Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

7. Tantangan

250 38 7
                                        

Happy Reading🍃🍃🍃

.
.
.

Dan kemarin rencanaku itu sudah ku laksanakan, dengan penuh perencanaan matang selama 2 tahun kususun khusus untuknya.

Mula-mula kuajak dia pergi bersenang-senang dahulu ditaman kota, lalu makan bersama dan dia membelikanku sebuket mawar putih kesukaanku.

Lalu kuajak dia berjalan dikeramaian acara kembang api dipusat kota yang ramai, kubawa bekal suntikan bius dari kamar Umji, kusuntikan obat itu saat kami sedang duduk bersama sambil menyantap seporsi roti bakar coklat dan sebuah cola tanpa diketahui orang lain bahkan dia tak menyadarinya.

Sumpah dia tak menyadari atau memang dia tidak merasa jarum suntik yang kumasukan dibahunya. Suntikan kecil dengan jarum tajam itu melesat dengan indahnya.

Kulihat dia mulai merasa efek biusanku, kuajak dia berjalan kejalan kota yang ramai sambil menggandengnya. Saat ingin keseberang jalan ku lepas gandenganku dan kubiarkan dia berjalan sendiri dengan agak sempoyongan.

Sebuah motor melesat dengan cepat, aku cukup bersyukur ada motor yang melaju dengan cepat tersebut dan MENABRAKNYA. Iya aku bersyukur sekarang dia MATI dihadapanku, aku berlari menujunya memegang buket bungaku memangku tubuh penuh darahnya dan menangisinya.

Air mataku benar-benar terus turun, aku terus menangis aku tidak pura-pura menangis tapi memang aku menangis dengan rasa sakit didadaku, melihat pacarku meninggal. Sakit sekali tapi disatu sisi aku sangat senang, akhirnya dia tewas.

Banyak yang menggerombongi kami dengan hanya melihat dan bicara ini itu, aku sudah tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Tak lama suara ambulan yang aku tak tahu siapa yg menelponnya datang lalu langsung melakukan hal yang tak ku mengerti pada Seok Gyu, aku hanya diam tetapi setelahnya para perawat itu bicara,

"Waktu kematian pukul 14 lewat 11 menit 56 detik...."

Dan Sung Gyu dibawa kerumah sakit, untuk dibersihkan lalu mereka letakan dikamar mayat. Karena memang tak ada wali yang menanggungnya, aku ? Aku hanya diam dan ikut mereka ke Rumah Sakit.

Aku bilang kremasi dia secepatnya, dan saat sudah mendapat lampu hijau dari ayahnya sore itu dia langsung dikrenasi dan aku meletakan abunya dirumah abu dipusat kota.

Tanpa ada yang curiga kalau ini sebenarnya pembunuhan berenca berkedok kecelakan tak tersengaja.

Sinb pov end.

Flashback off.

"Cerita yang bagus Hwang Eun Bi" ujar V memberinya sebuah senyuman.

"Seharusnya kau bilang padaku kalau kau ingin obat dan suntikan bius, bukan malah mencurinya di kamar Umji" omel DK karena dia lah yang dimarahi oleh Umji kemarin saat kamarnya Umji dimasuki oleh Sinb.

"Makanya jangan jadi saksi saat ada yang masuk kekamarku, salahmu bolos kemarin dan aku sudah hampir mematahkan hidung mancungmu itu" kata Umji.

"Bukankah sudah kubilang, "peralatan kita hanya untuk pekerjaan" (read : alat-alat untuk menjadi pembunuh bayaran). Dan kau ..." ujar V sambil menarik kencang kerah seragam Sinb sampai dia agak sulit bernafas.

"Kalau kau butuh sesuatu jangan pernah mencurinya, kau hanya perlu memintanya padaku dan aku akan memberikan yang paling "aman" (read : mematikan)" lepas V kekerah baju seragam Sinb.

"Karena aku tidak ingin kesalah pahaman terulang lagi, kuperbolehkan kalian semua mempunyai senjata" kata V.

"Dengan syarat, jangan ceroboh. Sekali kalian ceroboh aku tidak akan mengampuninya. Kalian semua orang pintar bukan, jadi jangan pernah bersikap bodoh" lanjut V lalu pergi.

"Yes kita dapat senjata masing-masing diluar kerjaan kita" kata Yuju.

"Tapi karena kalian masih pelajar di senior high school kalian tidak boleh bawa barang itu kemana-mana, kalian paham kan" kata Umji.

"Memuaskan itu butuh stategi jadi jangan khawatir" kata DK.

"Baguslah kalau kalian ngerti, cepatlah berangkat kalau sarapan kalian sudah selesai" ujar Umji.

🍃🍃🍃

Sun, 14 June 2020.
Mian for typo...

My Only One KeyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang