[4] Jangan Perhatian

3.1K 484 22
                                        

•Chapter4•
Good Morning, And Happy Reading

Kali ini Vantae baru saja keluar dari sebuah mini market, dan disambut dengan hujan lebat. Sebenarnya sebelum berangkat pun sudah mendung dan sialnya Vantae tidak membawa payung atau jas hujan.

Mau tidak mau Vantae meneduh, hingga mata elangnya menangkap seseorang yang tak asing yang baru saja keluar dari mini market yang sama.

Sebuah kebetulan yang membuat Vantae tersenyum sumringah.

Vantae pun dengan pelan mendekatkan diri pada orang itu. "Hai" sapanya.

"Kak Vantae?"

Lelaki itu tersenyum, "Syukurlah kamu masih inget namaku"

Rosé tak menggubris ucapan Vantae. Ia lebih memilih membuka payungnya dan meninggalkan minimarket tersebut. Sungguh gadis itu membuat Vantae semakin penasaran.

Dan seperdetik kemudian Vantae sudah berada disamping Rosé yang tengah memegang payung, membuat gadis itu kaget. Untung saja payungnya tidak terlempar. "Kakak mau ngapain?"

"Numpang"

"Kemana?"

"Mau barengan sama kamu" Rosé mengerinyitkan dahinya dan menatap Vantae heran.

"Aku mau ngajak kamu makan dirumah makan itu" lanjut Vantae.

Jujur Rosé bingung. Dari kemarin kenapa ia selalu bertemu lelaki aneh ini. Dan sekarang tiba-tiba saja berada disampingnya dan mengajaknya makan.

"Ayo"

"Tap -"

"Kenapa? Udah ah ayo" Vantae pun langsung menarik tangan Rosé, sambil memegang payung yang dipegang Rosé tadi. Pemaksa sekali pemuda ini.

♒♒♒

Ditengah perjalanan tiba-tiba Vantae terhenti membuat Rosé kebingungan. Terlebih lelaki itu kini tengah memegang perutnya "Kenapa?"

"Gapapa kok"

Wahah Vantae semakin memerah akibat menahan sakit. Jujur, Rosé ingin bertanya tapi dia sedikit takut. Ia bingung harus apa, terlebih rumah makan itu masih sedikit agak jauh.

"Kak"

"Aku gapapa- kayaknya maagh ku kambuh"

Rosé sedikit terkejut, ia pun langsung mengambil alih payung yang dipegang Vantae tadi. "Kita kewarung deket itu aja ya, sekalian neduh"

Jujur Vantae sangatlah malu dan kesal. Kenapa penyakitnya ini harus kambuh diwaktu yang tidak tepat ini. Tapi Vantae tidak bisa menyalahkan penyakitnya. Ia begini juga karena menyepelekan waktu makannya.

"Ini teh angetnya minum" ucap Rosé.

"Makasih ya"

Rosé hanya tersenyum. Untung saja diwarung kecil itu menyediakan makanan. Lantas Rosé langsung memesan makanan untuk Vantae.

"Tadi pagi sudah makan?"

"Kenapa?"

"Sudah apa belum?" Mungkin sudah menjadi kebiasaan mereka saling melontarkan pertanyaan sebelum pertanyaan lainnya dijawab.

"Belum"

"Kenapa belum? Kakak tau kalau punya sakit maagh?"

Vantae hanya mengangguk. "Kalau tau kok gak makan? Ini udah mau sore"

"Males, gak sempet"

Rosé hanya memutar bola matanya malas. Lagi pula bukan urusan dia Vantae sudah makan apa belum. Tapi kalau maaghnya sudah kambuh saat bersama Rosé, itu akan membuat Rosé sedikit kerepotan.

Tapi dipikir-pikir kali ini Rosé cukup banyak bicara. "Sorry ya, emang agak nyebelin kalau kambuh"

"Lain kali bawa obat maagh, biar enak kalo kambuh"

"Jangan perhatian nanti aku tambah sayang"

♒♒♒











Pengen update, tapi sedikit gapapa yaaa

Setidaknya bisa melihat kecringean seorang Vantae🤭🤣

Bye bye,

Dan selamat berpuasa bagi yang menjalankan😇

How About Us? [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang