Part 13

1K 56 0
                                    

Setelah beberapa menit menjalani pemeriksaan dengan Dokter spesialis kandungan, Yura dinyatakan nyaris keguguran, namun berkat kecepatan Jimin saat mengemudi, membuat Yura dengan cepat sampai dirumah sakit dan cepat mendapatkan perotolongan pertama.

Dokter menjelaskan keadaan Yura pada Jimin, Ibu dan juga Ayah. Dokter menyarankan agar Yura dirawat untuk beberapa hari kedepan, melihat kondisi kandungan Yura yang sangat lemah membuat Dokter harus menyarankan agar Yura dirawat. Saran itupun di setujui Ayah Jimin. Walau sekecewa apapun Ayah Jimin pada menantunya itu, namun Ayah Jimin masih menyimpan rasa sayang untuk Yura.

Karna hari sudah sore dan Yura belum juga siuman, Jimin menyarankan Ayah dan Ibunya untuk kembali ke apartemen. Jimin berinisiatif menjaga Yura hingga tersadar dari tidurnya. Bukan tanpa alasan dirinya ingin berbaik hati menjaga Yura, dirinya hanya ingin mengingatkan Yura tentang persetujuannya tadi untuk menandatangani surat perceraian antara mereka berdua.

Setelah kepulangan orang tuanya, Jimin perlahan membuka pintu kamar rawat Yura dan masuk untuk menunggu kesadaran Yura. Sembari menunggu, Jimin mengambil ponsel di saku celananya dan menekan nomor seseorang. Setelah menekan beberapa digit nomor, Jimin lalu menempelkan ponselnya di telinga sambil menunggu panggilan terhubung.

Yura sebenarnya sudah tersadar ketika Jimin membuka pintu kamar bahkan ingin segera Jimin, namun niat itu ia urungkan ketika melihat Jimin akan menelpon seseorang.

"Hallo, Jack" sapa Jimin, dan ternyata yang dihubunginya adalah Jackson.

Yura hanya diam dan terus berpura pura tidur untuk mendengarkan percakapan mereka, yang kebetulan suara Jackson juga terdengar agak keras.

"Ya hallo Jim" balas Jackson.

"Terimakasih karna sudah membantuku, sekarang jalang ini sedang dirawat dirumah sakit karna hampir keguguran" Jimin berterimakasih pada Jackson, membuat Yura semakin penasaran dengan percakapan mereka.

"Apa yang kau lakukan padanya Jim? Kenapa Dia bisa masuk rumah sakit?" tanya Jackson dengan menggebu gebu.

"Hei, tenanglah Jack. Putri cantikmu tidak apa apa, Dia hanya hampir keguguran tapi tidak keguguran. Aku tidak sengaja mendorongnya hingga menabrak dinding" jawab Jimin santai.

"Kau gila" maki Jackson.

"Seharusnya kau senang, bukankah kau ingin mendapatkan Yura. Bukankah jika janin yang dikandungnya mati itu akan menguntungkan untukmu? Kau tenang saja besok aku akan resmi bercerai dengan jalang itu, dan kau bisa mengambil alih atas dirinya. Semua keluargaku membencinya atas kejadian ini, sungguh aku berterimakasih padamu Jack. Coba dari dulu kita jalankan rencana untuk menjebak Yura, pasti sudah sejak lama aku terbebas darinya. Sekali lagi terimakasih Jack, datanglah kesini aku akan kirimkan alamatnya padamu" jelas Jimin, dan sambungan pun terputus.

Yura shock atas apa yang baru saja di dengarnya, sekali lagi kenyataan yang begitu menamparnya. Jimin sudah tau tentang kehamilannya, dan berusaha menjebaknya dengan cara hina seperti itu. Ditambah lagi Jackson yang katanya mencintainya, juga merupakan bagian dari penjebakan ini.

Seketika Yura langsung memegang perut ratanya itu, memang masih rata karna usia kandungan Yura baru berumur 4 minggu.

'Bukan hanya Ibu, ternyata Ayahmu juga tak ingin mengakuimu dan berniat untuk membunuhmu nak' teriak batin Yura.

Karna sudah tidak tahan untuk menanyakan yang sebenarnya pada Jimin, Yura pun bangun dari tidurnya.

"Jim" panggil Yura pelan.

"Oh udh sadar, baguslah" cueknya.

"Aku mau tanya sesuatu?" lirih Yura.

"Apa?" jawab Jimin dingin.

"Apa kamu yang merencanakan penjebakan ini Jim? Jika iya kenapa kamu tega dengan darah dagingmu sendiri Jim?" tanya Yura dengan lelehan bening yang mengaliri pipinya.

"Oh kau sudah tau semuanya?" sarkas Jimin sambil berjalan ke arah Yura dengan posisi Yura yang bersandar pada ranjang.

"Kalau begitu aku tidak perlu lagi bersandiwara di depanmu. Besok kau harus tanda tangani surat cerai itu, dan aku akan segera menikahi Seulgi. Karna Seulgi sedang mengandung anakku, aku tidak sudi darahku bercampur denganmu Yura. Kejadian malam itu ku anggap adalah sebuah kesalahan, dan kenapa juga kau menyembunyikan kehamilanmu dariku, dan itulah kebodohanmu Yura, kebodohanmu yang sangat menguntungkan untukku" jelas Jimin panjang lebar.

"Dan, jangan pernah mengatakannya pada siapapun atau kau akan tahu akibatnya" ancam Jimin sambil mencengkram kuat kedua pipi Yura hingga meninggalkan bekas kemerahan.

Setelah melepaskan cengkremannya pada pipi Yura, pintu kamar rawat pun kembali dibuka dengan menampakkan wajah seseorang yang diyakini saat ini dibenci setengah mati oleh Yura.

"Oh Jack, kebetulan sekali putri cantikmu sudah bangun sekarang" ucap Jimin dengan nada mengejek.

"Untuk apa kau kesini? Apa kau sudah puas membuatku hancur Jack. Bukankah sudah ku katakan bahwa aku tidak bisa menerima perasaanmu" ucap Yura dengan suara bergetar menahan tangis.

"Maafkan aku Yura, tapi kenapa? Apa karna kau istrinya Jimin? asal kau tahu Jimin tidak pernah mencintaimu" ucap Jackson setengah berteriak.

"Kau mau tahu alasannya? Aku mencintai Jimin, masala Jimin tidak mencintaiku, kau tidak perlu memberitahu ku. Aku sudah cukup tahu dan cukup mengerti, tapi aku juga tidak tahu bahwa rasa cinta ku untuknya semakin hari semakin bertambah walau setiap hari Dia selalu menyiksaku. Baik secara fisik maupun psikisku. Apa kau puas sekarang, besok aku dan Jimin akan bercerai. Hidupku hancur Jack, kini kepercayaan Ayah Jimin sudah hilang padaku. Selamat atas keberhasilan kalian. Semoga setelah ini kalian bahagia" ucap Yura dengan isak tangisnya.

Yura menyingkap selimut yang membebat ditubuhnya, beranjak turun dan melepas paksa jarum infus yang melekat dipunggung tangannya, sehingga mengeluarkan sedikit darah tapi itu semua tidak dipedulikan Yura.

Dirinya hanya menatap sekilas pada dua lelaki yang masih berdiri disampingnya, dengan tatapan nanar Yura menatap Jimin dan memperlihatkan tatapan terlukanya. Sungguh, Yura memamg pernah berfikir jika hubungannya dengan Jimin suatu saat akan kandas, namun tidak ia tidak pernah terfikirkan akan dengan cara ini hubungannya terpisah.

Bahkan kini ada satu nyawa lagi yang harus ikut merasakan kehilangan, satu nyawa yang suatu hari nanti bisa saja menanyakan dimana keberadaan Ayahnya. Yura belum bisa memikirkan hal apa yang akan dikatakannya nanti jika saat itu tiba.

Yang menjadi prioritasnya saat ini adalah kesehatan dan keselamatan anaknya. Yura menyetujui perceraian ini juga bukan tanpa alasan. Yura meyakini jika dirinya tidak menanda tangani surat perceraian itu, maka Jimin akan berbuat sesuatu yang lebih nekat lagi dari ini.

Bersambung..

Vote dan Comment jangan lupa

I Love You My HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang