Bab 24

7 1 0
                                        

Yuka mengendap-endap saat melewati perbatasan asrama perempuan dan laki-laki. Pembatasnya berupa tembok memanjang sekitar lima ratus meter. Tanaman rambat yang merayapi dinding cukup menyamarkan badan Yuka yang tertutup jubah. Dia mencari tempat bersembunyi yang bagus untuk menunggu seseorang.

Udara semakin dingin. Tidak ada tanda-tanda Ryu datang. Iya, dia memang sedang menunggu Ryu. Kalian jangan salah sangka dulu, ya. Mencari buku sandi di perpustakaan sewaktu pulang dari rumah Aiko tidak menghasilkan apa pun. Yuka bertanya pada penjaga perpus pun memang tidak ada. Seperti yang dibilang Shian hanya kalangan tertentu yang bisa memecahkannya.

Aiko menyarankan Yuka bertanya kepada kepala sekolah. Tetapi ditolaknya karena dirasa tidak perlu. Satu-satunya jalan adalah meminta Ryu mencarinya di perpustakaan milik kepala sekolah. Meski awalnya ragu, Yuka meminta bantuannya juga.

"Kalau keluar jangan lupa pakai baju hangat," ucap seseorang dekat sekali dengan telinganya.

Yuka merasakan jantungnya hampir loncat. Cowok yang tertutupi gelap di sampingnya, mata emasnya bersinar di antara kegelapan. Tanpa sadar, dia memberikan terpukau keras di lengan Ryu. Cowok itu meringis.

"Ngagetin aja," ujarnya galak. Buru-buru dia merubah ekspresinya. "Bukunya mana?" tanyanya memberikan senyuman manis.

Ryu mendengkus. Lantas, menyerahkan buku setebal tiga centi kepada Yuka. "Aku tidak akan bertanya kalau kamu keberatan," ujarnya.

Yuka mengangguk. Dia tadi emang curiga kalau Ryu bakalan tanya macam-macam. "Oke, deh. Makasih. Selamat malam."

Lengannya tertahan. "Eh, nggak ada pajaknya," ucap Ryu dengan alis tertaut. Bibirnya mengerucut lucu.

"Kamu pikir aku banyak uang," jawab Yuka ngawur.

Ryu menggaruk ujung pelipisnya.
"Seenggaknya, kamu harus ganti biaya makan malam," tandasnya final. Wajahnya terlihat menyeramkan kalau lagi menuntut sesuatu.

Yuka meringis. "Iya, deh. Nanti aku cariin makanan di kafetaria."

"Kamu mau ngeracuin," tuduh Ryu galak. Makanan Kafetaria memang cepat basi. Beberapa rempah yang digunakan tumbuh menggunakan sihir. Sehingga tidak bisa dimasak dan didiamkan terlalu lama.

Yuka meringis. Mengusap kupingnya lembut. "Iya, iya. Nanti aku buatin makanan," putusnya. Melihat Ryu masih tidak bereaksi, Yuka kembali berbicara. "Sekarang? Ayo ke kafetaria."

Ryu mengangguk. Tersenyum kecil melihat Yuka merenggut. Matanya mengendari sekitar. Firasatnya jadi tidak enak. "Aku merasa ada yang mencoba masuk," ujarnya menatap segel sihir di atas sana.

Yuka mengikuti arah pandang Ryu. "Segelnya tidak mudah ditembus," gumam Yuka. Matanya melebar saat menyadari sesuatu. "Tapi, kamu bisa menembusnya."

Ryu menggeleng. "Kita hanya terbang tinggi. Segel sihir juga punya batas yang menjadi ujung."

"Apakah mereka tidak bisa terbang? Maksudku, penyusup itu."

Ryu menggeleng. "Hanya elemen angin kurasa."

Elemen angin?

"Kamu punya elemen angin juga?" tanya Yuka ngeri. Telunjuknya mengarah pada Ryu.

Ryu tidak membantah. "Emm. Elemen itu tidak keren," ujarnya dengan nada merajuk. Persis seperti bocah Lima tahun yang tidak bisa merubah gula-gula jadi permen.

Yuka tertawa tanpa bisa ditahan. Wajah Ryu terlihat merah padam. "Ups. Maaf," ujarnya laku menghentikan tawa.

"Kamu sebaiknya kembali saja. Aku akan memeriksa ke depan."

"Aku ikut," tegas Yuka mengikuti langkah Ryu yang berjalan menuju gerbang depan. Mereka jalan berdampingan. Tidak ada tanda-tanda MAC atau guru-guru berkeliaran atau setidaknya mendengar suara retakan itu. Yuka saja mendengar suara itu samar-samar.
Mereka hampir sampai di depan gerbang. Pemandangan di luar sana sungguh ... mengerikan.

***

Ryu memiliki pendengaran tajam. Maka, ketika suara retakan yang berasal di barat, gerbang depan berada di sana, Mereka segera berlari. Suara retakan itu semakin kuat saat gerbang berada tiga puluh meter jaraknya. Seperti menonton pertarungan jarak jauh. Panah berapi, hujaman mantra-mantra sihir yang terus menerus membuat segel sihir itu bergetar.

"Ini gawat! Kita harus memberitahu kepala sekolah!" teriak Yuka gelisah.

Ryu mengangguk. "Kamu ke bagian keamanan. Aku akan kabari kepala sekolah."

Yuka berlari ke arah keamanan sekolah. Jarak seratus meter terasa jauh sekali. Napasnya tersengal-sengal. Yuka melambaikan tangan pada penjaga yang berdiri di depan ruangan. Lalu, Xiao muncul setelah mendapat pesan singkat dari Yuka.

Di sisi lain, Ryu mengetuk pintu ruangan Kepala Sekolah. Membukanya setelah tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada di sana. Ryu menggeram. Lantas, melakukan telepati karena keadaan mendesak. Dia berlari ke depan lagi setelah mendapat jawaban.

Di sana, sudah ada Yuka dan penjaga keamanan Academy. Beberapa orang lagi berada di sekitar gerbang. Penjaga gerbang terlihat baru saja sadar. Seolah-olah tadi tidak sadarkan diri sewaktu ada yang merusak segel sihir. Tidak ada lagi serangan pada segel sihir. Seolah tujuan mereka sudah tercapai saat percikan-percikan api berjatuhan ke ubin.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi," ujar Penjaga gerbang saat Xiao menanyakan keadaannya.

"Apa dia tidur?" tanya Yuka berbisik pada Ryu.

"Dia pasti diberi ramuan untuk mematikan indranya."

Kepala sekolah datang setelah beberapa menit terlewati. Dia terbang ke atas untuk melihat keadaan segel sihirnya. "Suruh semua orang memperbaikinya secepat mungkin," perintah kepala sekolah lalu mendaratkan kakinya ke bswah. Matanya menelisik ke arah dua MAC yang langsung berlari ke arahnya. "Ini bukan tugas jaga kalian."

Yuka menunduk. "Kami akan pergi. Selamat malam."

"Selamat malam."

Ryu melirik ke belakang sebelum diseret Yuka pergi dari sana. Terlihat kalau penjaga-penjaga itu memperbaiki segel sihirnya seperti semula. "Mereka menunda penyerangan," gumam Ryu melirik cewek di sampingnya.

"Sepertinya memperingatkan saja," tambah Yuka menyetujui.

"Aku tidak bisa menghubungi Vandist sampai sekarang," ujar Ryu tiba-tiba.

Yuka menoleh demi mendapat wajah serius cowok berambut arang itu. "Kamu sudah memastikan ke sana?" tanyanya cemas.

Ryu mengangguk. "Waktu kalian kabur, aku juga pergi. Dia tidak ada."

Ryu ternyata tahu kalau mereka pergi siang tadi. Jika dia pergi dan tidak menemukan Vandist, maka kemungkinan besarnya dia ikut diserang. Ingatannya melayang pada jubah Vandist uang berlumuran darah. "Apa dia diserang klan Scamael?" tanyanya.

Ryu menggeleng. "Mungkin." Desahan panjangnya terdengar melelahkan. "Rafelia pernah bicara sama kamu."

Vandist mengenal ayah Yuka dengan baik. Itu berarti kemungkinan mereka berteman dekat.
Aku sudah membunuh semua pengikutnya
Yuka menggigit kukunya sendiri karena ketakutan.

"Gerak-gerikmu pasti diawasi juga. Jangan bertemu orang luar dulu." Setelah berkata itu, Ryu mengantar Yuka ke depan asramanya.
Tidak ada pembicaraan lebih lanjut dari mereka. Yuka berpikir harus menemui Aiko sesegera mungkin. Perasaannya tidak nyaman sejak tadi.

Memories of magicCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang