Bab 22| Hari H

622 114 2
                                        

Bab 22

Hari H.






Detik berganti menit, menit berganti jam, jam pun berganti hari.

Satu hari..

Dua hari...

Tiga hari....

Tidak terasa tiga hari berlalu begitu cepat. Tepat pada hari ini aku akan bertunangan. Sejak mengajarinya pythagoras, aku belum bertemu lagi dengannya. Kata Puri, kami sedang dipingit.

Pret.

Dari pagi aku sudah sibuk didandani, luluranlah, pijatlah, mengikir kukulah, merapikan rambutlah, bahkan jadwal makanku juga! Aku dilarang makan terlalu banyak padahal porsi makanku di sini juga sedikit.

Belum lagi, korset ini begitu menyiksaku. Pertunangan masih malam nanti tapi aku tetap harus mengenakan pakaian terkutuk ini. Menyebalkan.

Aku mengendap-endap berjalan menuju taman belakang. Untunglah, hari ini istana sedang sibuk-sibuknya mengurus acara nanti malam. Jadi, aku bisa dengan mudah menelusup sampai ke tempatini. Aku dengar Raja semakin membaik, tentu saja aku senang mendengarnya. Katanya lagi semua rakyat akan diundang untuk menyaksikan aku dan Naresh menukar cicin.

Cih.

Aku berdecih, memangnya apa spesialnya sih? Sampai semua orang harus tahu? Saat sampai di taman belakang, aku melihat sekitar, sip sepi. Ini baru yang namanya aman. Ya ampun, belum pernah aku capek seperti ini. Harus inilah, itulah, aku tidak boleh ini, tidak boleh itu. Sekarang aku bebas! Ha ha ha.

"Kau sedang apa?"

Aku terlonjak, kaget. Siapa itu? Aku celingukan mencari sumber suara. Mataku memeriksa sekeliling. Sepi, tidak ada apapun tapi... suara siapa itu?

Tiba-tiba saja, aku merinding. Jadi, setan itu ada ya? Di jaman seperti ini? Siang-siang begini? Tanpa sadar aku memegang tengkukku yang sudah dingin. Aku takut.

"Bodoh, kau pikir di sini ada hantu?"

Aku menegang.

Itu suara Naresh.

Tapi dimana?!

"Aku di atas sini."

Aku mendongak, dan mendapati astagah! Sedang apa Naresh di atas sana?

"Kau.. sedang apa?" tanyaku mengulang pertanyaannya.

Dia berdecak, "Aku sedang mengawasi." Naresh menatapku tajam, "mengawasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang tidak mengerjakan tugasnya dengan benar."

Alisku bertaut, bingung. "Maksudmu..." aku mengarahkan jari telunjukku menunjuk hidung, "aku?!"

"Kau kenapa kemari?" dia bertanya lagi mengabaikan pernyataanku barusan. Tampaknya Naresh tidak ada niatan turun dari pohon itu.

Capek mendengak, aku memutuskan menatap arah lain, "Aku kabur." Aku mengaku.

"Kesini?"

"Iya, kesini." jawabku, lalu melanjutkan, "aku lelah, Pangeran." Aku menatapnya sesaat, "Kau tidak sibuk?"

Dia mengendikkan bahunya, "Aku.. pergi diam-diam."

Tawaku menyembur, "Jadi, kita dua orang yang sama-sama kabur lalu bertemu tanpa sengaja? Ahh.. Aku tahu, kau sedang bersembunyi ya?"

"Diamlah, Kirana."

Ada yang aneh saat Naresh menyebut namaku dan lebih aneh lagi karena diam-diam aku menyukainya. Rasanya asing karena orang-orang di dekatku lebih suka memanggilku Kira, tapi saat Naresh yang mengucapkannya kenapa rasanya pas dan utuh?

Kira's Time TravellerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang