"Rean? Kamu kesini? Ayo masuk, sayang!" Jenny mempersilahkan cucunya masuk.
"Oma? Opa kemana? Kok sepi?"
Seraya menggiring cucunya duduk di ruang tamu, Jenny memanggil pelayan untuk membuatkan cucunya minum dan juga menyiapkan makan malam.
"Opa lagi ke rumah temannya. Lagian di sini nggak sepi kok. Ada Oma juga asisten Oma. Kalau mau lebih rame, kamu kenapa nggak ajak adik adik kamu?"
"Oma, ini aku kesini karena ada sesuatu pribadi. Aku nginep, ya?" Ucapnya dengan nada memelas.
"Kamu ada urusan sama Opa, ya? Kenapa kamu nakalnya nggak ilang sih, Re?!" Gerutu Jenny, walau sudah tua ia masih bisa kesal dengan cucu limited nya itu.
"Nakal kan udah ciri khas Rean. Lagian kalau nggak nakal, nggak ada kenangan untuk masa tua." Asal Rean, ia meletakkan ranselnya di samping kakinya.
"Kamu katanya UAS?"
"Emang. Ini juga bawa seragam buat besok."
"Kalau lagi ulangan, kamu harusnya belajar di rumah. Nggak malah nginep sana sini."
"Sana sini gimana sih, Oma? Aku kan nginep di sini doang. Sananya nggak ada!" Dasar cucu aneh.
"Terserah kamu, Re! Oma nggak mau denger apa-apa lagi. Mulut kamu suka bikin Oma migren."
"Kan di tv ada siaran obatnya." Gumam Rean, Jenny mendelik tajam ketika mendengar balasan dari ucapannya itu.
"Assalamu'alaikum!" Suara pria yang menginterupsi aksi cucu dan nenek itu.
"Walaikumsalam!"
Samuel datang dari pintu utama, ia tersenyum melihat cucunya ada di dalam rumahnya. Sudah lama ia tidak jumpa dengan cucu-cucunya. "Kamu pulang dari New York nggak bawa oleh-oleh buat Opa?"
"Boro-boro bawa oleh-oleh, disana aja cuma sehari."
"Emang kamu ngapain ke sana?"
"Nyusul calon istri." Jawab acuh Rean.
Jenny dan juga Samuel mendelik terkejut, cucunya sudah seserius itu kan dengan seorang gadis? "Kamu sudah mau menikah?" Jenny bertanya lebih dulu.
"Ya. Niatnya gitu. Tapi nggak jadi, dia nolak Rean. Padahal Rean ini tipe banyak cewek kan?"
"Lagian, kamu kan masih kecil. Belum waktunya sejauh itu. Pikirin sekolah dulu. Heran Oma, tuh! Kamu mirip banget sama Papa mu."
"Ya beda Oma! Aku kan mau nikahin dulu, baru bikin cicit buat kalian."
Plak! Geplakkan keras dari Samuel, membuat tulang punggung Rean meleset dari posisi sebelumnya. "Aduhhh!!! Sakit, Opa! Jahat banget sama cucu sendiri!" Protes Rean, menatap tak suka pada Samuel yang tiba-tiba hampir merontokkan tulangnya.
"Kamu kalau ngomong jangan sembarangan. Sekarang Opa tanya, apa tujuan kamu kesini?"
"Jangan bilang minta restu buat nikah?!" Tambah Jenny, makin khawatir dengan anak-anak Leo.
Rean mendengus, ia berdiri dan menenteng tasnya berjalan menuju tangga rumah berlantai dua itu. "Aku mau nebus kesalahan disini." Ucapnya hampir menghilang di ujung tangga teratas.
"Apa maksudnya?" Tanya Samuel pada sang istri yang mengedikan bahu di hadapannya.
"Tanya Shea saja. Nanti aku teleponin." Janny memberikan sarannya, agar tak terlalu memikirkan teka-teki yang cucunya beri.
Sementara di atas, Rean telah merebahkan tubuhnya di kasur yang lama tak ia tempati. Biasanya kalau menginap, kamar itu akan menjadi kamarnya dengan Dean. Tapi kali ini ia berkuasa penuh atas kamar tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
BABE [Beyond The Limit]
Підліткова література[ALREAN SERRANO] UPDATE SETIAP INGAT! 'Gue lebih suka lingerie daripada melody' "Nggak sembarangan kok. Gue cuman mau ngehemat duit, jadi gue bawain kalian ponakan aja. Byeeeee!!!"