Tadinya Feri mengajak Mia menginap dirumah baru mereka, tapi Mia menolaknya dengan alasan rumah itu belum dingajiin, takut terjadi hal hal yang tak diinginkan sedang ia dalam keadaan hamil seperti ini. Mempunyai orangtua dan kakak yang kolot sedikit banyak membuat pemikirannya terpengaruh juga. Malam beranjak naik saat keduanya akhirnya memutuskan pulang.
Mia hanya memandangi diam diam rumah mereka lewat kaca spionnya saat mobil mereka melaju pergi meninggalkan rumah. Rumah yang indah, namun sayangnya banyak hal yang membuat Mia tidak nyaman. Jauh dilubuk hatinya Mia berharap kalau Feri akan membuatkannya rumah tanpa campur tangan mertuanya. Ia tidak ingin ada perselisihan di kemudian hari. Percayalah, itu tidak enak! Tapi mungkin ini sudah menjadi jalan hidupnya. Nikmati saja!
Saat sampai rumah, Mia dan Feri duduk di sofa yang sama namun saling mendiamkan. Meski Feri berkali kali meliriknya lewat ekor matanya, Mia sendiri enggan mengajaknya bicara. Terlalu banyak hal yang membuatnya kekejetan hari ini.
Mia membaringkan tubuhnya yang terasa pegal di sofa ruang tamu sembari mengelus elus perutnya. Di usia kehamilannya yang menginjak 20 minggu, Mia mulai sering merasa terkejut karena adanya kedut kedut kecil di perutnya. Sedang Feri malah memilih pindah ke sofa satunya saat Mia selonjorkan kakinya ke tubuh Feri sembari senyam senyum membaca chat di ponselnya. Mia hanya bisa mengeluh dalam hati melihat sikap acuh Feri.
Sedari dulu, ia selalu marah setiap Feri mendiamkannya. Lebih baik melihat Feri marah marah daripada melihatnya mendiaminya seperti ini. Paling tidak, bila Feri marah ia tahu apa yang Feri pikirkan tentangnya. Kalau diam seperti ini, ia selalu gelisah kalau Feri diam diam berpikir untuk meninggalkannya.
Widia dan Handoko yang baru datang, heran melihat sikap acuh mereka satu sama lain. Biasanya keduanya rame saja kalau sudah berdua. Bahkan setelah salaman, baik Feri maupun Mia malah naik ke lantai atas dimana kamar mereka berada. Widia dan Handoko saling bertukar pandang, bingung.
"Mereka kenapa, Mah? Kok kusut semua mukanya?" Tanya Handoko, sementara tangannya bergerak membuka bungkusan paper bag yang dibawanya dari kampus tadi. Ternyata sepasang sandal reflexi.
"Namanya juga orang menikah, pasti ada ajalah masalahnya. Biarin aja, kita jangan ikut campur! Kita juga kan pernah muda,"
"Yah tapi sebagai orangtua, kita mesti membantu mendamaikan perselisihan mereka," kata Handoko sambil memakai sandal reflexinya. Awalnya ia mengernyit kesakitan tidak nyaman, tapi lama kelamaan ia terbiasa juga.
"Pah, bukannya hari ini Feri menunjukkan rumah barunya? Kalau lihat wajah Mia yang murung, sepertinya belum ditunjukkan. Bener gak sih, Pah?"
"Kita tanya nanti kalau Feri turun!" Kata Handoko lagi sambil berjalan menuju pintu keluar dengan sandal barunya.
Widia termenung. Ia kembali memperhatikan laki laki berumur setengah abad yang sudah menemaninya hampir seperempat abad hidupnya, yang sedang lenggak lenggok dengan sendal reflexinya.
Sementara itu di kamar, Mia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sementara Feri memilih asyik dengan ponselnya dan membalas semua email yang masuk.
Mia keluar lagi dengan tampilan yang lebih fresh, tak lupa memakai bandano berwarna ungu yang senada dengan gaunnya membuatnya terlihat muda, segar dan menggoda. Sayang, sikapnya yang plin plan menjatuhkan mood Feri untuk menggodanya. Mia mengeluh dalam hati karena Feri masih saja mendiamkannya. Sungguh, ia tidak tahan berada dalam keadaan seperti ini. Apa ia harus mengalah?
Sekonyong konyong Mia duduk di dekat pahanya. Tangannya meraba paha Feri membuat Feri mengumpat dalam hati. Ini sih tidak fair, ia sedang marah tapi Mia menggodanya seperti ini.
"Mas..!" Mia memanggilnya pelan." kamu masih marah ya?"
Feri hanya berdehem, enggan menyahut. Ia mesti memberi Mia pelajaran supaya tidak plin plan dan selalu menyalahkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Kawin Muda
RomanceGara gara kepergok sedang berduaan dikamar, Feri(21thn) mesti menikahi kekasihnya Mia(18thn). Mereka setuju saja menikah karena mengira rumahtangga mereka akan baik baik saja karena mereka saling mencintai. Namun siapa kira cobaan hidup sebenarnya d...
