Assalamualaikum, malam semua..
Selamat membaca, ahh ditunggu komentarnya 😘
“coba jelasin kenapa lo bisa sampe diganggu sama cewek gila itu?” kina menggelengkan kepalanya tak tahu, kina merapikan pakaiannya yang basah. Danu mengambil jaket di dalam tasnya dan memakaikannya kepada kina.
Kina menatap danu, “nu..menurut lo gue jelek banget ya?” danu yang sedang menutup tasnya pun menatap kina, memperhatikan sahabatnya, tangan danu terulur merapikan anak rambut yang berantakan danu tersenyum. “lo tuh cantik, dan hal yang terpenting..” tangan danu menggengam tangan kina dan menaruhnya tepat di atas dada kina, “…hati lo juga cantik, dan itu yang buat gue sayang sama lo. Kin.. inget lo gak sendiri, ada gue disini.” Ucap danu tulus.
Kini mereka sudah ada di gor basket, sore ini ada pertandingan basket antara anak ekonomi melawan anak akuntansi, seperti biasa danu, satria, tapi kali ini yusuf tidak bisa ikut karena dia masih ada kelas sore ini. Kina duduk di kursi penontan paling atas, dia menonton pertandingan itu dan itu akibat permintaan dari danu yang ingin ditemani.
Mata kina terus menatap lurus lelaki yang tengah bermain dibawah sana seulas senyum terukir indah di wajah gempal kina, entah reflek atau apa kina pun merogoh tasnya dan mengambil kamera yang selalu dia bawa namun entah mengapa kina mengurungkan niatnya untuk mengambil kamera tersebut kina memutuskan untuk menikmati pertandingannya saja.
“apa aku harus melupakanmu?” ucap kina sambil terus menatap satria yang terus bermain basket disana. “kedekatan kita kemarin benar-benar seperti mimpi, dan kalau bisa memilih aku gak mau bangun.” Lanjut kina.
“kenapa harus melupakan?” kina menoleh, dan mendapati yusuf yang tengah duduk disampingnya sambil menatap lurus pertandingan dibawah sana. Yusuf menoleh ke kina mengangkat sebelah alisnya.
“siapa yang mau kamu lupakan? Satria atau danu?” kina tak menjawab, dia memalingkan pandangan dari yusuf ke pertandingan. Yusuf mengikuti arah pandang kina, kemudia yusuf pun tersenyum. “satria? Benar bukan.” Dan itu membuat kina kembali menoleh dan mendapati yusuf yang tersenyum lebar ke arah kina.
“dia lelaki yang baik, menurutku. Lalu mengapa harus melupakan? Apa kalian menjalin sebuah hubungan?” kina tak menyangka kalau yusuf bisa secerewet ini.
“kenapa malah ngeliatin aku?”
Di bawah sana satria menoleh ke atas mendapati kina yang duduk berdua dengan..yusuf? satria mengeratkan rahangnya saat mendapati ada laki-laki lain yang bisa dekat dengan kina. Satria yang kesal melempar bolanya dengan asal sehingga mengankibatkan bola terlempar jauh. Danu yang melihat satria bertanya, “lo kenapa?”
Dengan kesal satria pergi dari pertandingan tersebut, “gue cabut.” Danu dan yang lainnya menatap bingung kepada satria yang tiba-tiba memutuskan untuk pergi, namun danu mengerti saat mendapati kina yang tengah ngobrol bersama yusuf diatas sana.
“jadi gara-gara lo kin.” Danu tersenyum tak menyangka, bahwa sahabtanya ini bisa merubah sikap tenang satria saat bermain menjadi tak karuan.
Karena kepergian satria akhirnya pertandingan dihentikan. Danu menghampiri kina dan yusuf yang asik berbincang, entah apa yang mereka bincangkan. Yusuf menoleh mendapati danu yang berjalan menghampiri mereka. “ko udah selesai?” Tanya yusuf.
Danu cuman mengangkat bahunya, sementara kina mengedarkan pandangannya mencari satria, “satria udah balik.” Jelas danu karena melihat kina yang mencari keberadaan satria. Kina terlihat lemas, kemudian mengangguk, “pulang yuk.” Ajak kina, danu pun mengiyakan.
Mereka pun bangkit dan meninggalkan gor itu, yusuf memutuskan untuk pamit, dia harus ke perpus kampus ada buku yang ingin dia pinjam. Sementara danu dan kina pun bergegas menuju parkiran.
Di perjalanan yusuf bertemu satria, yusuf tersenyum dan melambaikan tangan pada satria. Namun satria malah menatap yusuf dengan amarah satria dengan cepat langsung memukul tepat dirahang yusuf. Yusuf yang diperlakukan itu bingung, dia memegang rahangnya yang nyeri karena pukulan satria.
“lo kenapa sih sat?”
“jauhi kina!” ucap satria kemudian pergi, namun yusuf menahan satria. “maksud lo? Gue deketin kina? Apa hak lo ngelarang gue dekat dengan siapa? Emang kina siapa lo? Pacar? Istri? Bukankan..jadi lo ga bisa ngelarang gue buat deket dengan siapapun.”
Satria tak menjawab, dia masih kesal dengan kejadian di gor, dimana kina yang terlihat bahagia dekat dengan yang lain. “kalo emang lo sayang dan cinta, perjuangkan.” Yusuf meninggalkan satria.
Satria terdiam dia memukul dinding di sampingnya menyalurkan kekesalannya. Yusuf benar harusnya dia mencoba untuk dekat bukan malah menghindar seperti ini.
Sementara kina diperjalanan hanya memeluk danu dari belakang, kina tak ingin mengatakan apapun dan danu yang paham akan itu membiarkannya.
Danu menepikan motornya di warung lesehan, “ko berhenti?” Tanya kina.
“gue laper.” Kina mengangguk kemudian turun.
Danu mengajak kina makan lesehan dipinggir jalan. “bu batagornya dua ya sama es teh manisnya satu yang satu lagi es teh tawar.”
Sambil menunggu danu menatap kina. Kina yang di tatap menjadi bingung. “sok ceritakeun.”
“apa yang mau diceritain?”
“semua..lo tau kenapa tadi pertandingan kelar lebih cepat?” kina menggeleng tak tahu.
“karena satria cemburu liat lo berduaan sama yusuf.” Ucap danu, kina yang mendengar itu terkekeh. “gak mungkin lah nu..satria itu..satria itu..” kina menggantungkan kalimatnya.
Danu menunggu kalimat setelahnya. Kina berusaha untuk menguatkan hatinya, dia menarik nafas kemudian membuangnya dengan kasar. “Dia suka cewek lain dan dia cinta banget sama cewek itu nu.”
“lo kata siapa?” Tanya danu penasaran.
“dia yang bilang sendiri ke aku. Malam itu.. jadi aku udah mutusin buat mengubur perasaanku nu.” Ucap kina, tak lama pesanan mereka datang kina memakan batagor tersebut, sementara danu hanya memandang kina yang tengah makan, danu merasakan kesedihan yang mendalam pada kina. Tapi mengapa satria kesal saat melihat kina sama yusuf tadi, itu lah yang ada dipikiran danu saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not perfect
Fiksi Remajasequel the fat dreams. "apa jika aku cantik aku bisa berada di dekatnya?" wanita itu memandang lelaki yang tengah duduk tenang di taman kampus sambil membaca sebuah buku.
