Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah mendapat amukan dari sang kakak, Doyoung. Jeno tetap mengajak Renjun untuk keluar rumah walau sempat mengulur banyak waktu, jangan lupakan juga dirinya yang diancam.
"Jeno, ini mau kemana sih?" Renjun terus terusan bertanya saat mobil Jeno terus berjalan di padatnya jalanan seoul.
Satu hal yang tidak diketahui oleh orang lain tentang jeno, Kelebihan hormon. Pikir Renjun
Setelah beberapa menit didalam mobil dan digantungkan entah kemana, pada akhirnya mobil tersebut berhenti didepan sebuah rumah yang sederhana tak lebih besar dari rumah jeno yang bak istana.
Renjun berfikir kembali, sepertinya ia pernah kemari.
"Jeno, inikan.." Renjun menghentikan ucapannya, ragu. Saat mereka sudah berada didepan pintu masuk
"Ini panti asuhan Renjun. Kau tidak senang ya?"
"Eh?" Iya renjun ingat, ia pernah kemari beberapa waktu lalu bersama dengan Doyoung. "Aku senang, senang sekali."
Pintu terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya yang menyambut mereka. "oh Tuan Lee, masuklah."
Mereka memasuki panti tersebut, dan melewati beberapa ruang yang dipenuhi oleh anak anak yang sedang bermain. Lalu berakhir di ruang tengah, duduk diatas sofa dengan disediakan teh juga cemilan diatas meja.
"Maaf, kami tidak sempat menyiapkan apa apa Tuan." Wanita itu membungkuk hormat
"Eh tidak apa apa bi, santai saja aku hanya ingin berkunjung."
"Terima kasih Tuan."
"Maaf juga akhir akhir ini kami jarang lagi memberi kebutuhan dalam waktu yang tepat."
"Ah tidak apa apa Tuan, sumbangan yang kemarin Tuan beri sudah sangat cukup bahkan lebih dari cukup."
Renjun menatap Jeno dengan raut bingung, tidak mengerti situasi yang terjadi. Jadi ia hanya mendengarkan dengan seksama, mencoba memahaminya.