Langkah Sakura terhenti ketika ia melihat ada kaki lain yang berhenti tepat didepannya.
Ia mendongakan kepalanya untuk melihat siapa orang yang hampir ia tabrak dan memanggilnya itu,
"K-Kazekage-sama!?"
Sakura secara refleks memundurkan langkah kakinya sebanyak dua langkah, Gaara menatapnya datar seperti biasa. Pemuda itu menggunakan pakaian merahnya serta jubah Kazekage yang menjadi kebanggaannya.
Mereka terdiam, dan bertatapan seperti tadi siang. Gaara tidak bersuara dan Sakura pun tidak berniat untuk mengatakan suatu sesuatu pada Gaara.
Orang ini panjang umur, hati Sakura meronta ingin pulang.
Gaara maju dua langkah, mendekatkan dirinya dengan Sakura. Secara slow motion Gaara melepaskan jubah Kaze yang ia kenakan dan memakaikannya pada Sakura tanpa permisi terlebih dahulu.
Sakura termenung, menatap Gaara dengan penuh tanda tanya. "T-Tidak perlu Kazekage-sama aku bisa menghanga—"
"Menggunakan pakaian sepertu itu diawal musim dingin," Gaara berucap datar, "Kau mau mati kedinginan?" lanjutnya masih dengan nada yang monoton. Sakura meneguk ludahnya sendiri, bingung harus bereaksi seperti apa, "T-Terimakasih.." ucapnya gugup.
Sakura mengutuk lidahnya yang selalu terasa kaku saat berbicara dengan Gaara, ia harap Gaara tidak menyadari akan hal itu. "Hn.." sebuah gumaman keluar dari mulut Gaara. Suhu yang mulai mendingin ditambah lagi dengan pertemuannya dengan Gaara calon tunangannya yang juga bersifat dingin membuat Sakura membeku ditempatnya.
"Apa yang kau lakukan?" Gaara kembali bertanya, dalam hati ia menyesali hal itu. Mengapa ia tidak bisa menghentikan mulutnya yang ingin terus bersuara saat bertemu dengan Sakura?
Sakura memiringkan kepalanya, "Tentu saja bekerja, sekarang biar aku yang bertanya. Apa yang dilakukan seorang Kazekage dimalam hari begini?" gadis itu menjawab sekaligus bertanya.
Gaara membungkan mulutnya, tidak mungkin kan ia mengatakan pada Sakura jika ia berdiri diatap rumah sakit dari awal Sakura datang untuk bekerja hingga saat ini?
"Mencari udara segar" jawab Gaara asal, Sakura mengerutkan dahinya, "Diawal musim dingin seperti ini?" tanyanya lagi, "Hn," dan mendapat jawaban singkat dari pemimpin desa Suna itu.
Sakura tersenyum tulus, "Berkeliaran dimalam hari itu tidak bagus Kazekage-sama, apalagi dimusim dingin seperti ini.." Sakura memberi nasihat singkat yang dijawab dengan gumaman yang terdengar samar dari mulut Gaara. Dia sedikit mirip dengan Sasuke-kun, pikir Sakura sekilas.
Keadaan menjadi hening lagi, dan mereka masih berdiri dan saling berhadpan didepan gerbang rumah sakit. Sakura mengigit bibir bawahnya dan mengeratkan jubah milik Gaara ke tubuhnya agar terasa hangat, gadis itu kedinginan dan kepalanya kini mulai terasa semakin berat.
"Pulang," Gaara berucap dengan nada datar, hal itu membuat Sakura bingung. "Kau ingin pulang Kazekage-sama?"
Gaara menghela napas, kenapa Sakura sangat tidak peka?
"Mengantarmu pulang," ucap Gaara, "Ya?"
"Aku akan mengantarmu pulang, Sakura." Mendengar itu Sakura mengusap dadanya, lega rasanya karena ia tidak jadi pulang sendirian, persetan dengan sahabat kuningnya yang membuatnya ketakutan untuk pulang sendirian dimalam hari.
Gaara membuang pandangannya ke sembarang arah, Gaara yakin jika wajahnya sekarang pasti memerah. Ini membuatnya malu, Sakura tertawa pelan. "Kau lucu sekali Kazekage-sama.." gumamnya yang masih bisa didengar Gaara.
Hal itu sukses membuat wajah Gaara semakin memanas, "Ayo" ajak Gaara. "Ya, ayo."
Mereka berjalan beriringan secara lamban, lebih tepatnya Sakura mengikuti tempo berjalan Gaara yang terlihat lamban. Sakura menatap lurus kedepan sambil berjalan, sesekali ia melirik Gaara melalui ekor matanya, ah sial kenapa ia jadi suka menatap wajah dingin itu?
Seketika gadis bermarga Haruno yang sedang kedinginan disana teringat akan pesta pernikahan sahabatnya yanga akan diadakan hari sabtu besok. "K-Kazekage-sama!" Sakura memanggil Gaara, bahkan terdengar seperti teriakan. Padahal Gaara berada tepat disebelahnya,
Lelaki itu menghentikan langkahnya, sedikit terkejut. Ia menoleh ke kiri dan mendapati gadisnya sedang menatapnya ragu-ragu, "Hn?"
Sakura menunduk, "I-itu, um..." gadis itu mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan, "Sabtu nanti... adalah acara pernikahan Ino.. Kau tahu? Hm.. Jika waktumu senggang.. M-M-Maukahkaudatangkepestapernikahaninobersamaku?"
Gaara mengrenyit, ia dapat menangkap apa yang Sakura katakan barusan. Namun sebuah ide jahil muncul di kepalanya, "Apa? Kau berbicara terlalu cepat," respon Gaara santai.
Sakura menggigit bibir bawahnya, ia gelisah. "Ma-Maukah kau pergi ke pesta pernikahan Ino.. B-Ber.. bersama.. ku?" ucapnya terbata-bata. Gaara tersenyum tipis, mana mungkin ia menolak ajakan calon tunangannya ini? Tidak mungkin bukan?
"Tentu," jawabnya.
Sakura hampir dibuat menganga, semudah itu dia menerima ajakanku?
Sakura merasa lega, setidaknya ia tidak akan datang sendirian ke acara pernikahan Ino seperti waktu itu saat ia mendatangi acara pernikahan Naruto. Jika Gaara menolaknya Sakura sudah berniat untuk mengajak Kiba atau Shino atau bahkan mengajak Kakashi untuk menjadi partnernya. Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama, saat pernikahan Naruto kemarin ia habis menjadi bahan ledekan rekan seangkatannya dulu diakademi. Tapi tidak untuk kali ini,
Sakura memperlambat tempo berjalannya. Badannya mulai terasa lemas, ia memegang kepalanya, rasa sakit itu semakin kuat. Perlahan pengelihatannya mulai samar, dan semua terasa gelap.
"Sakura!"
Dan kata itu adalah kata terakhir yang ia dengar.
.
.
.
• To Be Continue •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.