Duapuluh Empat

46 7 0
                                    

Happy Reading!<3

🌹

Tok tok tok!

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Sea sudah sampai di rumah Bima. Dengan berat hati dan sangat hati-hati Bima membuka pintu rumahnya. Dan seperti dugaan Bima, ekspresi wajah Sea pertama kali saat melihat kondisi Bima adalah, terkejut.

"Masuk dulu" ucap Bima menyuruh Sea yang masih memakai seragam sekolah untuk masuk ke rumahnya.

Dari Sea masuk ke dalam rumah Bima sampai dia duduk, pandangannya hanya menatap wajah Bima yang babak belur dengan tatapan cemas, terkejut, bahkan bingung.

"Jatoh dari motor" ucap Bima membuka suara, seakan sudah tau apa yang akan ditanya oleh Sea.

"Bohong" ucap Sea menyangkal.

"Serius, Ya. Tadi mau ngindarin kucing jadi nabrak pohon" ucap Bima meyakinkan Sea.

Sea mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya, seakan tidak yakin dan tidak percaya dengan pernyataan Bima.

"Nabrak pohon?" Tanya Sea mengintograsi.

"Iyaa" jawab Bima sambil mengangguk.

Sea meluruskan tubuhnya lalu menghela nafasnya, dia tidak bersuara lagi. Sea berdiri lalu keluar dari rumah Bima, diikuti Bima. Dia menghampiri motor Bima yang terparkir di depan rumah Bima.

"Motor kamu mulus mulus aja ini, gak ada tanda tanda abis nabrak pohon" ucap Sea sambil melipat kedua tangannya.

"Wah, keren ya motor aku, nabrak pohon tapi gak lecet" ucap Bima sambil tepuk tangan pelan dan tertawa kecil.

"Aku tau kamu bohong" ucap Sea yang kini mengganti posisi tangannya menjadi berkacak pinggang.

"Enggak bohong, Ya. Sum—" ucapan Bima terpotong saat melihat tatapan Sea yang mulai tajam.

"Aku kenal kamu itu udah 13 tahun. Aku tau kamu bohong apa enggak" ucap Sea yang kembali melipat kedua tangannya.

"Ngobrolnya di dalem aja, yuk" ucap Bima sambil nyengir nyengir

Sea menghela nafasnya lalu menurunkan kedua tangannya. Dia berjalan masuk ke dalam rumah mendahului Bima.

"Tadi aku hampir dibegal, belom sempet dibunuh udah banyak yang nolongin" ucap Bima santai.

Sea melotot, "Jadi pengen dibunuh?" Tanya Sea memajukan wajahnya.

"Ya enggak lah" ucap Bima yang memundurkan wajahnya.

Sea memundurkan kembali wajahnya lalu menghela nafas.
"Masa siang siang dibegal sih" ucap Sea sambil mengernyitkan keningnya.

"Gak percaya lagi? Mau bukti apalagi? Mau aku cariin nih tukang begalnya biar kamu introgasi?" Ucap Bima dengan tarikan satu nafas.

"Nah!" Ucap Sea dengan wajah yang penuh semangat sambil menjentikkan jarinya.

"Nah apa?" Tanya Bima bingung.

"Cariin tukang begalnya" ucap Sea sambil tersenyum sumringah.

Bima mengernyitkan keningnya, tak habis pikir dengan ucapan Sea yang setuju dengan ucapannya tadi.

"Becanda. Percaya kok percaya" ucap Sea lalu menyikut pinggang Bima sambil tertawa.

"Usil banget sih" ucap Bima sambil mengacak-acak rambut Sea.

"Ih, Bima! Rusak rambut akuuuu" ucap Sea kesal lalu memanyunkan bibirnya.

"Lebay, udah kucel juga. Sana pulang, mandi sekalian" ucap Bima sambil mengelus rambut Sea.

Sea [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang