Bab 16| Aku Percaya Padamu

701 134 1
                                        

Bab 16

Aku Percaya Padamu.









Bodoh!

Bodoooooohhhh!

Aku bodoh banget sih?!

Bagaimana bisa aku mengatakan kalimat semacam itu?! Walaupun sebenarnya itu gak bohong-bohong banget tapi,

Plis deh! Seorang gadis mendatangi kamar pemuda, malam-malam dan berkata rindu?!

Aku berdoa mati-matian, semoga Naresh tidak salah mengartikan ucapanku.

"Hm? Kau mengatakan apa?"

Aku gelagapan, aku bahkan enggak berani menatap wajahnya. Aduh.. aku boleh nggak sih pingsan saja?

"Katakan sekali lagi, Sera."

Aku mengalihkan tatapanku padanya, Naresh bahkan tidak perlu repot-repot menyembunyikan sinar geli di matanya atau senyumannya.

Gila, bagaimana bisa dia berubah secepat ini?

"Umm.. Hoamm.." aku menutup mulutku pura-pura mengantuk. "aku sepertinya harus kembali, aku permisi dulu."

Aku dengan riang berbalik hendak meninggalkan Naresh, semoga saja dia aku tidak mencurigakan. Dan yang paling penting dia tidak curiga bahwa ada barangnya yang aku curi

"Kalau mengantuk tidurlah di kamarku, kau bisa tidur di kasurku."

Hm.. Sebentar dia mengatakan apa?

Aku memutar tubuh ke arahnya dan mendapati pemuda itu menatapku dengan mengangkat sebelah alisnya, "Ha ha ha.. kau pasti bercanda."

"Kalau kau mau kenapa tidak?" katanya masih menatapku.

Aku mengerjap panik, "Kalau begitu aku tidak mau!"

"Yasudah, tinggalah di sini sebentar lagi, lagi pula dengan mata seperti itu aku bisa menebak bahwa kau tidak mengantuk. Kau berbohong lagi."

Aku menunduk dan menurut berdiri menonton pemuda itu yang mulai sibuk mengerjakan sesuatu. Bagaimana bisa saat serius seperti itu Naresh bertambah tampan? For good shake! Bahkan dia enggak melakukan apa-apa, hanya menunduk, menulis dan bernapas. Tapi kenapa bisa?

Tanpa sadar aku mencubit lenganku sendiri, setidaknya aku harus cepat disadarkan. Bagaimanapun aku tidak boleh menyukai Naresh lebih dari ini.

Emm.. Aku barusan mengaku ya?

Tapi aku akan jamin, perasaan sukaku ini tidak akan bertambah lagi. Aku janji!

"Aw.." rintihku saat aku tanpa sengaja cubitanku terlalu keras.

"Kau kenapa meyakiti dirimu sendiri?" Naresh yang sepertinya sadar akan tingkahku, mendekat.

"Eh, tidak apa-apa. Sungguh! Ini hanya luka kecil aku tadi hanya sedang me—"

"Mengamatiku tanpa kedip?" potongnya lugas.

Aku menatapnya horor, "Kau percaya diri sekali,"

Dia tertawa, "Kau kenapa juga tidak mau mengaku?"

Aku berengut, "Ya karena aku tidak melakukannya!"

"Melakukan apa?" tahu-tahu saja dia sudah berdiri di depanku, menatapku dengan sorot lembut.

Aku mendengak, balas menatapnya, "Menatapmu tanpa kedip." Jawabku polos.

Dia tersenyum, menyelipkan anak rambutku di belakang telinga lalu menunduk dan berbisik, "Kau baru saja melakukannya, menatapku tanpa kedip."

Sial!

Pasti, wajahku merah sekarang!

"Kau juga begitu!" protesku enggan malu sendirian.

"Aku? Memangnya tidak boleh menatap wanitaku sendiri?" jawabnya dengan wajah tenang.

"Hei, pipimu kenapa merah begini?" lanjutnya lagi kali ini sambil menahan tawa.

Kenapa dia menyebalkan sekali sih? Demi menjaga kesehatan jantungku yang sudah tak terkontrol aku mendorongnya menjauh, "Aku pergi dulu."

"Kau tidak bermalam di sini, Sera?" katanya saat aku melewati pintu.

Aku enggan berbalik, tahu dia sedang menggodaku, "Mungkin lain kali."



...



Huh! Aku berjalan cepat, tujuanku saat ini adalah menghindari Naresh dan ya membaca lanjutan kisah itu. Dasar! Aku sebal betulan deh, aku sebal tapi kenapa aku malah tersenyum! Sial sial sial!

Mantra apa sih yang digunakan Naresh?!

'Begitulah cara cinta bekerja, Kira.'

Aku tersentak. Tiba-tiba saja aku teringat ucapan Kakek Sam perihal jatuh cinta yang berbahaya. Kalau memang begini rasanya, ini sih bahaya banget!

Naresh itu ada calon tunangan Putri Kesara. Gadis dengan 1000 kesempurnaan. Kalau saja aku tidak ceroboh pasti sebentar lagi mereka akan bertunangan, lalu menikah, lalu punya dua anak yang lucu-lucu, lalu akan hidup bahagia selamanya. Jadi, aku itu tidak lebih dari lalat pengganggu. Ew.

Tapi, kenapa aku tidak suka ya membayangkan itu semua? Astagah, Kira! Aku menepuk pipiku. Seseorang harus segera menyadarkanku!

Aku duduk di ranjang, mengambil kertas yang sempat aku selipkan di lipatan baju. Cepat aku membuka dan membacanya,

Entah bagaimana mulanya, tapi Panglima terkuat di Kerajaan Majapahit jatuh cinta pada seorang Puteri. Anak Raja. Memang tidak ada peraturan bahwa dilarang menikah dengan anak raja. Tapi kali ini, cinta panglima besar itu terlarang.

Karena,

Aku membaca lembar selanjutnya. Mataku membulat kaget tidak menyangka. Tulisan setelahnya menggunakan bahasa sansekerta, aku tidak bisa membacanya!

Bagaimana ini?

Aku menggigit bibir, berpikir keras siapa yang bisa membantuku. Satu nama terbesit dipikiranku.

Kurasa tidak ada jalan lain, karena aku berani bersumpah selama apapun aku belajar huruf sansekerta itu aku tidak akan pernah bisa membacanya. Jadi, kurasa Puri harus membantuku kali ini.

Walaupun membuka rahasiaku adalah harganya.



***





"Saya bisa membaca Putri, para dayang pribadi seorang Puteri haruslah bisa membaca, menulis dan sedikit hitungan dasar. Itu mutlak. Jadi, Putri memintaku membaca apa?"

Ragu-ragu aku mengulurkan kertas yang kucuri tadi malam padanya. Puri menatapku bingung lalu wajahnya berubah pucat saat tahu kertas apa yang dipegangnya.

"Darimana Putri mendapatkan ini? Maaf Putri saya tidak bi—"

"Kau bisa, kali ini kau harus membantuku, Puri.

Dia menggeleng ragu, "Maaf, ini melanggar peraturan. Saya tidak berani Putri."

"Kau bisa janji satu hal?" tanyaku akhirnya.

Dia mengangguk ragu, "Asal bukan untuk melanggar peraturan saya rasa saya bisa."

"Aku harap setelah ini, kau masih tetap percaya padaku. Kumohon."

Puri tersenyum, "Tentu, Putri."

Lalu mengalirlah ceritaku, mulai dari kenapa aku bisa sampai di sini, alasan mengapa aku berbohong, juga ketidaktahuanku tentang keberadan Putri Kesara, aku juga bercerita tentang kakekku, kecuali pertemuanku dengan Yoda. Aku juga menjelaskan bahwa aku bukan penyusup, pencuri, atau mata-mata.

"Hanya kau yang bisa aku percaya, Puri. Di sini aku tidak punya satu orang yang mengerti aku. Aku sendirian dan aku tidak berbahaya. Aku mohon bantu aku."

"Ba-bagaimana bisa?"

Aku menggeleng, "Aku juga tidak tahu, Puri. Tolong jangan kau beritahu ini pada siapa-siapa. Kau percaya padaku?"

Di luar dugaan Puri memelukku, lalu dia tersenyum dan mengatakan hal yang paling indah;





"Tentu, tentu aku percaya padamu, Putri."[]

Kira's Time TravellerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang