25

2.9K 189 7
                                        

Seminggu berlalu. Seminggu itu pula Taehyung dan Jungkook benar-benar selalu bertemu untuk berkencan, entah itu sepulang kuliah, atau sebelum kuliah dimulai.
Seminggu itu pula Jungkook harus diam- diam kerumah sakit, karena kadang ia pingsan atau kejang setelah berkencan.
Pernah juga Jungkook tidak kuliah dan membatalkan kencannya karena mimisan dan kepalanya yang sakit.

Seperti saat ini, Jungkook sedang dirumah sakit karena tadi pagi ia kejang dan appanya melarang Jungkook untuk kuliah.
Jungkook melakukan segala cara untuk meyakinkan Taehyung bahwa ia baik-baik saja agar Taehyung tidak menjenguknya kerumah, dan ia berhasil.

"Bagaimana? Apa Taehyung akan kerumah?" Tanya Namjoon.
"Tidak, appa, aku berhasil meyakinkannya lagi, ah, maksudku membohonginya.."
Seokjin mengelus kepala Jungkook, "jangan sedih, eomma punya sesuatu untukmu."
"Apa itu?"
"Ta-da!"
Seokjin menunjukkan boneka Cooky yang besar didepan Jungkook. Tentu saja Jungkook sangat senang, ia sudah lama sekali menginginkan boneka itu, karena ia tidak memiliki waktu dan selalu lupa saat ingin membelinya.
"Woah, terimakasih eomma.."
Jungkook langsung memeluk boneka besar itu.
"Eomma dan appa, kalian berjanjilah padaku.."
Seokjin melihat kearah Jungkook, lalu tangannya digenggam oleh Jungkook.
"Berjanjilah untuk tetap sehat dan melanjutkan hidup kalian.."
"Apa maksudmu?" Tanya Namjoon.
"Maksudku adalah, eomma dan appa harus tetap bahagia, sampai kapanpun."
Seokjin terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum, "tentu. Kita akan hidup dan bahagia bersama-sama."
"Appa akan berusaha menyembuhkanmu, sayang. Jangan khawatir.."
"Appa, eomma, benar ya, kalian harus selalu sehat dan bahagia.. jangan sampai kalian sakit dan sedih, itu akan membuat adek sedih juga.."
"Iya sayang, kami janji."
Jungkook kemudian memberi senyuman yang tidak dapat dimengerti oleh Seokjin dan Namjoon.

.
.
.

"Oppa, Taehyung masih belum mengetahui hal ini?"
Jimin menggeleng, "Ia masih bercerita seperti biasa tentang kencan dan sebagainya, dari situ aku tahu bahwa Jungkook belum menceritakan tentang itu. Ah, aku jadi khawatir jika Taehyung mengetahui itu dengan sendirinya, dia pasti akan marah bahwa sebenarnya kita tahu tapi tidak bilang apapun padanya."
"Mau bagaimana lagi? Ini semua keputusan Jungkook, oppa, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Jimin mendengus, ia sedikit kesal dengan tindakan Jungkook.
"Aku bingung, kenapa Jungkook tidak ingin melakukan kemoterapi? Bukankah itu bisa menyelamatkan hidupnya?" Tanya Jimin.
"Kemungkinan untuk sembuh hanya sedikit oppa, tidak banyak juga yang sembuh setelah kemoterapi."
"Menurutku seharusnya ia kemoterapi saja, demi kebaikan dirinya sendiri, bukan?" Timpal Jimin.
Yoongi menghela nafasnya, "mungkin Jungkook tidak ingin memberi harapan pada siapapun oppa. Baik Dokter, aku, oppa, bahkan Jungkook sendiri pun tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi setelah itu, apakah ia akan sembuh atau tidak. Sepertinya, Jungkook hanya tidak ingin merasa kesakitan, efek dari kemo itu pengaruhnya sangat besar oppa.."
Jimin terdiam sebentar, setelah itu ia kembali bicara.
"Dan, kenapa Jungkook tidak langsung bilang saja pada kita kalau dia terkena penyakit itu? Dengan begitu, dia tidak perlu repot menyembunyikan hal ini kepada semua orang termasuk Taehyung. Jungkook tidak memikirkan perasaan mereka." Jimin sebenarnya sedikit kecewa dengan keputusan Jungkook.
"Memang, oppa benar. Jungkook sedikit egois, tapi jika aku ada diposisinya, mungkin akupun akan melakukan hal yang sama. Ini hanya tergantung bagaimana karakter orang itu oppa."
"Maksudmu?"
"Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menghadapi sesuatu. Mungkin sebagian orang akan langsung mengumumkan pada temannya atau keluarganya saat tertimpa musibah, dan orang seperti itu terkesan selalu bergantung pada orang lain. Lalu sebagian orang lainnya, akan tetap diam meski ia terkena musibah, dan itu menampilkan kesan mandiri, tidak ingin bergantung pada orang lain,"
Tanpa sadar, Jimin mengangguk mendengar kata-kata Yoongi.
"dan Jungkook adalah orang dengan tipe yang mandiri. Sejak aku mengenalnya, ia diajarkan untuk tidak membuat orang lain kesusahan karena dirinya. Ia pasti akan bertanya dulu jika ingin meminta bantuan. Lalu, jika ia tahu bahwa aku atau siapapun itu sedang sibuk atau sedang tidak memungkinkan untuk dimintai bantuan, ia tidak akan pernah bilang."
Jimin hanya mendengarkan.
"Sama dengan keadaan sekarang, ia bahkan ragu untuk memberitahu ini pada orang tuanya, Jungkook bilang tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya," Yoongi menunduk, "aku mengerti Jungkook, oppa. Sekarang aku akan bertanya padamu," Yoongi melihat tepat ke mata Jimin, "bagaimana perasaan oppa jika seandainya aku bilang bahwa aku terkena penyakit mematikan?"
"Aku akan sedih, dan.. hancur, melihat orang yang aku cintai harus terkena penyakit mematikan.."
Yoongi tersenyum, "Jungkook tidak ingin Taehyung seperti itu, oppa. Dan, sebenarnya ia tidak ingin dikasihani.. ia tidak ingin melihat orang-orang  kesayangannya bersedih dan menangis dihadapannya."
Jelasnya panjang lebar.
"Baiklah, sekarang aku mengerti. Terimakasih." Ucapnya lalu tersenyum pada Yoongi.

Would You? (BTS GS) ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang