Lali Duwe Relationship.
****
"Aku akan menghubungimu 3 kali 24 jam,"
3 kali 24 jam, APA! Bahkan ini sudah satu minggu Bagas tidak menghubunginya. Lagi-lagi Afsheen hanya bisa memandangi layar hp yang kini menampilkan room chat dirinya dengan Bagas satu minggu lalu sebelum dia pulang ke Surabaya karena ada pekerjaan yang mendesak, tepat di hari ke dua setelah kami menikah. Meninggalkan Afsheen yang masih ingin melepas kerinduan di kampung halamannya ini.
"Apasih yang dia lakukan hingga tidak mengabari sama sekali, padahal sedang online." Afsheen mendengus. lalu melempar sembarang hpnya ke sofa lain yang berdekatan dengannya yang sekarang sedang rebahan.
Apakah dia sudah melupakan aku?
Apakah pekerjaannya itu lebih penting dari istrinya ini?
"Coba lo hubungin."
"Masa gue duluan yang nelpon, kan dia yang janjiin gue buat ngehubungin gue duluan." Afsheen bangun dari rebahan di atas sofa. Mengambil bantal lalu dipeluknya ketika punggungnya sudah bersandar pada sandaran sofa. Selama satu minggu, ini juga yang dikerjakannya. Hanya menjadi kaum rebahan, dengan setiap beberapa menit mencek hpnya kalau ada notifikasi dari Bagas. Sepertinya ia tanpa sadar sudah menjadi bucin Bagas.
Dahi Afsheen mengkerut ketika melihat penampilan Risa yang rapi," mau kemana lo?"
"Kerjalah." Jawab Risa. Mengambil jaketnya disandaran sofa lalu memakainya.
"Tumben, kan biasanya hari selasa lo libur?"
"Ada pergantian shift." Risa berjalan menuju pintu setelah mengatakan itu.
"Lah gue sama siapa dirumah?" Afsheen berjalan kearah Risa sambil mengacak rambutnya yang terurai.
"Sama gue." Kata Dira tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Memberikan senyuman lima jarinya lalu melambaikan tangan kearah Risa yang sudah naik ke motornya.
Setelah kepergian Risa, mereka berdua berjalan kembali ke arah sofa. Dira membuka tas selempangnya yang terbuat dari anyaman rotan berbentuk bulat, lalu mengeluarkan benda yang kudu-wajib ia bawa kemanapun itu. Yaitu sebuah lipstik keluaran brand ternama. Perlahan ia poleskan lipstik itu ke bibirnya dengan sesekali matanya melirik Afsheen yang sedang cemberut menatap hp dengan beberapa kali menggaruk rambutnya yang kalau dilihat seperti gelandangan, hanya bedanya Afsheen memakai baju bagus dan berkulit agak putih bersih.
"Ck.Sadgirl, ya gini."
"Siniin hp lo," teriak Dira. Bisa dilihat dia sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Kata orang ketika seorang wanita telah menikah, auranya akan terlihat lebih cantik, tenang dan terlihat anggun. Dira harus membantah itu semua ketika melihat Afsheen sekarang.
"Buat apa?" Tanya Afsheen judes.
Seharusnya Dira tidak sukarela meng-iyakan permohonan, lebih tepatnya perintah Risa untuk menemani Afsheen yang sedang bersedih. Gini nih sifat yang sangat menyebalkan dari Afsheen sudah tahu kangen tetap saja gengsinya tinggi, padahal apa salahnya menghubungi suami sendiri lebih dulu. Wanita itu perlu mempunyai sifat agresif apalagi ke suami sendiri.
"Buat nelpon suami elo lah. Mau gue hubungin rumah sakit jiwa!?" Dira memicingkan matanya.
"Jahat lo." Bug, lemparan bantal tepat mengenai wajah Dira.
"Masih PMS, lo."
Tidak ada jawaban dari Afsheen. Dira semakin kesal dibuatnya, perlahan ia mengambil bantal yang tergeletak di lantai bekas lembaran Afsheen tadi. Bug. Senyuman Dira mengembang ketika melihat Afsheen bangun dari rebahannya lalu mengikat asal rambutnya yang terlihat agak berminyak itu. Se-menyedihkan itukah pengantin baru ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afsheen ✓
ChickLitAfsheen, Found You Adalah cerita kedua yang aku tulis... *** Ketika mengetahui orang yang kamu cintai dan juga menjadi cinta pertama bagimu mengakhiri masa lajangnya, apa yang akan kamu lakukan? Menghalangi pernikahannya? Menyendiri di kamar lalu m...
