[21] Total Manja

1.7K 260 6
                                        

"Sorry, kak Jimin?"

Seseorang yang merasa namanya dipanggil pun sontak mendongakkan kepalanya, dengan memasang ekspresi yang sedikit bingung. "I—iya, ada apa?"

"Mau tanya, kak Vantae dimana?"

"Dia masih ada dikelas. Kepalanya pusing katanya"

"Oh yaudah, thanks ya kak"

Buru-buru Rosé langsung menghampiri kelas Vantae. Sebenarnya ia sedikit tidak yakin mengunjunginkelas Vantae, karena ia malu saat bertemu dengan teman jurusannya.

Dan kini Rosé sudah sampai didepan kelas Vantae. Sedikit ragu untuk masuk, walaupun kelas itu sepi. Ia menangkap sosok yang membuatnya khawatir. Dari kemarin Vantae tak mengabarinya sama sekali, hanya berkata jika ia akan berkunjung ke Bandung karena rindu dengan sang mama.

Dan malamnya pun masih belum memberi kabar, hanya mengirim pesan jika Vantae sangat menyayanginya. Dan setelah itu saat Rosé mencoba menghubunginya, lelaki itu malah tidak menjawab sama sekali. Dan itu membuat Rosé sangat khawatir.

Dilihatnya lelaki itu tengah menumpu tangannya diatas meja, dengan wajah yang sepenuhnya menunduk. "Kak" panggil Rosé. Namun yang dipanggilnya pun masih belum ada pergerakan.

"Jangan tidur disini" ucap Rosé lagi, yang kini sudah duduk didepannya sambil mengelus pelan rambut Vantae.

Vantae sontak mendongak kepalanya, mengerjapkan matanya pelan. Ia masih belum merespon ucapan Rosé. Kepalanya total pusing banget hari ini.

"Handphone mana?"

"Ada"

"Kok dihubungin susah?"

"Jangan ngomel, kepalaku sakit"

Tangan Rosé kini beralih menyentuh dahi Vantae. Suhu badannya panas. Pantas saja ia terlihat sangat lemas, bahkan matanya terlihat sangat sayu. "Kakak sakit?"

"Nggak"

"Nggak apanya, badan panas begini kak"

"Aku gapapa, sayang"

Vantae kembali menundukkan kepalanya, memejamkan matanya perlahan. Rasanya mata dan kepala sama-sama berat. Rosé yang melihatnya tak tega, karena ini pertama kalinya gadis itu melihat sang pacar sangat lemas.

"Ck, udah ah ayo ke kosan kakak, kita pulang. Motornya biar taruk sini aja, kita naik taxi"

Mendengar ucapan Rosé, perlahan Vantae mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Lalu ia berdiri, mengambil tasnya dan menggandeng Rosé keluar dari kelasnya.

Sampainya dikos, ia langsung merebahkan dirinya, menutup matanya dengan lengan yang ada diatas tangan. Sedangkan Rosé, ia kini duduk disamping kasur Vantae. "Kemaren habis ngapain aja di Bandung?"

"Lupa"

Bukan lupa, melainkan Vantae ingin melupakan kejadian kemarin saat berdebat dengan sang papaa. Memikirkannya lagi pun membuat kepala Vantae bertambah sakit.

Bahkan tenggorokan nya juga ikut sakit, dan hidung memerah.

"Kenapa bisa lupa? Parah—muda dan ganteng tapi sayang pelupa"

"Namanya juga manusia" jawab Vantae dengan mata yang masih tertutup.

"Ya, ya ya. Aku pulang aja deh kalo kakak gak mau jujur" Yah, si mbk pacar mulai emosi digituin aja.

Vantae mencoba membuka matanya dan meraih pergelangan tangan Rosé agar ia tak pergi. "Gitu doang marah. Kemarin habis dari Bandung aku langsung ngebasket sama anak kampus sebelah. Terus kehujanan, karena lapangannya outdoor— dan kita tetep lanjut ngebasket"

How About Us? [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang