Bab 7
Aku, Apel, dan Busur Panah.
Kalau dipikir-pikir Putri Isvara terlihat jauh lebih cantik dan berkharisma dari pada Dee yang kukenal. Tapi, ish! Aku bergidik membayangkan, Deeku saja mulutnya sudah super sadis apalagi jika dia gemar menampilkan mimik sinis setiap saat seperti Putri Isvara.
Aneh sekali, kenapa orang-orang disini begitu mirip dengan orang-orang terdekatku dengan kepribadian yang begitu bertolak belakang. Ampun deh! Kalau begini aku lebih memilih dihukum saja saat Sejarah. Omong-omong aku juga rindu delikan Bu Maryam.
Aku menghentikan lamunanku saat pintu kamarku diketuk. Hem apakah itu Puri? Aku beranjak dari tempat tidurku untuk membuka pintu.
"Baiklah, tunggu sebentar." Jawabku saat mendengar pintu kembali diketuk. Ish! Pakaian ini serius deh ribet banget! Demi apapun jika bukan karena aku berada disini aku ogah memakai jarik ini.
"Ya ada apa Pur-" ucapanku tertelan kembali saat yang berdiri di hadapanku bukan Puri.
"Pangeran Naresh?"
Dia memandangku dua detik lebih lama dari seharusnya, "Ikutlah denganku."
Setelah mengucapkan dua kata yang dipenuhi perintah itu dia kemudian berbalik. Aku yang memang belum hafal dengan dena istana mencoba mengimbangi langkahnya yang super cepat. Ahh rok sialan!
Tanganku hendak mengangkat sedikit rok yang menghalangi jalanku sebelum sebuah suara kembali terdengar.
"Jangan menyibak rokmu Kesara,"
Aku terkesikap, "Eh? Tapi kalau tidak begitu, aku jelas kesusahan mengikuti langkahmu."
Mendengar jawabanku Pangeran Naresh menghentikan langkahnya begitupun aku. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah barusan aku sudah melakukan kesalahan?
"Mengapa kau tak ingatkan aku?" kini Pangeran Naresh bahkan sudah berbalik arah menatapku tajam.
Sadar bahwa ia seperti menunggu jawabanku, aku segera menjawab. "Bolehkan begitu?" cicitku lirih.
Dia tersenyum kecil, "Boleh,"
Astagah! Demi Tuhan, senyumnya.. Ah bagaimana ya aku menjelaskannya. Seperti madu cair. Manis!
Sial! Sebenarnya apa hubungan Kesara dan Naresh?!
"Pangeran Naresh, sebenarnya kita hendak kemana?" akhirnya aku berani bertanya juga. Aku gugup setengah mati tahu!
"Ikutlah dan kau akan segera tahu."
Setelah berkata begitu Pangeran Naresh kembali berjalan, kali ini tidak secepat sebelumnya. Diam-diam aku tersenyum sambil menatap punggungnya.
"Perhatikan langkahmu, Kesara."
Ah sial kuadrat! Bagaimana dia bisa tahu? Bahkan Naresh tidak melihat ke arahku! Dalam hati aku merutuki kebodohanku. Jual mahal sedikit kenapa sih, Kirana?!
Selama berada setengah hari disini aku belum kemana-mana selain kamar-ruang makan-kamar lagi. Jadi untuk mengisi keheningan aku memutuskan untuk melihat-lihat keraton ini. Dindingnya terbuat dari batu bata merah, di setiap akan memasukki ruangan baru akan ada gapura yang dijaga dua prajurit dan lantainya terbuat dari batu pualam yang akan bercahaya bila malam tiba. Setiap beberapa belokan juga di tembok-tembok terdapat patung naga entahlah gunanya apa mungkin juga itu adalah sebuah lambang, sekali lagi aku nggak tahu.
Kami berbelok, setiap ruangan juga dijaga oleh prajurit yang membawa tombak, dan setiap para keluarga karajaan ini lewat mereka akan menunduk, astagah aku seperti orang penting saja. Lalu kami tiba pada sebuah tanah lapang yang sudah berada beberapa orang kerajaan. Aku tahu, sebab dari pakaian yang mereka kenakan itu sudah menjelaskan semuanya. Jika para prajurit mengenakan celana hitam sedikit di bawah lutut diikuti dengan jarik sebagai pelengkap, juga rompi entahlah gunanya untuk apa karena tubuh bagian atas pun masih terlihat jadi tidak ada gunanya bagiku karena kalau dingin mereka pasti juga akan tetap kedinginan.
Lalu di bagian kepala di beri ikat kepala, oh satu lagi mereka tidak menggunakan alas kaki, wah wah wah, taruhan deh Bu Maryam akan menangis darah dan memohon untuk berganti peran, seperti apa ya rasanya jika Bu Maryam betulan memohon-
"Hei, kau melamun Kesara?"
Aku terkejut saat kepalaku ditahan dengan telapak tangan Naresh, astagah tangannya berada di dahiku menahan supaya aku tidak terbentur tembok. Dia manis sekali. Diam-diam aku merutuki kebiasaan melamunku yang ternyata sudah akut.
"Eh?"
Dia melepaskan tangannya yang hangat dari kepalaku, "Kau tidak apa kan Kesara? Melamun bukan kebiasaanmu."
"Oh maaf aku melamun dan yah aku tidak apa-apa Pangeran Na-"
"Jika sedang berdua denganku, Naresh saja. Bukankah aku sudah memberitahumu? Kita sudah berlatih untuk itu. Lupa juga bukan tabiatmu, Kesara."
Mati aku! Ternyata Putri Kesara super sempurna. Bagaimana aku bisa memerankannya dengan baik?
"Maaf aku-"
"Sudahlah, ayo masuk. Ingat, fokus Kesara."
Huh! Aku diam-diam menahan napas saat sedang bersama Naresh. Kemudian mengikuti Naresh masuk ke tempat latihan memanah mungkin? Disini banyak orang memegang busur panah termasuk Naresh yang tengah mengambil busur panahnya. Dia kelihatan dua kali lipat lebih tampan jika sedang seperti itu.
Omong-omong untuk apa Naresh mengajakku kemari?
***
"Fokus Kesara!"
"Jangan bergerak berlebih!"
"Kesara, lepaskan tanganmu dari kepala itu!"
"Diam adalah kuncinya, bernapaslah seperti biasa. Aku akan memulainya."
Aku mati!
Aku pasti akan mati!
Naresh yang kukira pangeran charming ternyata punya jiwa psikopat! Bahkan dia tidak malu menjadikanku tontonan para bawahannya. Dia juga tidak segan membentakku ketika aku melakukan kesalahan yang jika kuhitung-hitung sudah kesekian kalinya.
Kejam!
Aku memejamkan mata saat Naresh mulai menarik busurnya yang sebentar lagi akan ditembakkan kepadaku. Aku memejamkan mata rapat, dalam hitungan detik aku merasakan buah apel merah itu menggelinding ke kakiku. Aku nyaris berteriak heboh bahwa-baru-saja-selamat-dari-kematian-ini lalu aku ingat bahwa aku bukan lagi Kirana tapi Kesara si cewek super sempurna. Dan cewek super sempurna ini tidak akan berteriak heboh.
"Hei, bernapaslah."
Mendengar suara itu aku refleks membuka mataku, di depanku tampak Naresh yang tersenyum geli melihat tampangku yang konyol, kurasa sih begitu. Tapi senyum itu tak lama, saat tiba-tiba saja tubuhku limbung dan semuanya menjadi gelap.
Aku pingsan.[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Kira's Time Traveller
FantasyAda banyak hal di dunia ini yang Kirana benci. Tapi, posisi nomer satu diambil oleh Pelajaran Sejarah juga Bu Maryam guru sejarahnya, lantaran Kira selalu kena hukum. Pokoknya Kira benci Sejarah. Selain Sejarah, nomor kedua yang dibencinya adalah Ma...
