Bab 19| Diluar Dugaan

656 121 0
                                        

Bab 19

Diluar Dugaan.








"Jadi aku benar? Lalu....." Dia menatapku lekat.

"Dimana Putri Kesara?"

Glek.

Aku menelan ludah susah payah. Tahu rupanya saja enggak. Bagaimana aku tahu dimana dia sekarang?

"A.. Aku.. Maaf.. Aku tidak tahu." Cicitku lirih sekali.

"Jadi benar kau bukan Kesaraku?"

Aku menunduk dan memejamkan mata. Entah kenapa seperti aja yang menonjok wajahku saat Naresh menyebutkan 'Kesaraku'. Aku tahu ini tidak masuk akal tapi tetap saja sakit mendengarnya.

Apakah aku sudah menyukai Naresh lebih dari yang seharusnya?

"I.. Iya."

Aku tahu, aku sudah kalah.

Naresh mendengus tidak percaya. Ya, siapa yang tidak kecewa saat tahu dirinya sudah ditipu habis-habisan? Naresh masih mau berbicara padaku saja aku sudah bersyukur.

"Jadi siapa kau sebenarnya?"

Aku memberanikan diri mendongak membalas tatapan tajamnya, "Janji kau mau dengar dan percaya padaku?"

"Aku memang harus dengar, dan percaya padamu? Kau yakin aku masih bisa menaruh percaya padamu?"

Aku nggak tahu kenapa, tapi aku sakit sekali mendengarnya. Dia memperlakukanku tidak lebih dari seorang penipu. Sikapnya yang masih mau berbicara dan mendengar penjelasanku tak lain hanya untuk menilai seberapa besar kesalahanku. Baiklah kalau begitu, aku akan mengaku padanya.

....

"Kau cucu Sambodo?"

Aku mengangguk sebagai jawaban. Kami berdua sedang duduk berhadapan. Seperti penjahat yang tengah dihakimi. Aku lagi yang berperan menjadi penjahatnya, ck!

"Dia menyuruhmu?"

"Aku sudah bilang kan, kakekku itu tidak ada hubungannya dengan ini semua. Aku.. Aku kesini atas kebodohanku. Dia tidak bersalah." Jelasku lagi.

Aku bahkan sudah menjelaskan dari awal hal ini padanya, dia kenapa keras kepala sekali sih?! Tapi mengenai kakekku itu, aku betulan takut kalau kelakuanku ini membahayakan nyawanya. Aku takut kakek ikut disalahkan atas perbuatanku.

"Dia bersalah." Naresh mendengus lagi, "Bagaimana bisa dia hidup bahagia setelah apa yang dilakukannya? Ayah keliru memberi hukuman."

Kini aku menatapnya tidak percaya, "Kau mau bagaimana? Kakekku terus menghukum diri sendiri dan tidak mau melanjutkan hidup, begitu?"

Aku tahu aku sudah kelewatan. Tapi, ucapannya barusan menyentil emosiku. Aku tidak percaya dia punya sisi kejam tidak manusiawi seperti itu.

"Kau membelanya? Kau tahu apa yang sudah dia lakukan pada negeri ini dia-"

"Aku tahu," potongku kurang ajar.

"Dia mengkhianati negerimu 'kan? Aku tidak tahu apa yang kakekku itu lakukan tapi satu yang aku tahu, kakekku hanya mencintai, Pangeran. Apakah cinta juga harus dihukum?" jelasku sedikit terengah-engah.

Itu juga yang sedang aku lakukan, jatuh cinta padamu, bodoh!

Naresh terperangah mendengar ucapanku, "Apa kau pikir mengkhianati negeri adalah hal sepele?"

"Aku tidak bilang begitu, tapi kakekku ini sudah menebusnya, kau tahu dia dihantui rasa bersalah seumur hidup dan diusir dari tanah kelahirannya secara tidak hormat. Apa itu masih kurang bagimu?"

Kira's Time TravellerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang