Aiko terkejut mendapati Yuka menunggu di dalam asrama. Dia latihan sampai malah hari ini.
"Aku minta maaf," ujar Yuka sesaat setelah Aiko meletakkan buku-buku tebal di atas meja.
Hening. Yuka yakin suaranya terdengar. Atau Aiko saja yang memang tidak ingin bicara dengannya?
Aiko berbalik. "Emang kamu punya salah?" tanyanya berbalik. Ada nada kecewa yang Yuka tangkap di sana. Juga dengusan yang selalu Aiko lakukan ketika malas berurusan dengan siapa pun.
Yuka tersentak. "Aku nggak kasih tahu kamu. Luka itu bukan aku pelakunya. Kamu pasti nggak percaya kalau aku bilang gitu," jelas Yuka mengutarakan isi hatinya.
"Jadi, selama ini kamu anggep aku sama kayak mereka?" tanya Aiko dengan nada menusuk.
Yuka menggeleng cepat. "Bukan gitu!" Aduh, malah tambah runyam. Yuka dulu tidak berpikir akan jadi begini. "Aku kira kamu bakalan ngira aku monster juga."
Aiko mendesah beberapa kali. Yuka bahkan bisa menghitungnya dalam satu menit.
"Aku ngantuk mau tidur."
Setelah berkata itu, Aiko membenamkan dirinya dalam selimut. Dia benar-benar tidur? Yuka tidak ingin mengganggunya lagi. Maka, diputuskannya keluar dengan langkah pelan.
"Aku pergi ya, Aiko."
Pintu tertutup. Meski masih ada yang mengganjal, Yuka memutuskan abai. Nanti kalau Yuka udah tahu siapa pelakunya, Aiko pasti akan mengerti. Yuka melewati lorong, menuruni tangga hingga sampai di pintu depan. Ada Miss Wenny yang sudah menunggu dengan mantel tebal. Membuatnya jadi kepompong besar. Lantas, wanita tua itu menyerahkan tas dari dedaunan kepadanya.
"Ini dariku. Cuaca selalu mendung. Kita tidak bisa tahu di luar sana bagaimana," ujarnya datar. Lalu, sekedip kemudian dia menghilang. Yuka bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.
Berjalan lima menit hingga sampai di gerbang depan yang terbuka sendiri. Hanya dengan menempelkan surat ijin dari Mrs. Raflyn. Maka, Yuka ternganga melihat jalan gelap gulita. Jika siang hari masih ada celah untuk melihat, maka malam seperti berada di alam mimpi.
Yuka merapihkan mantel, mengikat jubahnya erat, memastikan ikatan tas di punggung dan pinggangnya kencang. Terakhir, Yuka menghidupkan obor dari kayu yang diberi ramuan khusus bagian ujungnya.
"Baiklah. Kita pergi hari ini!" ujar Yuka penuh semangat.
"Aduh!" Baru saja Yuka menaiki sapunya, sebuah batu terlempar ke arahnya. Sambil meringis, Yuka menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Sampai pandangannya kembali, Yuka terkejut melihat makhluk misterius dengan jubah yang mengotori tanah dan tudung sebatas hidung.
"Kamu mau pergi?"
Ah, lega rasanya.
Ryu menurunkan tudungnya. Keningnya berkerut melihat Yuka dan segala barang yang dibawanya. Tiba-tiba, ekspresinya kembali datar.
"Jangan kangen, ya," ujar Yuka menggoda.
Ryu menyentil dahinya sebagai jawaban.
"Aku anter."
Eh?
Dia bukannya tanya ke mana kek atau ngapain kek, malah mau nganter.
Jangan-jangan dia tahu Yuka ke mana? Kepala sekolah sudah janji nggak bakalan kasih tahu siapa-siapa. Tapi, Ryu... Ah dia kan anak angkatnya.
"Kamu nggak tahu jalannya! Aku bisa sendiri kok!" tolak Yuka cepat. Tidak ingin berlama-lama dengan cowok bermata emas itu. Jantungnya mau loncat kalau Ryu terus menatap Yuka kayak gini.
Yuka terbang. Baru setinggi lutut, ujung soalnya dipegang Ryu kuat. Tentu saja keseimbangannya jadi buruk. Untung Yuka punya refleks bagus. "Hei! Kamu mau bunuh aku, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories of magic
Fantasi"Kembalilah kalian semua!" Suara tawa itu mengalahkan petir yang bersaut-sautan di luar. "Kutukan baru saja dimulai." Yuka Mitsura tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak tahu apa-apa tentang surat misterius itu atau kejadian apa di masa lalu. Dia ti...
