Mia tiba di rumah menjelang magrib. Membawa beberapa bungkus paper bag berisikan beberapa baju yang sudah lama diincarnya. Sambil lenggak lenggok ala kucing keseleo, ia memasuki rumah dengan hati riang. Yeee... baju barunya semakin banyak. Sukurin kamu mas, duitnya aku porotin!! Salah sendiri selingkuhin aku.
"Assalamualaikum...!" Mia mengucapkan salam sambil membuka pintu rumahnya. Ia senyam senyum menyapa semua yang ada di ruang tamu itu. Ada ayahnya, ibunya, kak Vina, mas Haris yang sedang menidurkan Farel di pangkuannya dan.... glekk...mas Feri!!
"Hai se...mua !" Pita suaranya mendadak ngilu melihat Feri duduk manis diantara semua keluarganya sambil senyam senyum memandangnya. Gak usah senyum mas, aku kok serem ya?!
"Darimana saja jam segini baru pulang?" Tanya Susan, tajam. Ia bersidekap tangan depan dadanya membuat Mia ngeri.
Ibu kalau udah setegas itu biasanya sedang marah dan marahnya itu bisa bikin dia menangis berhari hari. Ia lebih takut dengan amarah ibunya yang seperti hulk daripada amarah ayahnya. Ayahnya jarang sekali memarahinya. Kalaupun marah pasti cepat baik lagi. Lihat saja sekarang ayahnya, hanya memandangnya biasa saja, malah senyum senyum.
"Abis shopping." Jawab Mia ketus. Baru saja ia membelokkan kaki hendak berlalu menuju kamarnya saat suara ayahnya yang terdengar tegas, membuatnya tertegun. Sudah lama sekali ayahnya tidak setegas ini. Ada apa gerangan?
"Mia duduk, ada yang harus kita bicarakan !"
"Bicara apa?" Meski enggan, Mia duduk juga di samping Vina yang juga sedang menatapnya lekat lekat.
Ogah amat duduk samping Feri yang sedari awal ia datang tak memandang Feri sama sekali, membuat tatapan Feri berubah tajam sampai biji bola matanya kayak mau keluar gitu.
"Di mana ponselmu?" Tanya mas Haris datar tapi tetep serem ah suara begitu juga. Apa karena ia tentara ya, terbiasa berbicara tegas dan keras jadi saat berbicara seperti orang marah?
Takut-takut, Mia merogoh tas dan mengambil ponselnya. Ia menunjukannya depan semua orang.
"Nih ada. Kenapa emang?"
"Apa kamu gak tahu suamimu nyari kamu dari siang, pulang kerja langsung jemput kamu kesini. Di sini gak ada, nyusul ke mal tapi yang dijemput di mal malah nyumpet. Tadi dia sampai ketiduran di sofa nungguin kamu trus bangun-bangun muntah. Istri macam apa kamu? Membiarkan suaminya seperti ini."
Suara ibunya yang tegas dan galak membuat nyali Mia menciut. Pengen kabur aja rasanya diomelin terus. Namun tak urung ia memeriksa kembali ponselnya. Terdapat 36 panggilan dari Feri, 15 dari Susan, 12 dari Mario, 10 dari Vina dan gleekk... 9 panggilan dari mamah. Kenapa mamah menelponnya juga? Aduuh...
"Mia ga tahu. Ponselnya disilent! Pasti kerjaan Mira soalnya ponselnya titip dia tadi. Mia kan lagi hamil ga boleh sering pegang ponsel. Takut radiasi." Mia beralasan. Ia bersungut-sungut kesal." Lagian, kenapa mesti nyariin Mia sih, Mia itu bukan anak kecil lagi. Kalau Mia mau pulang ya tinggal pulang. Ga usah dicariin segala."
"Terserah kamu mau pulang jam berapa atau ga pulang sama sekali kalau kamu masih single. Tapi kamu itu udah nikah, udah jadi seorang istri. Gak pantes bersikap semena mena sama suami. Udah dijemput di mal, tapi malah nyumpet sampe suaminya kelimpungan nyariin sampe dia masuk angin gitu. Kalian bukan sedang pacaran lagi yang maen petak umpet. Ada masalah itu dibicarakan, bukan saling menghindar seperti ini," Kata Susan, kecewa. Sorot matanya bahkan berubah sendu, seolah olah perbuatan Mia membuat malu ibunya.
"Kenapa jadi Mia yang disalahin sih? Mia gak bakal begini kalau dia gak selingkuhin Mia. Mia ogah ketemu mas Feri, dia pengkhianat!" Teriak Mia berapi-api. Ia tak terima jadi sasaran kemarahan semua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Kawin Muda
RomanceGara gara kepergok sedang berduaan dikamar, Feri(21thn) mesti menikahi kekasihnya Mia(18thn). Mereka setuju saja menikah karena mengira rumahtangga mereka akan baik baik saja karena mereka saling mencintai. Namun siapa kira cobaan hidup sebenarnya d...
