Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Aku mencoba masuk ke hatimu yang tertutup Tapi di ruang kosong ini Aku menemukan diri ku sudah hancur Jadilah ini menyakitkan
Tapi aku harap kamu tidak sakit separah aku Aku berharap ini setiap hari, tak terhingga Aku harap kamu tidak akan ingat sebanyak yang kulakukan Aku harap kamu lebih baik dari aku
Hanya aku harap...”
"Aku ingin bicara"
Kini Jeno dan Renjun sudah berada di taman belakang rumah sakit. Sudah beberapa menit waktu berlalu tapi belum ada dari mereka yang membuka mulut untuk memulai pembicaraan. Mereka hanyut dalam hembusan angin yang menyapa wajah dan menerpa rambutnya, menikmati sinar mentari sore yang berwarna jingga.
"Ehm, ingin bicara apa?" Setelah bertahan dalam kesunyian akhirnya Renjun mengalah untuk sekedar berbicara duluan.
Kalau boleh jujur, Jeno juga tidak tau ingin berbicara apa dan entah mendapat keberanian dari mana sehingga ia dapat mengajak Renjun. Sebenarnya Jeno sangat menikmati waktunya bersama Renjun kini. Berdua bersama tanpa ada yang mengganggu.
Keduanya terdiam kembali, enggan untuk membuka mulutnya.
"Ehm jen, sebelumnya aku ucapkan Selamat untukmu dan juga Jaemin." Renjun menjeda ucapannya, melirik Jeno yang masih duduk tenang disampingnya
"Dan aku mohon dengan sangat semoga kamu bisa menjaga Jaemin dengan baik, bahagiakan dia."
"Ehm, aku juga meminta maaf karena telah berperan jahat dalam kisah kalian." Ia menunduk dalam, menahan tangis yang sebentar lagi akan keluar
Jeno masih terdiam, mencerna semua kata yang Renjun berikan.
"A-aku akan membatalkan pertunangan gila ini lalu aku akan pergi dan kalian bisa bahagia."
Detik selanjutnya Renjun terkejut saat tubuhnya sudah berada di dekapan Jeno. Ia membalas pelukan sang dominan, air matanya tumpah disana, membasahi bahu Jeno.