"Gimana? Mama nemuin nggak?" Rean meletakan asal tas nya di kursi dapur.
"Rean. Kamu ganti baju dulu sana."
"Mama, ketemu nggak?" Bahkan Rean tidak memperdulikan ucapan Mamanya. Yang ia pentingkan saat ini adalah jam nya.
"Mama nggak nemuin jam kamu. Kata Papa, nanti Papa yang ganti buat kamu."
"Aduh!!! Pasti Opa marah, Ma." Cemasnya.
Shea menepuk pelan punggung putranya yang melemas di kursi meja makan. Anaknya satu ini memang sangat tidak suka membuat Samuel marah. Rean begitu sayang pada Samuel, begitupun Samuel sendiri yang sangat menyayangi cucu cucunya, terutama cucu paling petakilannya.
"Opa nggak mungkin marah sama kamu. Kamu tau kan, gimana sayangnya Opa ke kamu. Rasa sayangnya ke kamu itu, melebihi rasa sayangnya pada cucu cucunya yang lain. Mungkin karena kamu yang selalu dekat dengan Opa. Percaya aja, Opa nggak bakal marah."
Rean mengangguk pelan, kalau dipikir memang dirinya tidak pernah mendapati Opanya marah padanya. Namun dirinya tetap mencemaskan apa yang tidak atau memang belum terjadi. Opanya juga manusia kan, punya tingkat kesabaran yang bisa menyusut kapan saja.
"Yaudah. Nanti sore Rean ke rumah Opa aja. Sekalian Rean nginep deh!"
Shea mengernyit, kemudian berbicara. "Kamu kan masih ada ulangan? Rumah Opa itu jauh dari sekolah, loh!"
"Ya iya sih Ma. Tapi, Re mau ketemu Opa buat bicarain jam. Siapa tau Opa bisa maafin Re dengan keberanian Re. Opa kan suka Re jujur dan berani tanggung jawab."
Shea menghela nafas lembut, mengelus perutnya yang sempat di tendang dari dalam oleh si jabang bayi. "Em.. asal kamu nggak ngerepotin di sana, Mama kasih izin." Ucapnya.
Rean tersenyum lebar, ia begitu semangat sampai-sampai memeluk erat Mamanya yang tubuhnya semakin berisi itu. "Aku sayang Mama! Banget...banget...!!! Ahhh... Apaan tuh!" Terkejutnya setelah sesuatu menyundul di area pinggang.
"Hehehe... Ini adik kamu, Re. Kayaknya nggak ngizinin kamu buat meluk-meluk Mama lagi." Kekeh Shea, mengelusi perutnya sembari menatap putranya yang cengo.
"Ha? Dia ngapain, Ma? Gerak-gerak gitu, Mama nggak sakit?" Bingung Rean, setia menatap perut buncit Mamanya. Sebenarnya Rean tidak pernah terbayang akan memiliki adik lagi di usianya yang semakin mendewasa.
"Nggak, kok. Kamu dulu juga gini. Malah dulu kamu sama Dean yang nendang-nendang di dalam." Protes Shea.
"Maafin kami, Ma. Mana tau kalau dulu bikin susah Mama."
"Nggak bikin susah, Re. Justru Mama seneng bisa rasain kehadiran kalian. Nanti kamu pasti ngerti kalau kamu udah punya istri."
"Kalau Rean nikahnya pas masih kuliah, gimana?" Tiba-tiba Rean menyuarakan apa yang melenggang di otaknya.
"Kamu udah bikin keputusan kayak gitu? Emang, siapa yang mau kamu jadiin istri?" Heran Shea, putranya memang cukup aneh.
Dengan kikuk, Rean menggaruk kepalanya. "Em, belum ada sih Ma. Tapi kalau bayangan, ada. Tapi Ma... Tapi... Arghhh... Rean nggak tau, deh! Cuma kalau aja gitu, Mama setuju nggak?"
Shea tersenyum, walau aneh tetap saja itu anaknya yang selalu ia banggakan. "Mama nurut aja. Yang penting itu udah pas sama keinginan kamu. Kalau udah takdir, ya siapa bisa nolak. Mama dukung apapun keputusan anak-anak Mama kelak."
"Awwww.... Manisnya!" Rean memegang pipinya sembari berkedip-kedip menatap Mamanya yang bersemu karena kelakuan putranya yang bisa sekali bikin merona. Shea saja bisa merona hanya karena sanjungan putranya, bagaimana dengan gadis-gadis yang di dekati Rean. Pasti mereka kelabakan karena wajahnya yang memanas karena malu-malu tapi mau.
Darah Leo ngalir deres, kayaknya. Batin Shea, terkekeh sendiri mengingat masa muda bersahaja bersama sang suami tercinta.
• • •
Bandara internasional Soekarno Hatta
"Yes, Dad. Aku sudah sampai di Indonesia. Daddy kapan pulangnya?"
"Baiklah. Aku akan langsung ke kantor."
Tut!!!
"Gimana?"
Charlotte menoleh menatap Marcell yang membantunya memasukkan koper miliknya ke bagasi mobil jemputan mereka. "Kayaknya kita nggak bisa lunch bareng dulu. Daddy minta aku langsung urus beberapa berkas untuk pembangunan villa baru di Maldives."
Marcell mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti bagaimana sibuknya seorang Colton. Harusnya siang ini mereka makan siang bersama di restaurant yang di rekomendasikan oleh Delon pagi tadi saat bertelepon dengannya. Walaupun begitu masih ada waktu lain hari untuk mereka berdua lunch bareng.
"Cari waktu senggang lain hari aja, ya?" Celetuk Charlotte.
"Okay. Ayo masuk. Langsung ke kantor, kan?"
"He'em."
Mereka berdua masuk ke mobil pribadi keluarga Charlotte. Walau masih lelah akibat duduk terlalu lama di dalam pesawat, Charlotte tidak bisa menunda untuk mengurusi perusahan Papanya yang begitu di beratkan padanya.
Sebelum keberangkatannya dini hari tadi dari Russia ke Indonesia, Charlotte menyempatkan waktu kemarin untuk menemui Zezco dan menyelesaikan segala permasalahan diantara mereka. Zezco meminta kesempatan kedua padanya, dan dengan ragu Charlotte memberikannya. Bukan untuk dibawa hati, namun Charlotte ingin membalas permainan Zezco selama ini di belakangnya. Jadi, Charlotte memberikannya kesempatan kedua dengan Charlotte yang tidak lagi akan memberikan hatinya pada pria itu.
"Jangan di pikirkan lagi. Kita sudah di Indonesia. Make your day more colorful with the presence of new people!" Marcell menyemangati Charlotte, karena Marcell mengerti bagaimana perasaan Charlotte setelah kehilangan cinta yang begitu di harapkan itu. Rasanya pasti tidak rela dan susah untuk di hapuskan. Marcell pernah merasakannya.
"Kata Daddy, lo jagain Mommy saja di rumah. Nanti malam akan ada kerabat Mommy yang berkunjung. Jadi kalau gue belum pulang, lo bisa temenin Mommy nyambut mereka."
Mata Marcell melotot, benarkah dirinya di perintahkan untuk itu? "Beneran? Keluarga lo yang di Indonesia? Ada Jasmine?"
Charlotte tertawa, heran dengan Marcell yang suka sekali menyembunyikan ketertarikan pada sepupu Charlotte dari pihak Mama itu. Pasalnya Marcell terlalu mencurigakan jika ingin menyembunyikan perasaan sukanya terhadap Jasmine si gadis lugu dari Sunda.
"Kalau suka, bilang aja, Cel!" Cetusnya.
Marcell meringis, antara mau dan tidak. Karena mengingat dirinya yang jauh dari kata baik, mana mungkin gadis selugu dan sebaik Jasmine mau menerimanya nanti.
"Nggak, deh! Gini aja dulu. Tunggu keajaiban dari Tuhan aja." Asal Marcell.
Charlotte menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau lo nggak mau usaha dulu. Mana ada keajaiban yang di berikan buat lo dengan cuma-cuma?!"
"I'll kill you, Carl!" Geram Marcell, memiting erat-erat leher Charlotte. Membuat tawa keduanya menggelegar memenuhi mobil dan menganggu konsentrasi sang supir.
Next>>>

KAMU SEDANG MEMBACA
BABE [Beyond The Limit]
Teen Fiction[ALREAN SERRANO] UPDATE SETIAP INGAT! 'Gue lebih suka lingerie daripada melody' "Nggak sembarangan kok. Gue cuman mau ngehemat duit, jadi gue bawain kalian ponakan aja. Byeeeee!!!"