadi itu sangat berbahaya bukan? Tapi apapun yang terjadi setelahnya saya sepenuhnya akan tetap percaya dan berada di belakang Putri." Dia balas tersenyum padaku.
Aku tercenung.
Hei, memangnya Si Putri Maha Sempurna ini takut pada dua orang itu? Dan memangnya apa yang akan terjadi selanjutnya? Pasti hal buruk!
KAMU SEDANG MEMBACA
Kira's Time Traveller
FantasyAda banyak hal di dunia ini yang Kirana benci. Tapi, posisi nomer satu diambil oleh Pelajaran Sejarah juga Bu Maryam guru sejarahnya, lantaran Kira selalu kena hukum. Pokoknya Kira benci Sejarah. Selain Sejarah, nomor kedua yang dibencinya adalah Ma...
