Jangan lupa vote ⭐ & comment 🌈
Happy Reading ✨
Enjoy🕊
• • •
Ini sudah pukul 2 dini hari, namun Arka masih mengendarai motor kesayangannya. Perayaan mereka sudah selesai dan berjalan dengan lancar hingga akhir. Banyak anak-anak PASTERA yang lebih memilih untuk menginap disana. Tapi Arka, ia lebih memilih untuk pulang.
Jalanan dingin yang sepi di lewati oleh Arka. Matanya fokus menatap jalan sedangkan pikirannya tak sabar untuk sampai ke rumah.
Saat sampai di depan rumahnya, ternyata gerbang sudah di kunci. Arka menggedor-gedor gerbang tersebut berharap agar Mang Jaki, Satpam rumahnya membukakan kunci gerbang.
"Mang! Mang Jaki!" Panggil Arka sesekali.
Tak lama kemudian, gerbang besar tersebut terbuka dan terlihatlah wajah Mang Jaki yang masih segar dan bugar. Ia tak melalaikan tugasnya untuk menjaga rumah ini.
"Masuk den."
"Makasih Mang."
Arka melajukan motornya sampai di depan pintu rumah, lalu tanpa basi-basi membuka pintu yang tidak terkunci itu. Ia sengaja meminta pada mbok Ati untuk tidak usah mengunci pintu depan karena ia sering pulang malam seperti ini, dan ia tak tega membangunkan Mbok Ati untuk membukakan pintu. Dan Arka tak bisa kalau harus membawa kuci cadangan bersamanya. Ia itu pelupa dan ceroboh.
Lagi pula, gerbang kan sudah di kunci dan Arka jamin tidak akan ada yang berani untuk merampok rumahnya karena Arsel telah mempekerjakan 5 orang security untuk berjaga di pos. Jadi, security-security itu akan memeriksa siapa-siapa saja yang akan masuk ke dalam daerah ini.
Saat pintu rumah terbuka, Arka segera masuk dan berjalan ke ruang keluarga. Tak ada orang, lalu Arka memutuskan untuk pergi ke dapur. Di dapur terlihat Mbok Ati yang tengah membuat teh hangat.
"Mbok?"
"Eh Aden udah pulang." Jawab Mbok Ati salah tingkah lalu menghampiri Arka.
"Itu teh untuk siapa mbok?" Arka mengernyit. Tumben sekali Mbok Ati belum tidur pada jam segini.
"Untuk bapak den."
"Papa udah pulang mbok?"
"Udah den, itu lagi di kamarnya."
Arka mengangguk lalu buru-buru pergi ke kamar Ayahnya yang terletak di lantai atas. Ini yang sedari tadi ia tunggu.
Saat sampai di depan pintu kamar, Arka berhenti sebentar, lalu dengan perlahan membuka pintu kamar itu. Terlihat di matanya seorang pria berusia 40 akhir tengah duduk di atas ranjang dengan laptop di pangkuannya. Tak lupa pula dengan kacamata baca andalannya yang sudah tua.
"Pa?"
Laki-laki itu membenarkan posisi kacamatanya, lalu tersenyum saat melihat Arka. Ia meletakkan laptopnya lalu bergerak menghampiri. Mereka hanya saling memiliki satu sama lain. Kania—ibu Arka—telah meninggal 4 tahun yang lalu karena penyakit yang diidapnya.
"Kamu baru pulang Ka?"
"Iya. Papa kapan sampe di rumah?"
"Emm, sekitar 20 menit yang lalu." Ujar Arsel tal yakin sambil menatap jam dinding.
Arka yang mendengar itu terkekeh lalu maju untuk memeluk Ayahnya. Arsel menyambut pelukan Arka dengan senang lalu menepuk-nepuk pelan punggung anak semata wayangnya itu.
"Gimana acaranya?"
"Lancar."
"Sekolah kamu gimana?"
"Nah, itu yang gak lancar."
Arsel dan Arka sama-sama tertawa. Ia membawa Arka untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar ini. Saat duduk di Sofa, mata Arka langsung menangkap foto pernikahan Ayah dan Ibunya yang berukuran super besar. Foto itu dipajang tepat di dinding atas ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
A R K A
Fiksi RemajaArkana Geano Bintang, Seorang laki-laki tinggi dengan sorot mata yang tajam. Ia merupakan ketua dari geng bermasalah yang sering di sebut-sebut dengan nama geng Garuda. Tak ada yang berani dengannya, bahkan guru-guru di SMA Kartini pun tak ada yang...
