BAB 26 (Bertahanlah)

414 14 1
                                    

Shea sudah putus asa. Iya, sangat putus asa kala suhu di tubuhnya semakin rendah. Bahkan kakinya yang terasa lemas sekarang kaku membeku dalam kedinginan. Ia takut, sangat takut jika tak ada yang menemukannya di dalam sini.

Sedetik kemudian Shea berhenti menggedor dan memanggil nama lelakinya. Berhenti mencari pertolongan, semua sia-sia. Tak akan ada yang bisa menemukannya di dalam bilik kecil dan gelap ini. Ia sudah pasrah.

Shea mengingat orang-orang yang ia sayang. Ayah, Kak Sean, sahabat-sahabatnya dan Nathan. Lelaki yang selama ini menghiasi hari-harinya. Memberi semangat, melindunginya dengan membumbui sedikit rasa kesal secara bersamaan. Tapi Shea bahagia di perlakukan Nathan dengan istimewa, ia merasa disayang dan dicintai.

"Shea! Kamu dimana?!"

Sedetik setelahnya, jantung Shea terasa hangat kala mendengar suara lelakinya dari luar. Mungkin ia sudah halu dan menghayal yang macam-macam.

"Shea!! Tolong, kamu dimana shea!!"

DEG

Itu suara Nathan, dia ada di sini?

"Tuhan!!" teriakan itu ada lagi dari luar sana. Terlihat sangat frustasi dari nadanya yang sedikin bergetar.

"Nat-than..." panggil Shea sekuat mungkin. 'tolong aku Nathan... aku disini! Aku menunggumu...' batin Shea histeris semakin mengeluarkan air matanya lebih banyak.

"Nathan... tolong... hiks... hiks..."

"Shea!! Itu kamu?!"

'Iya ini aku!!' teriak Shea dari dalam hatinya.

Sampai Nathan menemukannya dan memeluknya dengan erat saat kegelapan itu sudah melekat...

'Kamu menemukanku...'

***

Rama yang melihat pemandangan luar biasa dari layar di depannya, membuka mulutnya menganga tak percaya jika sahabatnya sudah dewasa dan mengerti hal seperti itu. Buru-buru ia mendial nomer Umar.

"Lo cepetan kesini! Keruang CCTV cepetan!! Penting!" sergah Rama sebelum Umar berhasil membuka mulutnya dan mematikan panggilan itu setelah berhasil berucap pada sang empunya di sana.

"Gila..." ucap Rama yang masih tak percaya.

Tak membutuhkan waktu lama, Umar pun membuka pintu ruangan itu dengan cepat karena posisinya tadi tak jauh dari lokasi yang disebutkan Rama padanya

"Apaan lo nyuruh gu-WHAT THE..." bungkam Umar pada mulutnya sendiri, melihat Nathan sedang mencium Shea yang berada di bawahnya dari layar CCTV yang berada di atas luar toilet perempuan.

"Ini..." ujar Umar terhenti.

"Ciuman." Lanjut Rama.

"Shea pinsan goblok! Dia lagi ngasih napas bantuan ke Shea. Ayo kita tolong!" Umar yang tersadar jika Shea tak sadarkan diri langsung berbalik akan pergi untuk menyusul Nathan kesana.

Sebelum itu terjadi, tangan Rama menariknya.

"Ehhh.... Biarin, gue percaya Nathan bisa. Mending ini kita hapus dulu rekaman CCTVnya terus ke parkiran nunggu Nathan." Ucapnya menenangkan Umar.

"Kalo Shea gak bangun? Nathan masuk penjara dong?!"

"Pala lo!" geplak Rama pada puncak kepala Umar. "Mending lo kabari temen-temen yang masih cari Shea. Suruh mereka turun."

"Aishh... iya iya." Umar menghubungi ketiga temannya yang masih mencoba mencari Shea untuk berhenti dan turun ke parkiran.

***

VILAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang