Hubunganku dengan Disya telah kembali seperti semula. Namun sikap Tristan ke Disya sangatlah dingin dan cuek.
Semakin hari aku semakin dekat dengan Tristan. Tristan sangat peduli dan perhatian padaku. Dia akan menenuiku saat jam istirahat berlangsung. Mengajakku ke kantin, taman belakang, atau perpustakaan. Banyak pasang mata yang menetap kearahku dan Tristan saat kami sedang bersama.
Saat ini aku bersama sahabatku sedang berjalan ke kantin. Namun saat di depan kelas XII IPA 5, dari arah pintu keluarlah Tristan dengan sahabatnya.
"Eh ada bebeb Ellen" Fadil-sahabat Tristan melihat kami, kebetulan posisi kami saat ini sebelum kelas XII IPA 5. Sapaan Fadil terhadap Ellen membuat Tristan, Ilham, dan Agung menoleh kearah kami
"Mau ke kantin ya beb? Bareng kami sekalian yuk" lanjut Fadil. Ellen menoleh kearahku, meminta bantuanku menjawab aja ajakan Fadil
"Kalian duluan saja" jawabku. Tak ingin membuat anak-anak SMJ geger karena kedekatan kami. Sekarang saja sudah banyak pasang mata yang melihat kearah kami
"Udah bareng aja nin. Lagian tujuan kita sama" Tristan berjalan kearahku. Menggenggam tanganku, menarikku agar berjalan disampingnya. Sontak tindakannya membuat sahabatku dan sahabatnya ricuh sendiri
"Ciee"
"Pepet terus"
"Udah jadian aja"
"Bau bau traktiran nih"
Kalian tau sendiri siapa yang mengucapkan kata-kata surakan itu. Aku menundukkan wajahku, menutupi rasa malu yang aku alami
"Uhuyy ada yang malu-malu kucing nih"
"Bisa diam ga kalian?. Kasian kan Anin jadi malu" Tristan yang tau aku malu diledekin terus-menerus, menyuruh mereka diam. Yang otomatis membuat sahabat Tristan dan sahabatku diam, tidak menggodaku terus-menerus. Kami melanjutkan perjalanan ke kantin.
Sesampainya dikantin, kami lebih memilih duduk diluar kantin. Memang disediakan bangku diluar kantin, yang langsung menghadap ke arah taman tengah di sekolah kami.
"Mau pesen apa? Biar aku pesankan" tawar Meita
"Bakso sama es teh 1" Ilham yang mulai pesan makanan terlebih dahulu. Sepertinya dia lapar
"Samain aja sama Ilham deh" selanjutnya disusul Disya yang menyebutkan menu makanan
" Yang lain?" Tanya Meita lagi
"Samain aja" kompak yang lain kecuali Dita dan Tristan. Mereka kompak menjawab
"Mie ayam sama orange jus" kompak Tristan dan Disya
"Cieeee samaan"
"Kompak bener mas"
"Jodoh nih yeee" sahabat Tristan menggodaku dan Tristan lagi.
"Udah udah. Jadi pesenannya bakso 4, es teh 4, mie ayam 2, orange jus 2 ya? Ada tambahan lagi ga?" Meita yang tau suasana menjadi canggung berusaha mengembalikan suasana kembali seperti semula.
"engga" kompak semuanya
"Biar aku temenin pesen" Agung berdiri dari bangkunya untuk menghampiri Meita.
Meita dan Agung pergi ke penjual makanan di kantin. Tindakan agung tadi membuat kami para sahabat mereka saling bertatap mata. Seakan-akan mencari jawaban atas pertanyaan yang dipikiran kami melalui tatapan mata.
Saat makanan telah sampai dimeja kami, kami mengambil makanan yang kami pesan masing-masing. Aku memasukan 5 sendok sambal kedalam mie ayamku. Tindakanku ini menjadi perhatian Tristan.
Tristan menukar mie ayam yang didepanku dengan mie ayam miliknya. Aku protes akan tindakan Tristan itu
"Ih apa-apaan si. Itu mie ayam punyaku. Kembalikan engga" aku berusaha merebut kembali mie ayam milikku
"Kamu ga lihat sambel sebanyak ini? Nanti perutmu sakit gimana? Udah makan aja mie ayam punyaku"
"Engga mau. Engga enak tau makan mie ayam ga pedas. Kembaliin engga!"
"Ga. Makan aja itu"
Keributan yang aku buat dengan Tristan membuat sahabat kami jengah.
"Sama-sama mie ayam koh diributin" Ilham
"Tinggal makan aja apa susahnya si" Agung
"Kalian itu terlalu cocok. Sehingga hal sepele jadi bahan rebutan" Fadil
"Cocok darimananya? Ga sama sekali" aku meralat ucapan Fadil
"Udah makan aja apa repotnya sih. Jangan banyak bicara. Bel masuk bunyi tau rasa kalian" Meita tak tinggal diam. Moment makannya terganggu oleh kami, sehingga mau tidak mau dia angkat bicara
Mau tidak mau aku memakan mie ayam milik Tristan, hanya memakai sambel 1 sendok itupun atas izin Tristan. Rasa mie ayam menjadi kurang sedap, karena tidak pedas. Mau tidak mau aku harus memakan mie ayam ini, daripada aku kelaparan karena belum sempat sarapan tadi.
Aku menoleh kearah Tristan. Keringat bercucuran di dahinya. Tristan makan mie ayam dengan pelan sambil terus menerus minum orange jusnya.
Aku tidak tega melihat Tristan makan sambil kepedasan. Aku menyingkirkan mangkok mie ayam milik Tristan dan memindah mie ayam milikku ketengah kami. Tristan menatapku dengan alis diangkat satu
"Udah ga usah dimakan mie ayamnya. Makan ini aja"suruhku
"Tapi kamu gimana?" Tanyanya
"Kita barengan aja makannya daripada kamu kepedasan gitu"
"Maaf ya"
"Santai aja kali. Lagi pula aku yang salah"
Setelah selesai makan, bertepat dengan bel masuk berbunyi. kami kembali ke kelas masing-masing
~~~~~~~~~~~~💖💖💖~~~~~~~~~~~
Maaf ya guys up selalu pendek
Sekarang kelasnya online, tapi yang banyak tugas onlinenya
Kalian gimana ni yang masih sekolah? Tetap stay safe ya dimanapun kalian berada
KAMU SEDANG MEMBACA
ANINDITA (END)
Teen FictionKecelakaan beberapa tahun lalu membuatku hilang ingatan. Aku mengalami amnesia sebagain dan melupakan seseorang yang sangat berarti bagiku. Kedatangan seseorang yang berkaitan dengan masa laluku membawaku mengingat satu persatu memori yang hilang d...
