Malam... selamat membaca 🧘
Kina bangkit, dia harus ke apotik buat Nebus obat satria. Dia mengambil tasnya namun saat ingin bangun, "jangan pergi." Tangan satria memegang pergelangan kina, lelaki itu menahan kina untuk tidak pergi. "Aku tak suka sendiri." Perlahan satria pun membuka matanya, kina hanya diam mematung, bahkan untuk bernafas saja sangat susah. Dia menatap tangannya yang di tahan.
"Temani aku, sebentar saja." Kina mengerjapkan matanya saat melihat tatapan satria yang memohon padanya. Dia mengangguk patuh tanpa mengucapkan sepatah katapun. Satria tersenyum, dia kembali memejamkan matanya. Kina hanya diam memandangi satria.
"Emm...app..apa rasanya sakit?" Sangat menguras tenaga, hanya ingin menanyakan keadaannya membuat dia seperti berlari maraton, kina terus menatap satria takut-takut. Satria melirik dan mengangguk, "benar-benar sakit."
"Kenapa kamu tidak menghindar? Aku yakin kamu tahu itu." Satria mengangguk lagi.
"Kepalaku sedikit sakit saat itu, sehingga aku tidak fokus."
"Kau harus istirahat." Satria menganggukkan kepalanya.
Kina terdiam lagi, dia bingung mencari topik pembicaraan. Kina memainkan kertas resep yang diberikan perawatan tadi. "Hmm sat.." satria berdehem. "Aku harus ke apotik, tadi perawatan.." satria menoleh.
"Ya pergilah.." ucap satria, kina kaget dia pikir satria akan menahannya. Kina mengangguk dan bangkit dari sana. Kina pun pergi namun baru selangkah, kina pun menoleh kembali karena ucapan satria.
"Kamu akan kembali kan?...pacar?" Satria tersenyum menggoda. Kina yang dibilang seperti itu pipinya bersemu merah, wajahnya seketika sangat panas. Kina langsung pergi begitu saja, sedangkan satria terkekeh geli.
"Sekarang aku ingat."
....
"Pacar? Apa tadi satria bilang pacar?" Wajah kina memanas dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya kina senyum senyum tak jelas. Bahkan kini dia berjingkrak-jingkrak. Rasanya dia ingin waktu berhenti saat ini. Ini sungguh tak baik untuk kesehatan jantung nya.
Kina pun menuju apotik, disana dia memberikan resep obat yang diberikan kepadanya. "Nih mbak..mau Nebus obat ini." Kina menunggu di ruang tunggu, dia tak sabar dan kembali bertemu dengan satria.
Nomor antrian kina di panggil, kina mengambil obat itu. "Makasih mbak."
Kina dengan cepat kembali ke ruang kesehatan bertemu dengan satria. Sepanjang jalan tak hentinya dia tersenyum. Bahkan dia sampai lupa bahwa permasalahan nya sangatlah banyak, semua bagaikan menguap begitu saja.
Kina mengetuk ruang rawat satria, kemudian kina pun masuk. Disana satria sudah kembali tertidur. Kina mendekat dan duduk disana, kina menaruh obat itu. Tak lama satria membuka matanya.
"Kamu kembali?" Kina mengangguk.
"thanks." Ucap satria.
"Untuk?" Kina bingung, untuk apa? Dia hanya menebus obat saja.
"Untuk cake cokelat mu." Ucap satria. "Emm..mamah sangat suka, dan memintamu untuk datang ke rumah." Kina menunjuk dirinya sendiri, "aku?"
"Hmm..kamu, mamah minta kamu buat ajarin dia buat kue itu kamu mau?"
"Ya..aku mau."
"Terimakasih pacar." Ucap satria. Kina mengerutkan dahinya, "bukannya kamu mengaku pacarku di depan perawat tadi?" Satria menatap kina, membuat kina salah tingkah, dia malu. "Maaf, tidak bermaksud. Aku..aku hanya ingin melihat keadaan mu."
"Tak masalah."
"Pulang kampus kita pulang bareng.. nanti aku tunggu kamu di depan gerbang."
"Hari ini?"
"Kenapa? Apa tidak bisa?"
"Sebenarnya aku harus kerja."
"Apa tidak bisa izin satu hari." Kina menimbang, dia membuka ponselnya dan meminta izin kepada bosnya untuk tidak masuk hari ini.
"Ok." Kina mengangguk, satria tersenyum.
"Aku belum tau nama kamu.?"
"Kina."
"Hmm..okay, pulang ngampus aku tunggu."
....
Seperti perjanjian, satria menunggu kina di depan gerbang, dia juga sudah meminjam helm pada temannya. Satria melambaikan tangan saat melihat kina yang berjalan keluar. Kina menghampiri satria.
Kina menatap motor satria yang lumayan tinggi, "kenapa?"
"Kita naik ini?"
"Kenapa?"
"Tidak..hanya saja, tinggi banget, aku sedikit sulit naik." Ucap kina tak enak. Satria terkekeh, dia pikir kina menolak karena naik motor.
"Nih pake dulu helmnya." Kina menerima helm tersebut, tanggan satria terulur. Kina bingung. "Pegangan tanganku kalau kamu takut jatuh." Ucapnya.
Kina pun memegang tangan satria untuk membantu nya naik. Setelah itu motor satria pun melaju pergi.
...
Di sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara, kina menatap tangannya yang dua kali bersentuhan dengan tangan satria. Dia tersipu malu saat mengingat kejadian itu.
Tak terasa motor satria berhenti, kina menatap sekitar. "Sebentar ada yang mau aku beli." Kina pun turun.
"Mau nitip?" Kina menggeleng.
Kina pun menunggu tak begitu lama satria pun keluar. "Bahan buat kue." Dia mengangkat kantung belanjaan nya.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang.
....
Sesampainya di rumah satria memarkirkan motornya, dia menarik kina untuk cepat masuk, dia jamin mamahnya akan menyukai ini. "Mah.." teriaknya memanggil sang mamah.
Alma yang sedang di dapur pun keluar. "Ada apa nak.."
"Coba tebak aku ajak siapa?"
"Ya mana mamah tau..kan kamu belum kenalin dia." Ucap mamahnya, kina hanya diam memperhatikan interaksi anak dan ibu, sesekali dia akan tersenyum saat lestari menatapnya.
"Mamah aku bawain pembuat cake terenak." Satria melirik kina, kina yang di perkenalkan pun tersenyum dan bersalaman.
"Kina tante."
Semoga gak bosen ya karena aku up lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not perfect
Dla nastolatkówsequel the fat dreams. "apa jika aku cantik aku bisa berada di dekatnya?" wanita itu memandang lelaki yang tengah duduk tenang di taman kampus sambil membaca sebuah buku.
