Tok tok tok!
"Cari siapa dek?"
"Selamat pagi om saya Rafael,Anjaninya ada?" Tanya nya dengan senyum manisnya—yang jarang sekali ia di tunjukan.
"Oh! Anjaninya masih mandi, sini masuk dulu"ucap Papa Anjani, menyuruh Rafael masuk ke dalam rumah, karena akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menunggu Anjani bersiap.
"Kamu pacarnya Anjani?"lagi lagi Papa Anjani bertanya kepada Rafael. Dengan senyumnya yang masih melekat di wajah tampannya Rafael menggeleng sebagai jawaban.
"Kamu udah makan?"tanya Papa Anjani,lagi. "Udah om, tadi udah makan di rumah"jawab Rafael.
"Pa!"
Langkah Anjani berhenti ketika melihat Papanya dan Rafael sedang berbincang di ruang tamu, seperti mertua dan menantunya. Namun Anjani langsung menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Mau berangkat?"tanya Papa Anjani yang langsung berdiri dari sofanya, begitu juga dengan Rafael.
"I-iya, hehe" jawab Anjani sedikit canggung, karena Rafael sedari tadi memperhatikannya dan Papanya.
"Loh, tumben ngga pake earphone, kenapa?earphone nya rusak?" Sungguh, pertanyaan itu sudah cukup membuat jantung Anjani rasanya ingin keluar.
"Itu-"
Belum sempat ia menjawab pertanyaan Papanya, Pangeran terlebih dulu memotong omongan Anjani.
"Handphone nya rusak pah" ucap Pangeran yang baru saja turun dari tangga, diikuti dengan sebuah handuk di lehernya.
Kenapa sih punya abang mulutnya licin banget batin Anjani.
Kini Anjani sudah siap di untuk di ceramahi oleh Papanya,kepalanya ia tundukan, bibirnua ia gigit dan sekarang Anjani sudah mulai keringat dingin. Sebelum akhirnya...
"Maaf om, handphone Anjani rusak karena saya, tapi bakal saya ganti kok" ucap Rafael meyakinkan Papa Anjani.
Papa Anjani menghela nafasnya kasar, "aduh, Anjani mangkanya kalau punya barang di jaga ya, jadi ngerepotin orang kan"ucap Papa Anjani sambil menatap anak bungsu nya itu.
"Iya pah,"ia menjawab sambil menundukan kepalanya, "Anjani berangkat dulu pah"lanjutnya sambil pamit, dan di ikuti oleh Rafael.
Kini Anjani dan Rafael sudah sampai di parkiran sekolah, seperti yang ada di dalam kepala Anjani, yap! Semua orang memperhatikannya dengan Rafael.
"Ngga usah cemberut, gua bakal tanggung jawab kok"ucap Rafael sembari melepaskan helm yang masih terpasang di kepala Anjani. Anjani hanya bisa menunduk untuk menutupi rona merah pada pipinya.
Rafael mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah smartphone—namun bukan smartphone milik Rafael yang sering Anjani lihat.
"Pake ini selagi handphone lu belom gua balikin. Walaupun model lama, masih bisa di pake kok,"jelas Rafael, yang di jawab anggukan oleh Anjani, "disini cuman ada nomor gua sama nomor Vella, kalo mau nambahin nomor orang tua lu tinggal tambahin. Kuota gua isi setiap bulan, jangan di abisin"ucap Rafael panjang kali lebar kali tinggi.
"Oh iya, pulang lu bareng gua lagi"akhirnya Rafael berjalan melewati Anjani setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Sedangkan Anjani hanya bisa mematung di tempatnya sambil memegang smartphone milik Rafael.
🌜🌜🌜
Triiiiiiiing!
Akhinya bel istirahat kedua berbunyi, semua siswa dan siswi yang berada di dalam kelas kini mulai berhamburan keluar. Namun tidak dengan Anjani dan juga Neira, mereka masih di dalam kelas untuk mengerjakan tugas yang tertinggal.
Tok tok tok
Anjani dan Neira yang mendengar suara pintu kelasnya pun langsung menengok ke arah suara, dan menemukan guru seni mereka tengah berdiri di depan kelas sambil memegang kertas di tangannya.
"Permisi, disini ada Anjani?" Tanya guru tersebut sambil berjalan ke arah papan tulis. Anjani yang merasa terpanggil pun mengangkat tangannya.
"Maaf ya bapak ganggu. Disini bapak minta kamu untuk ngisi acara di perpisahan kelas 12"ujar sang guru langsung ke intinya.
"Saya pikir pikir dulu bisa pak?"tanya Anjani —dengan mencoba untuk terlihat sopan kepada sang guru. "Iya boleh, pulang sekolah bapak tunggu. Kalau kamu mau lusa langsung latihan di perpustakaan ya"ucap sang guru yang langsung pergi meninggalkan Anjani dan Neira.
"Gimana? Lu mau?"tanya Neira yang akhirnya bersuara. Anjani yang sebenernya masih bingung pun hanya mengangkat kedua bahunya sebagai respon.
Anjani mengeluarkan smartphone yang Rafael berikan kepadanya tadi pagi, ia baru menyalakamnnya sekarang. Astaga! Sepertinya Anjani lupa menanyakan password kepada Rafael.
"Nei, anterin gua yuk ke kelas Rafa"ucap Anjani sambil menggoyangkan kedua bahu Neira—dengan tenaga yang sedikit kuat—sehingga ia hampir saja terjatuh."Iya iya"ucap Neira yang akhirnya pasrah.
"Permisi, ada Rafael?"ucap Anjani saat sampai di depan pintu kelas Rafael, tentu dengan Neira yang ada di belakangnya.
Dari ujung kelas Rafael berjalan ke arah Anjani. "Gua lupa nanya password nya, hehe" ucap Anjani agak canggung, karena semua orang di kelas Rafael memperhatikannya dan juga Rafael.
Astaga, kapan lagi Anjani seberani ini—walaupun di temani oleh Neira—ke kelas Rafael dan yang paling penting, mengajak ngobrolnya di depan teman sekelasnya.
"Tanggal ulang tahun gua"ucap Rafael, lalu meninggalkan Anjani yang masih mematung di tempatnya, dan juga Neira yang masih mematung dan tidak percaya apa yang sahabatnya lakukan.
"Lu udah gila ya? Mana harga diri lu?"tanya Neira sesampainya mereka di kelas, tentu dengan gaya nya yang over. Jujur saja Anjani tidak mengerti topik yang di bawakan oleh Neira, ia hanya bisa mengerutkan alisnya.
"Astaga! Kok lu minjem minjem handphone Rafael sih! Punya lu kemana?"tanya Neira yang masih ngegas. "Handphone gua rusak gara gara Rafael, jadinya gua di pinjemin ini sementara. Walaupun kayaknya ngga bisa berbuat banyak selain telfon dan searching" jelas Anjani dan langsung mengerjakan tugasnya lagi.
Sungguh, Neira tidak bisa berkata kata lagi. Kenapa ia sangat kudet, tadi pagi satu sekolah di kagetkan dengan Rafael dan Anjani yang berangkat bersama, sekarang? Ia mengetahui alasannya.
"You're lucky"
***
Haloh haloh jakarta
Hari ini agak banyak ya nulisnya, karena di teror gais :)))))
Hope you like it gais.
Btw kayaknya ending agak di ulur ulur nih dikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming
JugendliteraturMemang seharusnya cewek itu takdirnya dikejar bukan mengejar namun itu tidak berlaku bagi Anjani, sudah mengaggumi Rafa selama dua tahun bukan lah hal yang mudah. Anjani Gwens cewek cuek, judes, dan cantik tidak sepopuler Rafa. Hidup nya hanya bisa...
