Gak berubah, masih aja

1K 102 19
                                        

"Dhirga! Ini kenapa warnanya begini? Mentereng banget. Silau tau liatnya," dinara misuh-misuh lagi pas ngeliat desain dhirga yang warnanya terang abiez.

Dinara heran, kenapa sih dhirga tuh kalo dia ngedesain pemilihan warnanya selalu mencolok dan warnanya gak banget menurut dinara? Meskipun dhirga itu emang berani memadukan baju warna terangnya dengan warna yang sesuai, tapi kan beda dengan desain kerjaan buat seminar.

"Kenapa sih bu ketu kenapa? Marah-marah soal warna melulu dari kemaren perasaan,"

"Nih liat. Apa-apaan warna kuning stabilo dipake buat warna background? Lo pikir dong, kita bukan pameran seni, tapi ini seminar nasional." Ucap dinara menggebu-gebu. Entah kenapa dinara tuh sekarang sensitif banget sama warna terang.

"Nar, gue bilangin ya. Kita tuh perlu warna yang eyecatching dan menarik perhatian peserta buat daftar di seminar kita. Ini bukan soal tulisan aja, warna juga ikut berperan."

"Ya tapi kan, bisa aja milih warna yang lebih adem atau kalem gitu. Warna kuning stabilo terlalu cerah, nanti kalo kena sinar matahari warnanya jadi mantul terus silau, alias ganggu." Jelas dinara.

"Yaudah oke, kalo itu mau lo, coba sini gue cari warna yang lebih cocok." Dhirga duduk di sebelah dinara yang memang tadinya lagi ngecheck beberapa desain. Dan akhirnya, mereka merevisi warna lagi secara bersama-sama.

"Coba deh warna tosca, kayaknya keliatan bagus," kata dinara sambil menunjuk layar laptop.

Dhirga mencoba mengapply warna tersebut ke background leaflet itu.

"Nah, apa gue bilang? Warna lebih kalem kan, coba tadi warna kuning stabilo. Mirip banget kayak baju hologram," gerutu dinara.

"Iya iya, bu ketu emang paling dabest kalo soal warna mah. Gue mah cuma bisa ngalah."

"Ya emang harusnya begitu lah. Gimana sih? Udah tuh, lanjutin lagi yang gue revisi tadi. Nanti gue balik lagi buat ngecheck sama-sama."

"Mau kemana emang?" Tanya dhirga penasaran.

Dinara menunjukkan suatu makalah proposal yang ada di pegangannya.

"Mau ngasih proposal PKM, pak harun minta secepatnya. Bye bye, nanti gue kesini lagi. Jangan kemana-mana." Setelah mengacak-acak rambutnya dhirga, gadis itu pergi secepat kilat.

"Heran. Entar lucu, bikin gemes, abis itu marah-marahin gue lagi. Untung sayang," gumam dhirga.






***






Dinara memegang proposal buat PKM. Udah berangsur-angsur lamanya ia dan kelompoknya delay terus soal proposal. Padahal mereka udah sebaik mungkin mengerjakan segala revisi yang disarankan oleh dospem. Tetapi tetap aja banyak salah sana sini.

Contohnya kayak sekarang.

"Nar, kamu seharusnya ngasih harga yang sepadan sama yang kamu kerjain. Jangan mahal-mahal gini. Nanti kampus gak bakal mau ngeluarin dana." Ucap pak harun.

"Tapi pak, kemaren kata PJ-nya gak apa-apa make harga yang mahal sekalipun. Soalnya dana juga buat dipake kalo ada kekurangan pak." Bela dinara dengan tegas.

"Iya bapak tau, tapi kalo terlalu besar seperti ini nanti mereka bakalan curiga sama jurusan kita, soalnya dananya kebanyakan banget ini."

"Ya pak, emang kebutuhannya segitu pak, mau diapain lagi dong."

"Yaudah sekarang press dananya lagi. Maksimal dibawah lima ya nar. Alat dan bahan yang emang diperlukan, yang gak diperlukan tandain aja. Besok langsung kasih ke bapak terus di tanda tanganin."

[1] Amore ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang