"Suka nggak?"
Kini kedua insan yang sedang dimabuk cinta tengah berada di pantai. Tentu saja itu adalah pilihan Vantae yang tak diketahui oleh Rosé.
Rosé mengangguk lalu menjawab, "Untung kesininya sore"
"Kalau siang emang kenapa?"
"Panas kak"
Vantae hanya berohria sambil berjalan disekitar pantai dan diikuti oleh Rosé. Lagi pula Vantae juga tak mau mengajak Rosé disiang bolong. Apa bagusnya pantai disiang bolong menurut Vantae.
Dan disini, aroma laut disore hari dengan hembusan angin dan ditemani oleh orang yang disayang di sampingnya membuat suasana pantai menjadi sangat sempurna.
Vantae berhenti. "duduk disini aja ya, sambil nunggu sunset" Rosé pun mengikuti, gadis itu kini sudah duduk disamping Vantae, menatap langit yang kini sudah mulai berwarna kejinggaan.
Lalu tatapan Rosé beralih menoleh kesamping kearah Vantae yang tengah menatap kedepan, dengan rambutnya yang terkibas oleh angin membuat kerampanannya semakin bertambah.
"Kenapa Rosé?" Tanya Vantae dengan posisi masih menatap kedepan tanpa menoleh sedikitpun kearah Rosé. Ia tahu, sedari tadi gadis itu terus menatapnya.
Dan Rosé yang sudah ketahuan pun rasanya malu, ia langsung menatap kedepan juga. "E—enggak kok" jawabnya terbata.
Vantae hanya tersenyum, lalu pandangannya beralih menatap Rosé yang ada disampingnya. "Aku mau tanya, boleh?"
"Boleh"
Vantae diam sejenak, pandangannya kembali beralih kedepan. Sebenarnya ia sedikit ragu dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan pada Rosé. "Selama kita kenal, menurutmu aku gimana?"
"Kakak? Aneh—dan pemaksa" jawaban yang sungguh jujur.
"Oh, gitu yaa"
"Hehe, kakak emang aneh dan pemaksa, tapi—"
"Tapi apa?" Potong Vantae dan langsung menatap Rosé.
"Ish, jangan dipotong dulu ih, gak sabaran"
"Maaf"
"Tapi gak tau kenapa, kakak bisa bikin nyaman"
Vantae menahan senyumnya. Sungguh, ia tidak menduga Rosé akan menjawab seperti itu. Tapi jujur, Vantae sangat senang mendengar jawaban Rosé. Sedangkan Rosé mukanya sudah memerah akibat malu.
Dilihatnya sebuah jam yang dipakai Vantae, sepertinya hari perlahan mulai gelap. Lelaki itu menghela nafasnya, dan berfikir ini waktu yang tepat.
"Kira-kira kalo sepuluh menit lagi pas sunset, Rosie mau nggak jadi pacar kak Vantae?" Ucap Vantae dengan tatapan yang serius.
Rosé? Dia blank.
Mukanya yang tadi sudah merah, kini semakin memerah seperti kepiting rebus. Apakah ini mimpi atau Rosé yang salah dengar? Gadis itupun mencoba mencubit dirinya sendiri, sakit. Dan ternyata itu bukanlah mimpi.
"Jadi gimana, Rosié mau nggak jadi pacar kak Vantae?" Dan pertanyaan itu terlontar lagi dari mulut Vantae. Kali ini sangatlah jelas.
Ngomong-ngomong, Rosiê adalah panggilan kesayangan Vantae yang dibuatnya sendiri. Biar kesannya sedikit imut, katanya. Oke lupakan.
Rosé menghela nafasnya, dan sejenak mengontrol detak jantungnya. "R—Rosé ja—jadi pacar kak V—vantae?"
"Iya"
Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya kedepan tanpa mengucapkan apa-apa. Kepalang malu kalau Vantae melihat wajah Rosé yang sudah memerah. "Ah, ditolak ya" celetuk Vantae.
Detik berikutnya Rosé langsung menoleh kearah Vantae yang memang sedari tadi terus menatap Rosé. Rosé masih diam, belum menaggapi ucapan Vantae. Jujur, itu membuat Vantae gregetan.
"Gak usah jawab. Mulai hari ini, dan dibawahnya sunset ini, Roséanne Alleta Sanjaya resmi menjadi pacar Vantae Kimona"
Lagi, baru saja Rosé berkata Vantae pemaksa, dan sekarang ia malah menunjukkannya.
"Kok gitu?"
"Kenapa? Kamu mau nolak?"
Baru saja Rosé mau menjawab, Vantae sudah angkat bicara. "Sakit hati ni," ucapnya dengan sedikit rengekan yang membuat Rosé gemas sendiri.
"Aku udah bilang nyaman, dari situ kan sudah jelas. Ish, dasar gak peka."
"Hhe, maaf"
"Iyaa"
"Bunga sama cincinnya masih ditoko."
"Terus? Emang itu penting?"
"Menurut kamu?"
"Nggak juga. Aku suka cara kakak. Mengungkapkan rasa dibawah senja— ya, walaupun sedikit pemaksa diakhirnya— tapi aku suka kok"
Vantae tersenyum lega. Walaupun ia mengungkapkan dengan sederhana, namun Rosé tetap menyukainya. "Yaudah sini peluk, udah resmi kan?"
Vantae merentangkan tangannya, dan diterima oleh Rosé meskipun ia sedikit malu. Dan ini adalah pelukan pertama dengan status baru, dibawah senja yang menjadi saksi.
♒♒♒
Pelukan mereka terlepas, dan mereka saling menataps atu saa lain lalu keduanya tersenyum dan tertawa kecil. Maklum, mereka baru memiliki status baru jadi bingung mau ngapain.
Dan hari ini adalah hari terbahagia Vantae. Benar kata Jimin, tidak sia-sia juga setiap hari ia selalu menggombali Rosé.
Berbicara tentang Jimin, sepertinya Vantae akan memberitahu tentang status barunya, tapi tidak dengan cara ia mengungkapkannya. Bisa-bisa Jimin akan meledeknya.
Dan langit sudah mulai gelap, mereka memutuskan untuk pulang. Dipeluknya Vantae dari belakang dengan erat, meski sedikit canggung. Sungguh, hari ini sangatlah indah.
Tak terasa motor mereka sudah sampai dirumah Rosé. "Mau mampir nggak kak?" Tawar Rosé.
"Gak usah. Kapan-kapan aja yaa, biar kamu istirahat"
"Yaudah"
"Yaudah kamu masuk sana, aku mau pamit pulang"
"Iyya" Namun Rosé masih setia berdiri digerbang rumahnya.
"Kamu masuk dulu"
"Nggak, kakak pulang dulu"
"Masuk, sayang"
Wajah Rosé bersemu merah akibat panggilan yang dilontar kan Vantae, da Rosé hanya menggelengkan kepalanya, sambil menatap Vantae cemberut, gemas.
"Iyya iyya, aku pulang dulu" Akhirnya Vantae menaiki motornya dan pakai helm. Lalu kembali menoleh kearah samping Rosé, ternyata gadis itu masih setia diam di depan gerbang.
"Ini mau pulang, kamu masuk sana"
"Ya kamu pulang dulu sana"
Okey, sepertinya tidak ada yang mau mengalah. Jadi mau tak mau Vantae lah yang harus mengalah. "Ck, coba belum pakek helm udah aku cium kamu"
♒♒♒
Akhirnya official juga
So, welcome to status barunya Vantae dan Rosé 🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
How About Us? [✔]
Random[C O M P L E T E D] Vantae Kimona seorang pemuda yang notabenya sangat susah jatuh cinta, namun tiba-tiba menyukai seorang gadis cantik yang bermata indah. Bahkan sahabatnya pun terheran saat mendengar pengakuan Vantae yang menyukai seorang gadis. B...
![How About Us? [✔]](https://img.wattpad.com/cover/215595597-64-k311479.jpg)