Dua : Selamat Tinggal Labirin Cinta

177 26 8
                                        

Selamat tinggal kenangan lama, ini adalah cara agar aku tidak terjebak dengan rasa yang sama walau dengan cara yang sama yaitu terluka...

****

Wangi bunga langsung memenuhi indra pernafasan ketika Afsheen melangkah masuk kedalam ruangan yang membuatnya tidak dapat berkedip bahkan menutup mulutnya barang sejenak. Terpana, mungkin satu kata itu yang dapat menggambarkan bagaimana ekspresi Afsheen sekarang. Ruangan besar ini di dekorasi dengan sangat menakjubkan, bunga-bunga ditata rapi menampilkan keanggunan serta menjadi wadah bagi mereka untuk menyombongkan warna mereka masing-masing. Kaki Afsheen berjalan mendekat ke arah salah satu bunga yang menarik perhatiaan.

Mata Afsheen terbuka semakin lebar."Asli?"

Bunga sebanyak ini, bunga asli ? Ada bermacam-macam bunga diruangan ini, apakah mereka benar-benar menggunakan bunga asli. kemudian Afsheen menuju salah satu bunga favoritnya. Bunga Mawar, lalu ia kembali memegang bunga itu dengan perlahan. Sama, bunga mawar ini pun terasa alami ditangannya. Kelopak bunga yang baru Afsheen pegang terjatuh, perlahan Afsheen berjongkok untuk memungutnya.

Lalu..

"Biarkan saja."

Suara seseorang menginterupsinya, dengan peralahan Afsheen kembali berdiri lalu menatap siapa yang baru saja berbicara kepadanya. Matanya membola lagi.

"Rizky?"

Laki-laki itu tersenyum ramah." Lama tidak jumpa, Afsheen. Bagaimana kabarmu selama ini?"

"Kabarku baik, aku harap kau juga." kata Afsheen dengan ramah, walau hatinya diliputi dengan perasaan gelisah yang datang dengan tiba-tiba, juga perasaan ini menyadarkannya untuk apa ia datang ke tempat terlarang ini. Ia datang bukan untuk mengagumi indahnya bunga-bunga namun untuk memberikan selamat.

Ya selamat

Mata Rizky mengamati sekeliling Afsheen, dan dahinya berkerut."Kau sendiri saja, mana pasanganmu?"

Deg..

Ini adalah yang Afsheen hindari, ia hendak pergi dari tempat ini namun sudah terlambat. Ia sudah masuk, teman satu sekolahnya sudah melihat ia berdiri didalam ruangan ini. Seharusanya ia tidak datang, seharusanya ia ...

Haruskah aku berbohong?

"Sheen?" Panggil Rizky kembali.

"Aku sendiri saja." Afsheen tersenyum hambar, dan itu keputusannya walaupun sakit lebih baik jujur bukan. Ia harus pergi dari hadapan temannya ini secara sopan." Aku kesana ya, senang bertemu denganmu lagi."

Bunga melati terangkai indah diatas kepala sang mempelai wanita yang duduk disamping mempelai pria dengan memakai jas hitam berdalaman kemeja merah muda. Yang serasih dengan sang mempelai wanita yang juga memakai kebaya berwarna merah muda dengan bermatakan batu mulia di beberapa titik tertentu menambah kesan elegant walau didesain sesederhana mungkin.

Sepasang mata dengan bulu mata lentiknya tengah menatap lurus kearah sang mempelai pria dengan sorot mata sedih melihat orang yang dulu memenuhi harinya menciptakan senyumnya serta menjadi harapannya akan menemaninya dimasa depan kini harus ia lupakan karena sebentar lagi pria itu akan menyandang sebagai seorang suami untuk wanita lain. Genggaman penghulu ditangan kanan sang pria memutuskan pandangan antara mereka berdua.

Tarikan nafas pelan dilakukan oleh penghulu sebelum berbicara." Ananda Raka Arya Putra Bin Mahesa Putra saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Kartika Putri Bin Renaldi dengan seperangkat alat salat dan emas seberat 12 gram dibayar tunai."

" Saya terima nikahnya dan kawinnya, Kartika Putri Binti Renaldi dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat salat dan emas seberat 12 gram dibayar tunai." Ucap Raka dengan jelas dan dengan satu kali tarikan nafas.

Afsheen ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang