Bab 14
Mencari Kebenaran.
"Kenapa kau membohongiku?"
Aku menatap raut wajah Isvara yang sama sekali tidak menunjukan raut bersalah atau menyesal. Aku yakin bahwa dua manusia itu, adalah ibu dan anak tiri yang ada di sinetron kegemaran Mama. Aku yakin!
Dan aku?
Aku adalah anak baik hati yang teraniaya.
"Memangnya kenapa? Kau itu ck ck ck, bodoh sekali Kesara!" katanya mencercaku habis-habisan. Seolah ia berbohong karena kesalahanku.
"Lantas apa gunanya? Aku beri tahu Isvara, usahamu akan sia-sia."
Isvara menolehkan wajahnya padaku, "Percaya dirimu boleh juga, aku beri tahu juga Kesara. Selama pertunangan kalian belum diresmikan aku akan mencari cara apapun untuk membuatnya gagal. Apapun Kesara. Kau lihat saja nanti."
...
Ya. Hanya percakapan seperti itu tapi sukses menggangguku. Aku membalikkan badan ke samping, tapi sama saja aku tetap tidak bisa tidur. Percakapan terakhirku dengan Naresh adalah kemarin malam, hari ini dia tampak sibuk sekali. Aku hanya melihatnya kesana dan kemari tanpa berani menyapanya.
Aku duduk di kasur, menatap kosong ke depan. Sepertinya sejak aku tinggal di sini aku sudah melupakan sesuatu yang paling penting. Tentang tujuanku kemari, kenapa buku hitam milik Kakek bisa membawaku kemari. Sebelum aku dikirim kembali ke masa lalu aku sempat bertanya sesuatu tentang apa yang terjadi sebenarnya antara Kakek Sam dan Nenek Anjani. Lalu, buku itu bertanya; Apakah kau ingin kembali?
Aku menjawab ya, aku ingin kembali.
Jadi, aku kesini sebenarnya atas keinginanku sendiri?
Bodoh!
Iya aku memang sangat bodoh! Kenapa aku baru bisa berpikir sekarang? Semuanya sudah sangat jelas.
Lalu bagaimana caranya aku pulang?
Dengan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan begitu aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Tapi, mulai dari mana?
Aku memandang buku silsilah kerajaan itu, lama sekali..
Iya. Mulai dari perpustakaan istana.
***
Aku menyesal mengetahui fakta bahwa aku tidak menyukai sejarah. Mungkin kalau aku tahu sedikit tentang sejarah Majapahit aku tidak akan sesusah ini. Aku menutup buku sejarah Majapahit dengan frustasi. Kemana semangatku tadi malam yang berkobar-kobar?
"Puri.."
Puri, pelayanku itu menolehkan kepala ke arahku, "Kau sudah berapa lama tinggal di sini?"
Gadis itu tampak berpikir sejenak, "Umm.. Mungkin sekitar sepuluh tahun, Putri."
Aku mengangguk, "Lalu, dimana keluargamu?" tanyaku hati-hati.
Dia tersenyum menutup buku yang tengah dibacanya memfokuskan perhatian padaku sepenuhnya.
"Aku tinggal bersama ibu dan dua orang adikku Putri, di desa. Ayahku meninggal akibat perang beberapa waktu lalu. Kami orang susah Putri, saat istana membuka jasa pekerjaan aku ikut teman-teman sebayaku ke kota untuk mencukupi kebutuhan ibu dan adikku.
"Lalu, jadilah aku dayang. Pada awalnya aku hanya sebagai pembantu dayang di dapur atau siapa saja yang membutuhkan. Karena lama-lama para dayang sebelumnya sudah mulai menua aku diangkat menjadi pelayan pribadi seorang Puteri."
Aku hanya termangu mendengar penjelasan Puri, "Aku turut berduka untuk ayahmu, Puri."
"Terimakasih Putri, sudahlah. Memang sudah nasib ayahku begitu."
Aku hanya berdeham, "Um.. Ayahmu meninggal dalam perang apa?" tanyaku hati-hati.
Dia berdeham kikuk, "Itu karena perang sejarah yang terulang. Perang karena peng— eh kami dilarang membahas itu Putri, maaf. Tapi kami benar-benar dilarang." Puri memilin jarinya.
Aku semakin kepo, sepertinya ada banyak rahasia yang disembunyikan di istana ini. Aku harus mencarinya. Untuk menenangkan Puri dan tidak membuatnya curiga bahwa aku ingin informasi lebih aku tersenyum maklum akan sikapnya.
"Iya Puri, maaf aku tidak tahu. Oh ya? Bisa kau tinggalkan aku sendiri dulu di sini?"
Walaupun awalnya ragu, Puri akhirnya menurut. Aku lega setidaknya aku bisa bebas mencari buku sejarah kerajaan ini, khususnya bagian sejarah yang terulang. Aku kepo maksimal dengan cerita itu!
Karena aku tidak bisa mengorek informasi lewat Puri terpaksa aku harus mencari jawabannya sendiri.
Hari ini, tugasku membaca buku-buku yang kurasa ada hubungannya dengan sejarah yang disebut-sebut Puri. Tapi dari beberapa rak aku sama sekali tidak menemukan buku itu. Memang banyak sejarah tapi tidak ada satupun yang membahas tentang sejarah yang terulang lalu mengakibatkan perang.
Baiklah, berpikir Kirana. Karena itu buku penting pasti tidak sembarang orang bisa membacanya kan? Dan karena tidak boleh dibaca semua orang buku itu pasti disimpan di suatu tempat.
Pertanyaannya, dimana?
Aku berjalan mendekat pada pengurus perpustakaan istana, hanya dia orang yang paling tahu tentang perpustakaan ini.
"Permisi, Pak aku—"
Penjaga perpus itu menolehkan kepalanya ke arahku, "Wah, ada apa Putri Kesara. Lama tidak berkunjung?"
Sungguh diluar perkiraan, ternyata Kesara kenal baik dengan penjaga perpus. Aku tersenyum canggung, "Maaf Pak, aku belakangan ini memang sedikit sibuk."
"Ya, tidak apa-apa, saya tahu menjadi seorang Puteri dari Pangeran Naresh memang berat. Tapi, saya percaya Putri mampu melakukannya."
"Iya, aku pasti akan berusaha semampuku. Umm.. Bapak Penjaga, bisakah aku melihat-lihat buku yang berada di dalam lemari itu?"
Penjaga perpus tersenyum senang, "Ya Putri, tentu. Nama saya Mitro Putri,"
Aku nyengir sebagai jawaban. "Maaf Pak Mitro," aku bahkan tidak tahu kenapa aku minta maaf. Setelah berpamitan aku dengan tidak sabar segera menuju tempat yang membuatku penasaran setengah mati.
Aku meneliti dengan seksama, di lemari ini hanya beberapa buku yang membahas tentang sejarah kerajaan, di sini lebih banyak buku tentang kemakmuran ekonomi, politik, nama-nama serta biografi raja sebelumnya, kisah kematian Pangeran Januandra Mandala, lalu buku-buku dengan aksara yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, dan satu buku lusuh di pojokan, aku menarik buku usang itu.
Buku paling jelek, kuno dan tua. Mataku membelalak saat melihat sampul dan judul yang tertera di sana.
Tragedi, Perang, dan Pengkhianatan yang Terulang. 1470.
Aku menemukannya.[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Kira's Time Traveller
FantasyAda banyak hal di dunia ini yang Kirana benci. Tapi, posisi nomer satu diambil oleh Pelajaran Sejarah juga Bu Maryam guru sejarahnya, lantaran Kira selalu kena hukum. Pokoknya Kira benci Sejarah. Selain Sejarah, nomor kedua yang dibencinya adalah Ma...
