Yuka mendobrak pintu ruangan. Bernapas lega saat kepala sekolah ada di sana. Sepertinya Yuka datang di waktu tidak tepat. Beberapa guru langsung meletakkan atensinya pada cewek itu.
"Apa begini etika yang diajarkan kami selama ini," tegur Miss Raflyn lalu geleng-geleng kepala.
Yuka menunduk beberapa kali untuk meminta maaf. "Saya pikir tidak ada orang di sini," jelasnya gugup.
Mr. Onjy berdehem. "Jika tidak ada orang, lantas mendobrak pintu itu termasuk perbuatan buruk," sindirnya tajam. "Seharusnya MAC yang diberi keistimewaan mencerminkan perlukah yang baik."
Aduh! Yuka kebiasaan kalau lagi kesel main dobrak-dobrak aja. Makanya, jadi gini, kan.
"Sudah! Rapat hari ini selesai. Kalian bisa kembali," tutur kepala sekolah melerai perdebatan kecil itu.
Mrs. Raflyn dan beberapa guru level dua ke atas undur diri. Ketika Mr. Onjy berjalan melewati Yuka, cewek itu merasakan suasana yang berbeda. Yuka menunduk untuk menghindari tatapan tajam guru elemen air itu.
Kepala Sekolah melayang ke arah Yuka.
"Bukankah emosimu harus disembunyikan dengan baik?" tanyanya menegur.
Yuka meminta maaf sekali lagi. "Saya hanya ingin tahu kenapa anda merahasiakan identitas ayah, saya," jelas Yuka. Semenjak kenal kepala sekolah, dia bisa berbicara santai seperti ini.
Kepala sekolah mendesah. "Sebenarnya aku tidak ingin menyembunyikannya," jelasnya pelan. Dia tidak menyangka kalau Yuka bisa tahu secepat ini. "Jika semua orang tahu kamu anak buronan, terlepas kutukan itu atau tidak, bukankah nyawamu akan terancam dua kali lipat?"
Yuka mau tidak mau mengangguk juga.
"Siapa saja yang tahu?" tanya Yuka penasaran.
"Hanya aku, Mrs. Selly, beberapa tetua generasi pertama. Dan, mungkin penyihir yang memiliki kekuatan tingkat tinggi."
Pantas saja Vandish bisa mengenalinya dengan mudah. Bahkan, orang tua itu sepertinya lebih banyak tahu tentang ayahnya.
"Apa kamu masih meragukanku?" tanya Kepala Sekolah spontan.
Yuka gelagapan. "Maaf, bukannya saya meragukan anda—"
"Aku tahu. Tapi, kuharap kamu jangan mempercayai Klan Scamael. Mereka musuh ayahmu sejak dulu."
Yuka mengangguk. "Apakah penyihir agung sekarang berasal dari Klan Scamael?" tanya Yuka was-was. Dulu, berita tentang pergantian Penyihir Agung sempat berdengung. Waktunya tepat sekali saat usianya baru beberapa bulan. Lambat laun berita itu tenggelam oleh pemberontakan di mana-mana. Hanya sejarah pemerintahan dunia penyihir yang bisa dijadikan pengingat.
Kepala sekolah menggeleng. "Kurasa kekuasaan itu dipegang oleh saudara jauhmu."
"Saudara jauh ayahku?"
"Ya. Dia adik ayahmu sendiri."
Yuka mendesah lega. Setidaknya, dia bukan seseorang yang jahat. Rupanya ayah sudah menyusun rencana hingga dia bersembunyi. Diam-diam Yuka bangga punya ayah yang punya pemikiran sedetail itu.
"Ah, aku punya informasi. Tetua desa yang kudatangi berbicara kalau Klan Scamael mencari ayahmu dan pengikutnya. Pengejaran terus terjadi. Desa-desa akan hancur setiap tempat yang mereka datangi."
Yuka paham. Lalu dia mengingat kalau desa kemarin dihancurkan juga. Tidak mungkin ayahnya berada di sana. Atau, karena ada Vandish.
Aku mengenal ayahmu dengan baik, ucapan Vandist terngiang kembali.
"Jangan pernah keluar sendiri seperti kemarin!" perintah Kepala Sekolah lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Anda tahu?" tanya Yuka meringis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories of magic
Fantasy"Kembalilah kalian semua!" Suara tawa itu mengalahkan petir yang bersaut-sautan di luar. "Kutukan baru saja dimulai." Yuka Mitsura tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak tahu apa-apa tentang surat misterius itu atau kejadian apa di masa lalu. Dia ti...
