Feri memakan burgernya sendirian dengan pikiran tak karuan. Ia bahkan tidak menyadari sudah menuangkan begitu banyak mayonaise ke burger, tapi yang dia makan french fries. Menuangkan saos ke kentang tapi dia malah minum setelah itu bengong lagi sambil menatap ponselnya. Sementara dua buah burger queen dan sepiring french friesnya menatapnya geram. Mereka kira Feri akan memakannya, ternyata php doang. Gak enak loh mas di php - in.
Bagaimana Feri bisa berpikir jernih, sedari tadi ia bolak balik melihat ponselnya, ia berharap ada notif dari Mia. Namun nihil, ponselnya tak ada notif sama sekali. Ponselnya pun kalau bisa bicara pasti berteriak stop doing that di kuping Feri. Buka, tutup lagi ponselnya, begitu terus sampai kucing jantan beranak. Feri menghembuskan nafasnya kasar.
Bayangan saat Deden mengobrol berdua dengan Mia di dapur melintas lagi, membuatnya kesal. Ia sangat cemburu setiap Mia bersama laki laki lain selain dirinya. Yeah, ia masih marah pada Deden dan menganggapnya telah berselingkuh dengan Mia. Puas rasanya sudah memberi Deden pelajaran supaya kapok. Meski jauh di lubuk hatinya ia percaya Mia dan Deden tak mungkin bermain api dibelakangnya.
Sebenernya Feri gatal sekali ingin menghubungi Mia, si anak manja itu tapi dia gengsi. Bisa bisa Mia besar kepala karena mengira Feri tak bisa jauh darinya. Itu benar tapi dia enggan mengakui itu depan Mia. Bagian paling menyebalkanya, Mia pun dari kemarin tak menghubunginya sama sekali. Padahal ia selalu mengupdate statusnya bersama Farel, ponakannya yang terkenal badung itu. Bahkan Mia membuat video tiktok menggemaskan dengan Farel.
Dulu, waktu masih pacaran, Feri pernah dilempar batu sama tuh anak. Kata Farel di sekolahnya diajari melempar bola, lah itu yang dilempar bola, emang seharusnya. Lah ini batu? Untung aja cuman kena pundaknya, kalau kena mukanya, bisa habis tuh bocah dia gantung di pohon cabe.
Mia ke mana lagi dari semalam tak jua menghubunginya. Masih aja chuex kayak dulu. Kalau ga dihubungi duluan ya gak bakal ngehubungi. Ngeselin, sumpah! Padahal Feri berharap, Mia kehilangan dia karena tak melihat Feri barang sehari saja. Tapi boro-boro ngechat, telp aja nggak. Rasanya dadanya bergemuruh penuh memanggil Mia dalam hatinya, berharap tiba-tiba Mia muncul dihadapannya.
Thanks God, Kau mendengar doaku. Mendadak Mia berdiri di hadapannya. Perempuan berambut panjang ikal itu tersenyum manis menggunakan dress biru laut kesukaannya. Feri tersenyum bahkan nyaris memeluk perempuan dihadapannya.
Eh tunggu, Mia kan berambut pendek. Lalu siapa yang sekarang berdiri di depannya. Feri mengucek-ucek matanya untuk menjernihkan penglihatannya. Senyumnya perlahan memudar berganti dengan raut wajah datar saat menyadari siapa wanita yang kini berdiri di depannya. Sontak ia pun menjauhkan dirinya dari perempuan itu.
"Ngapain lo kesini? Gue gak butuh ditemani lo lagi," kata Feri, ketus.
Wulan mendesah. Menaklukan Feri ternyata tidak semudah yang ia kira. Kelihatannya saja dia sok akrab, tapi saat kita mendekat, dia malah diam dan terkesan menjaga jarak. Mungkin selama ini ia yang telah salah mengira tentang siapa Feri.
"Gue ganggu lo ya?" Ujar Wulan seraya duduk disamping Feri namun Feri malah berteriak.
"Lo ngapain duduk deket gue? Jauhan sono! Tuh kursi depan kosong."
Wulan tersenyum kecut. Namun ia turuti juga kemauannya. Wulan beranjak bangun dan pindah ke depan Feri. Feri hanya menatapnya sekilas. Ia kembali melanjutkan memakan burgernya dengan chuek, seakan tak ada Wulan di hadapannya.
Wulan menatap burger dan kentang goreng yang dibanjiri saos dan mayonaise itu ngeri. Bagaimana bisa Feri memakannya dengan kondisi seperti itu.
"Fer, gue mau ngomong sesuatu!"
Feri hanya berdehem tanpa menyahuti Wulan. Ia asyik memakan burger yang dibanjiri saos itu dengan nikmatnya. Wulan nyaris muntah melihat Feri memakannya sampai mulut dan tangannya belepotan saos gitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Kawin Muda
RomanceGara gara kepergok sedang berduaan dikamar, Feri(21thn) mesti menikahi kekasihnya Mia(18thn). Mereka setuju saja menikah karena mengira rumahtangga mereka akan baik baik saja karena mereka saling mencintai. Namun siapa kira cobaan hidup sebenarnya d...
