Setelah setengah jam berlalu, dokter yang menangani Shea keluar dari ruangan tersebut. Berjalan mendekat ke arah Nathan yang masih setia menunggu dengan tanpa Rama dan Umar yang sudah pulang beberapa menit yang lalu.
“Siapa keluarga dari pasien?” tanya sang dokter.
“Saya dok.” Jawab Nathan seketika berdiri menghadap dokter itu.
“Jadi begini, Pasien mengalami hipotermia. Anda sudah benar membawanya datang tepat pada waktunya. Kami sudah mencoba menstabilkan suhu tubuh pasien walau ada sedikit kendala karena jantungnya yang sempat melemah dengan suhu badan yang mulai sedikit menurun karena kedinginan. Tapi sekarang kondisi pasien sudah mulai stabil jadi anda bisa melihatnya. Mungkin beberapa jam kemudian ia akan bangun. Jadi anda tidak perlu khawatir”
“Terima kasih dok.”
“Iya sama-sama. Kalau begitu saya permisi.”
Tanpa menunggu waktu lagi, Nathan membuka pintu dimana Shea tertidur dengan selimut tebal yang melingkupi tubuhnya dengan selang pernafasan dan infus yang menempel di punggung tangan Shea.
Sekali lagi, hatinya berdenyut nyeri. Mengapa bukan ia saja yang merasakan sakit ini, mengapa harus Shea? Apa tuhan lebih suka menyakitinya lewat Shea?
Ia maju, berjalan lebih dekat ke arah dimana Shea terbujur lemas dengan mata yang setia tertutup. Memegang tangan mungil yang terbebas dari selang infus itu ke dalam genggamannya dan satu tangan lainnya mengelus rambut Shea yang sudah kering.
“Aku disini.” tangan Nathan turun untuk mengelus pipi dingin Shea.
“Tapi kenapa kamu masih dingin."
“Aku juga udah hubungi kakak kamu, tapi maaf dia tidak bisa datang malam ini karena dia sedang ada tugas keluar kota. Mungkin besok pagi kak Sean baru bisa datang lihat kamu. Kamu gak perlu sedih, karena aku masih dan akan tetap disini jagain kamu.”
Nathan memegang erat tangan Shea, ia tak pernah menyangka bakal berhubungan dengan gadis ini. gadis yang berbeda seratus delapan puluh derajat darinya. Gadis yang tanpa sengaja sudah merebut sepenuh perhatiannya dan seluruh ruang yang ada di dalam hatinya.
Ia sangat bahagia bisa mengenal dan menggandeng tangan Shea, ia bisa merasa tenang jika gadis ini memperlihatkan senyuman manis andalannya. Nathan sangat menyukai itu, menyukai seluruh yang ada pada diri Shea.
Ia bersyukur bisa merasakan kebahagiaan yang sederhana bersama Shea.
Tapi apa sekarang? Karena ulahnya, Shea hampir merenggut nyawa. Bodoh, bisa-bisanya ia tak sadar jika sudah terjadi hal buruk pada gadisnya. Lain kali ia tak akan seceroboh ini. Tak akan membiarkan Shea terluka lagi bahkan pergi darinya, tak akan pernah.
“Udah malam, kamu gak mau bangun? Aku nungguin kamu, harusnya kamu hargai waktuku buat nungguin orang yang sedari tadi hanya tiduran kayak kamu.” Kekeh Nathan setelahnya.
Ia berusaha mengajak Shea berbicara agar gadis itu cepat sadar.
Dari arah belakang, pintu di buka secara tiba-tiba oleh seseorang.Nathan membalik badannya dan seketika mematung melihat lelaki itu.
Dia datang? Kemana saja ia selama ini? lupa jika mempunyai kewajiban untuk menjaga seorang anak?
Ketika Nathan melihat seliut Dhani—ayah Shea—berdiri mematung melihat gadis yang tak berdaya ini, ia kesal begitu pun bahagia karena Dhani bisa datang melihat putrinya.
Rasa sesak itu sedikit mulai kikis ketika tahu Dhani sedang menitikkan air matanya. Ia senang bahwa Ayah Shea masih khawatir pada Shea. Terlihat sekali bahwa seorang ayah itu sedang dalam keadaan sedih.

KAMU SEDANG MEMBACA
VILAIN
Teen FictionANTI 21+! Gak ada adegan dewasanya! Cerita ini berlaku untuk semua kalangan. Shea adalah cewek bar-bar dan tukang bikin masalah dengan segudang masalah. Tapi karena salah satu masalahnya, tanpa sengaja dia mengenal seorang lelaki tampan di sekolahny...