Pertentangan

1.5K 176 45
                                    

halooo kalongers! ciieeee besok udah senin aja. udah gak usah keluar, di rumah aja. jangan menuh-menuhin jalan. hahaha.

ingat! jangan lupa menghujat manis di kolom komentar!

"Mengapa kau tidak mati saja saat kecelakaan?"

Orang tua mana tidak luluh-lantah mendengar kalimat mematikan dari bibir anak sendiri? Anak yang susah-payah ditemukan dan diajak pulang. Seberapa susah?

"Chaeyoungie? Apa yang mengotori hatimu sampai berkata begitu pada appamu sendiri, Nak? Jika tidak lumpuh, maka pasti Appa sendiri yang datang mencarimu."

"Aha? Jangan membuat lelucon! Faktanya Appa tidak pernah mencariku. Sedikit nafkah pun tidak Appa berikan sejak meninggalkan Seoul dan kami. Mengapa? Takut saham dan seluruh investasi berkurang karena menghidupi dua orang yang bahkan hanya mengharapkan kasih sayangmu? Takut kehilangan harta warisan karena memilih kami?"

Rose mendesis sembari menyorot tajam tak kenal takut. Urat-urat leher mengencang berpadu rahang mengeras. Dikeluarkan cek pemberian Jisoo dan tak segan-segan melempar ke pangkuan ayahanda.

"Aku tidak mau uangmu!" pekik Rose. "Ambil kembali uang-uang itu karena tidak dibutuhkan sama sekali. Asal kau tahu, lidahku keluh memanggilmu 'Appa'. Kau tidak layak mendapat panggilan hormat dari anak yang sudah ditelantarkan! KARENA DIRIMU TIDAK LEBIH DARI BAJINGAN SEPERTI DI LUAR SANA?"

"Rose? Apa yang kau bicarakan?" sentak Jennie berdiri belasan meter dari belakang kursi roda Yoochun.

Bukan pertama kali Jennie melihat Rose marah perihal keluarga. Dia pun tahu bahwa alasan kepulangan Rose semata-mata demi mendapat uang untuk membantu Jisoo. Namun, tak menyangka sang adik akan mengatakan ucapan pedas barusan. Sebegitu tidak bisa dimaafkan perbuatan Yoochun dulu? Ataukah cek pemberian Jisoo menjadi kekuatan dan alasan Rose berani melawan ayah sendiri?

"Aku tidak mau tinggal di rumah yang sudah mengusir ibuku. Jangan pernah mencariku kecuali kau pergi menemui ibu di surga!" bentak Rose menendang kursi roda hingga sang ayah terjungkal ke samping.

Braakk! Bukk!

"Rose, kau keterlaluan!" marah Jennie berlari menghampiri tubuh adik ibunya. Seorang penjaga pun turut berlari ikut memapah.

Rose sama sekali tidak peduli dan langsung angkat kaki ke dalam melewati pandangan beberapa pegawai yang menyaksikan perseteruan tadi. Tak terkecuali nenek yang sempat berseru dan setengah menangis melihat putranya jatuh atas ulah cucu sendiri. Namun, lagi-lagi Rose tidak mau tahu.

Dia terus berjalan ke kamar. Meraih tas jinjing untuk membawa seluruh dokumen dan pakaian seadanya yang benar-benar hasil keringat sendiri. Rose tak mau menyentuh koper, ransel, slimbag, pakaian, atau apapun hasil uang keluarga Park. Dalam benak hanya ada kalimat, 'tidak peduli hidup susah bahkan menggelandang sekalipun. Itu jauh lebih terhormat daripada hidup dalam naungan orang-orang yang sudah menyakiti ibu.'

"PARK CHAEYOUNG!"

Seruan Park halmeoni menggelegar di seisi rumah terlebih kamar Rose. Wanita yang sudah membuat keributan pun tak gentar sama sekali. Dia berjalan tenang menenteng tas menuruni anak tangga. Nenek, ayah, Jennie, dan seluruh pekerja sudah berdiri di luar memberi aneka pandangan. Marah, sedih, kecewa, dan bingung karena beberapa dari mereka tidak mengerti apa yang sudah terjadi lebih-lebih tidak paham bahasa korea. 

"Anak kurang ajar dan tidak tahu diuntung!" hujat Park halmeoni menunjuk wajah Rose yang semakin mendekat. "Sudah syukur berada di rumah ini, tapi malah membuat kekacauan. Kau sama sekali tidak mencerminkan keturunan Park."

Be With YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang