Vantae membuang nafasnya kasar, menyamankan diri rebahan disofa panjang sebelum ia berangkat kuliah. Lelaki itu tengah sibuk memikirkan cara ia berbicara pada Rosé atau Bang Jinan.
Mau minta ijin gak masuk ke Bang Jinan, itu gak tau diri banget. Dia baru masuk dan gak mungkin minta ijin kan?
Atau, dia gak masuk kuliah aja? Tapi dipikir-dipikir Rosé gak akan mau dan malah akan marah pada Vantae. Bukan itu saja, Vantae pun juga pernah bolos, jadi gak akan mungkin dia bolos lagi. Bisa-bisa lelaki itu mendapat nilai jelek.
Atau harus kah Vantae bilang jika ia tidak bisa mengantar Rosé? Ah, hal itu juga akan membuat Rosé bertambah marah. Jujur, Vantae bingung.
Sepanjang hari di kampusnya lelaki itu menghindari yang berbau-bau tentang Rosé. Dan untungnya gadis itu tak mencari Vantae sama sekali.
♒♒♒
"Dari tadi handphone lo bunyi terus" ucap Jinan.
Benar, Vantae memilih masuk kerja. Ia tidak akan enak jika harus ijin. Benar-benar tidak tahu diri banget. Jadi, ia juga harus siap menghadapi Rosé yang akan marah nantinya.
"Iya bang, maaf. Lupa silent tadi" Vantae langsung mengambil handphonenya bermaksud mensilent, dan ia juga sempat melihat beberapa notifikasi chat dan telpon dari sang kekasih.
Jujur, ia benar-benar bingung dan merasa bersalah pada Rosé. Seharusnya ia bilang pada Rosé, ia yakin jika kekasihnya itu tengah menunggunya dikampus.
Dilihatnya muka Vantae yang tengah gelisah membuat Jinan mengerinyitkan dahinya. "Lo kenapa? Gak enak badan?"
"Gapapa bang"
Jinan menatap Vantae tajam. Ia tau jika ada sesuatu yang terjadi pada Vantae. "Cerita aja. Gak usah pakek acara gak enak segala kalo ke gue"
Vantae menghela nafasnya kasar, sambil membersihkan nampan untuk mengantar makanan pada pelanggan. "Pacar bang, minta anterin beli sesuatu"
"Terus?"
"Gue gak bisa anter"
"Kenapa?"
"Bentrok sama jam kerja. Gue juga belum bilang kalo gue kerja disini. Mau minta ijin, gak tau diri banget"
Jinan pun diam sejenak, lalu pergi berlalu dari Vantae. Ternyata Jinan tengah melihat suasana cafe itu. Ia menyapu pandangannya kesegala penjuru arah. Cukup ramai menurutnya. Maklum karena sudah memasuki jam makan siang.
Ia menundukkan dirinya dan berfikir sejenak, lalu menghampiri Vantae kembali. "Lo anterin dulu pacar lo tae. Kalo dia marah bisa jadi masalah" ucap Jinan.
"Cafe lagi rame bang— lagi pula gue gak enak ke lo bang"
"Gue kasih lo ijin satu jam, maksimal satu setengah jam. Terus lo balik kesini lagi—eh tapi lo nanti pulang jam tujuh. Sesuai perjanjian jam kerja 5jam"
"Bang, lo seriusan?"
"Iya. Udah sana pergi. Kasian pacar lo nungguin lo"
"Siap, terimakasih bang"
Vantae bersyukur karena ia memiliki boss yang sangat baik. Ia langsung mengambil jaketnya dan keluar menuju parkiran cafe. Satu jam setengah, ia berharap waktunya cukup untuk menemani Rosé.
Ia tersenyum kala membayangkan wajah Rosé yang nantinya akan tertekuk karena bete menunggu Vantae yang telat satu jam dari janjinya.
Dan sekarang Vantae sudah berada di parkiran kampus. Ia mencari Rosé kesegala penjuru arah. Mulai dari kantin, perpus, kelasnya, bahkan lapangan olah raga. Namun nihil ia tidak menemukan Rosé.
KAMU SEDANG MEMBACA
How About Us? [✔]
De Todo[C O M P L E T E D] Vantae Kimona seorang pemuda yang notabenya sangat susah jatuh cinta, namun tiba-tiba menyukai seorang gadis cantik yang bermata indah. Bahkan sahabatnya pun terheran saat mendengar pengakuan Vantae yang menyukai seorang gadis. B...
![How About Us? [✔]](https://img.wattpad.com/cover/215595597-64-k311479.jpg)