Bab 25
Surat Kebebasan.
Sudah dua hari aku dikurung di sini, Puri belum berkunjung lagi setelah malam itu. Istana juga tampaknya baik-baik saja setelah acara penangkapanku. Menurut yang aku dengar dari beberapa penjaga yang bergosip, sementara ini Raja Mandala tetap menjadi Raja, pertunangan tidak bisa dilanjutkan sampai Kesara ditemukan.
Bagaimana Kesara akan kembali jika mereka menahanku di sini, sudah jelas kan kalau Kesara dan aku sedang... Astagah!
Apa mungkin?
Kami bertukar tempat?
"Aku belum mengabari keluargaku.."
"Kalau begitu kabarilah mereka, istana juga mengizinkan bukan?"
Aku mendengar obrolan para penjaga di luar, dengan cepat aku menempelkan telingaku di dekat tembok, menguping.
"Iya, tapi tugasku masih banyak." Seseorang bicara lagi.
Seorang yang lain tertawa, "Kau hanya perlu menulis surat, berikan pada burung pengantar surat. Selesai."
Aku memicingkan mata, burung pengantar surat?
"Hei, kenapa aku bisa melupakan itu? Benar, kau benar. Mungkin malam nanti aku bisa menulisnya dan akan kukirimkan besok pagi-pagi."
"Dasar bodoh!"
Sudah cukup sesi mengupingnya. Ini benar-benar brilian! Aku segera menuju nampan yang aku letakkan di bawah dipan. Tanganku sibuk mencari gulungan kertas juga pena yang Puri berikan.
Dimana?
Senyumku terbit, aku tahu harus melakukan apa.
"Hei! Sedang apa kau?!"
Aku tersentak, dengan cepat segera menyembunyikan lempengan bambu di timbunan selimut. Aku berbalik menatap penjaga yang membawakan aku baki berisi makanan.
"Memangnya di tempat seperti ini kau mengharap aku melakukan apa?" balasku sengit.
Dia sedikit terkekeh, "Menangis mungkin?" katanya sembari meletakkan makananku lewat sela kecil di bawah sel.
"Makanlah!" katanya sebal.
Aku menaikkan alis, "Ya, tentu saja."
Segera aku mengambil baki, mulai memakan sarapanku. Mataku menatap penjaga yang masih setia berdiri di sana.
"Kau ingin memastikan apa?" kataku ketus merasa terganggu terus diperhatikan.
Penjaga itu sedikit melotot sebal, "Kau seharusnya tidak perlu diperlakukan spesial seperti ini."
Aku mengerutkan dahi bingung, belum sempat aku bertanya apa maksudnya dia sudah melangkahkan kaki pergi. Diperlakukan spesial apanya? Apa ruangan sel penjaraku ini VIP? Dasar julit!
Untunglah makanan yang aku terima masih layak, setidaknya bukan makanan basi atau makanan hewan. Setelah menyuapkan beberapa sendok besar lauk, aku meletakkan piring.
Menulis surat?
Akan aku kirimkan pada siapa?
Aku kan tidak punya teman untuk menolongku dari sini.
Tunggu dulu,
Astagah! Bagaimana aku bisa melupakan sesuatu sepenting ini?!
....
Aku mengerjapkan mata, mendengar suara memanggilku. Mencoba membiasakan cahaya yang masuk, obor sudah dinyalakan berarti ini malam hari. Di depan selku ada Puri. Ini adalah keajaiban!
KAMU SEDANG MEMBACA
Kira's Time Traveller
FantasyAda banyak hal di dunia ini yang Kirana benci. Tapi, posisi nomer satu diambil oleh Pelajaran Sejarah juga Bu Maryam guru sejarahnya, lantaran Kira selalu kena hukum. Pokoknya Kira benci Sejarah. Selain Sejarah, nomor kedua yang dibencinya adalah Ma...
