Bab 24| Alasan

615 109 1
                                        

Bab 24

Alasan.







Dunia nggak bakal peduli sekalipun kamu merangkak berdarah-darah, jalan terseok-seok, berlari terpincang-pincang, dunia akan tetap egois terus berjalan, berputar, tanpa mau menengok kebelakang, tanpa mau menunggu, tanpa mau berhenti atau sekadar memberi jeda untuk kamu istirahat.

Dunia ini memang kejam, tidak adil.

Tapi, bukankah begitu permainan semesta?


Seakan tersadar dari keterpurukan, perlahan aku mendengak. Menghapus kasar air mataku yang sudah terlanjur kering di pipi. Menatap sebal pada baju yang teronggok di lantai dingin ini tanpa selera. Dengan perlahan, aku beranjak dari sudut ruangan pengap ini ke sudut lainnya.

Ada gentong berisi air, aku terdiam lama. Menatap pantulan wajahku. Yang kudapati hanya mata sayu sembab, riasan yang pudar dengan tidak rata lantaran terkena air mata, juga garis melengkung ke bawah di bibir. Mengenaskan.

Cepat aku membasuh wajahku, sekali, dua kali, tiga kali. Rasa segar air menyapu wajah, dingin. Tapi, ini lebih baik. Aku kembali mengambil kain kumal berwarna coklat lalu duduk di dipan keras beralasan tikar tipis. Menghela napas berat, perlahan tanganku melepas anting-anting, merapihkan rambut yang tadi digelung cantik, dan terakhir melepas semua pakaian ini, mulai berganti.

Jadi ini aku yang sebenarnya?

Hanya gadis dengan pakaian kumal kebesaran dengan sebuah julukan baru: pengkhianat.

Sempurna.

Mimpi apa aku semalam?

Tidak bisa dicegah, air mataku kembali tumpah ruah dengan hebat. Aku sesegukan, kesusahan mengendalikan diri. Setelah puas menangis, aku merasakan mataku memberat hingga sulit rasanya untuk tetap sadar, mungkin kelelahan. Aku tidak tahu lagi, tapi pandanganku menggelap, aku jatuh tertidur. Hal terakhir yang aku ingat adalah,

Bagaimana bisa Naresh melakukan ini padaku?








...








"Putri.."

"Putri Kirana.. Bangun Putri.."

Aku menggeliat mendengar suara yang tidak asing. Perlahan aku membuka kedua mataku, mendapati pemandangan yang sama, aku masih di penjara.

"Putri.."

Suara itu memecah keheningan, aku mengedarkan pandangan. Mendapati seseorang berjongkok di depan sel tahananku. Dengan perlahan aku bangun, sedikit pusing tapi memaksakan diri untuk menemui orang itu. Sedikit terkejut saat kaki telanjangku bersentuhan dengan lantai, dingin sekali. Badanku juga sakit semua.

Setelah sampai, aku mendapati Puri berjongkok membawakan nampan berisi makanan dan keperluanku. Aku berdiri di balik sel mengalihkan pandangan ke luar sel, enggan menatap Puri.

"Putri, saya bawakan keperluan Putri."

Mataku memanas, kenapa juga dia masih peduli padaku?

"Terima kasih." Sahutku pelan.

"Putri-"

"Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu, Puri?" potongku tajam. Aku bahkan tidak tahu aku bisa setega ini padanya.

Dia tersentak, "Ma-maaf. Tapi saya kemari ingin menjelaskan sesuatu Putri eh- maksud saya, Non Kirana."

"Kirana saja, derajatku bahkan lebih rendah dari siapapun."

Puri tidak menjawab lagi, selanjutnya aku hanya mendengar dia terisak-isak kembali. Aku masih bergeming, bingung harus melakukan apa. Satu sisi aku tidak tega membiarkannya menangis seperti itu tapi di sisi lain, aku tidak bisa walaupun sekadar berkata padanya bahwa aku baik-baik saja.

"Jika sudah selesai kau bisa kembali, Puri."

Setelah mengucapkan itu aku kembali ke dipan sekeras batu, kembali tidur dengan posisi memunggungi Puri yang masih terisak. Diam-diam air mataku kembali mengalir.

"Putri Kirana, maafkan saya, sa-saya tidak bermaksud mengkhianati Putri dengan mengatakan semuanya pada Putri Isvara. Put-Putri Isvara mengancam saya, dia akan membunuh semua keluarga saya jika saya tidak mengatakan apapun tentang Putri Kirana. Awalnya saya sudah berbohong tapi Putri Isvara tidak percaya, sam-sampai pada akhirnya sa-saya harus menceritakan semuanya, maafkan saya Putri.."

Aku terbelalak kaget mendengar pengakuan Puri, jadi Isvara mengancam Puri? Gadis itu benar-benar melewati batas.

Segera aku turun mendekati Puri, ikut berjongkok di hadapannya. Air mataku kembali mengalir, aku lega setidaknya Puri ada di pihakku, dia mempercayaiku.

"Puri.. Sudahlah. Aku tidak apa-apa." Ucapku sembari menenangkan Puri yang kembali terisak lagi.

"Tap-tapi ini semua karena saya, Putri berada di sini."

Aku memeluknya, walau sel-sel ini menyusahkan sekali.

"Dengar Puri," aku menatap mataya, tanganku menghapus air matanya, "cepat atau lambat, aku memang akan ketahuan, kau tidak usah merasa bersalah seperti itu. Jika aku ada di posismu, aku pasti akan melakukan hal yang sama."

Puri memelukku lagi, "Saya tidak menyangka Putri sebaik ini."

Aku tertawa mendengar pengakuannya, sebenarnya aku juga tidak menyangka. Tapi melakukan ini, memaafkannya membuatku lega.

"Kau jangan menyanjungku, kau mau aku besar kepala?"

Puri ikut tersenyum, "Putri, maaf. Saya tidak bisa berlama-lama. Saya diam-diam kemari."

Aku melepas pelukanku, mengangguk paham. "Sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini. Bagaimana kalau nanti kau ketahuan?"

Puri menatapku tenang, "Ada yang menjamin saya, Putri. Saya harus kembali sekarang, besok saya akan datang lagi." Pamitnya.

Puri buru-buru pergi dari sini, sebelum aku sempat bertanya tentang siapa yang menjaminnya? Hati kecilku bertanya, apa aku boleh berharap kalau itu Naresh?

Tidak tidak tidak!

Stop berpikiran yang enggak mungkin, Kirana!

Aku memandangi nampan bawaan Puri, ada selimut, makanan, juga kertas dan pena?

Kriukkkkkkk..

Tiba-tiba perutku berbunyi, sebaiknya aku harus makan sekarang.

Aku bahkan tidak memikirkan, Puri tulus apa tidak melakukan semua ini. Karena, aku memilih untuk mempercayainya.

Mungkin setelah ini, aku bisa menerima bahwa di sini tidak seburuk yang aku kira.[]






Kira's Time TravellerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang