Yuka tidak berpikir panjang kalau aksi heroiknya kemarin menyebar cepat bagai panah api milik Mr. Lion. Agaknya, guru sejarawan itu menyebarkan virus melalui ucapannya yang terdengar berlebihan. Oh, panah api itu juga pastinya. Yuka harus menunduk beberapa kali ketika MAC yang dilewatinya berbisik. Ketara sekali mereka membicarakannya.
Apa lagi?
Semua orang bahkan tidak pernah menganggapnya. Sejak kejadian kemarin! Boom. Hidupnya dari penuh kebisingan.
"Semoga saja hal baik," ujarnya menyemangati diri sendiri. Yah, kenyataannya mereka seperti sinis pada Yuka.
Maka, hampir sampai di kelas cadangan menjadi hal pertama yang pernah Yuka syukuri. Meski berada di paling ujung dan terlihat sepi. Kilat masih menyambar-nyambar di luar. Meski tidak separah kemarin, tetap saja mendung semakin menebal saja. Tidak ada toleransi Kepala Sekolah untuk meliburkan acara latihan mereka. Berbekal kelas-kelas yang katanya sudah diberi jaring perlindungan. Semuanya bisa tenang sekarang.
"Yah, lihat siapa yang datang."
Tiga orang MAC menghadang pintu kelasnya. Jubah mereka berkibar-kibar. Di tengah kegelapan seperti ini, Yuka baru bisa melihat aura mereka yang persis seperti elemennya. Ternyata, benar. Yuka sedikit mengernyitkan dahi mengetahui pembuktian dari buku yang dibacanya.
"Heh! Kalau ada yang ngomong itu didengerin!" Siapa lagi ratu ular yang selalu mengganggu Yuka, seolah dia bisa mendapatkan kekuatan sihir dari sana, Shisy berlipat dada dengan gaya angkuh.
Satu di antaranya, berambut kuning cerah. Meski raut wajahnya selalu bertolak belakang dengan itu. Sepertinya dia teman baru Sishy dari elemen api, "Aksi kamu kemarin itu nggak ada yang bisa dibanggakan!" jelasnya.
Yuka mendesah panjang. Memutar matanya. Matanya jelas menunjukkan kemalasan. "Iya aja, deh. Udah aku mau lewat."
Bahunya terdorong ke belakang kembali ketika mencoba masuk.
"Mau jadi pahlawan kesiangan?" tanya satunya. Ah Yuka ingat namanya Oryn. Dia dari elemen kabut seperti Shino. Senior yang dianggap Yuka galak itu dari kabut. Yuka pikir malah dari air. Soalnya sifatnya mendukung banget. Diam-diam menghanyutkan.
"Maksudnya apa, sih?" tanya Yuka terlanjur jengkel. Dia juga tidak butuh dianggap pahlawan kesiangan, tau. Aksinya kemarin malah mengancam nyawa. Untung aja dia berhasil lolos setelah membawa Clon hampir mencapai gedung. Dan, ingatannya berhenti di situ.
Eh, tunggu. Berarti ada yang menyelamatkan mereka juga dong.
"Jangan coba narik perhatian Ryu!" tegas Shisy penuh penekanan. Percaya deh, dari matanya bisa keluar api yang siap membakar Yuka dalam satu menit tatapan. Mungkin jika mulutnya terbuka, lidah api terjulur dari sana.
Oh, Ryu.
"Aku nggak gangguin dia, tuh," jawabnya bertambah malas. Dia kira apa. Memangnya Ryu sepopuler itu hingga semuanya bertingkah seperti Shisy. Lagipula, Yuka tidak merasa ikatan atau hutang dengan cowok bermata emas itu.
"Alah! Nggak usah ngelak deh. Apa yang mau kamu banggain selain aksi norak kemarin? Nggak punya elemen kayak kamu emang butuh banyak perhatian."
Menohok.
Yuka merasakan emosi sampai di kepalanya, siap meledak. Dikepalkannya kedua tangan erat. Seolah jika terlepas, Yuka bisa menyesali perbuatannya nanti.
Apa sih salahnya?
"Aku nggak pernah gangguin kalian," ujar Yuka mencoba bersabar. Ingin tahu seberapa benci mereka padanya. "Tapi, kenapa kalian selalu gangguin aku?"
Shisy mendengkus. "Nggak penting sih sebenernya gangguin kamu." Jelas sekali, sinar matanya menunjukkan hal yang berbeda dari kalimatnya barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories of magic
Fantasy"Kembalilah kalian semua!" Suara tawa itu mengalahkan petir yang bersaut-sautan di luar. "Kutukan baru saja dimulai." Yuka Mitsura tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak tahu apa-apa tentang surat misterius itu atau kejadian apa di masa lalu. Dia ti...
