Baca pelan-pelan
Terus sambil dengerin lagu Sweet Night nya Taehyung
•••
"Papa ada bilang sesuatu?" Tanya Vantae.
Posisinya malam ini Vantae ingin mengajak Rosé jalan. Itung-itung menebus kesalahannya yang kemarin. Tapi mereka masih belum berangkat, masih berada di rumah Rosé.
"Bilang apa?"
"Gak tau. Pas aku keluar duluan, kan kamu dipanggil kayak ngomong sesuatu gitu" ucap Vantae sembari memasangkan helm pada Rosé.
Vantae menanyakan hal itu hanya takut jika ia berbuat salah malah Rosé yang ditegur. Jadi ia akan merasa tidak enak. "Oh, cuma nyuruh jangan terlalu malem kok"
"Terus ada lagi?"
"Nggak. Udah ayo berangkat kak"
Rosé langsung melangkah mendekati motor Vantae. Memegang pundak sang kekasih untuk menumpu saat naik ke motor. Lalu melingkarkan tangannya diperut Vantae sambil menyandarkan kepalanya dibahu belakang Vantae.
Sedangkan Vantae sepanjangan jalan masih sedikit gelisah karena penasaran dengan apa yang dibicarakan Rosé dan papanya.
Dan disinilah mereka, disebuah mall yang cukup ramai untuk membeli makeup yang diinginkan Rosé kemarin. Untung saja makeup yang dicari pun ada.
Karena sudah selesai mencari makeup, gadis itu mengajak Vantae untuk makan karena perutnya sudah merasa lapar.
"Papamu gak begitu suka sama aku ya?" Tanya Vantae secara tiba-tiba membuat pandangan Rosé yang awalnya tengah memilih menu makanan langsung teralih pada Vantae.
"Kenapa tiba-tiba tanya gitu?"
"Gapapa, cuma tanya aja. Papamu gak sehumble mama kamu yaa, tapi baik kok" Rosé tak menjawab ucapan Vantae, ia kembali memilih menu makananannya. Perutnya udah terlanjur lapar coy! Gak bisa ditahan.
Setelah memesan makanan, Rosé menatap Vantae. Sepertinya lelaki itu benar-benar sedang gelisah. "Kak.." panggil Rosé.
"Kakak sebenernya kenapa tiba-tiba tanya begitu? Apa kakak pernah denger omongan papa yang bikin gak ngenakain ke hati?"
Vantae diam bingung untuk menjawab. Dipikirnya lagi papa Rosé baik kok kedia dan mamanya Rosé malah kelewat baik. Entahlah, Vantae hanya takut jika papa Rosé tidak menyukainya.
"Gak ada. Cuma aku takut papa kamu gak ngasih restu"
Mereka diam sejenak hingga makanan yang dipesan pun datang. "Kakak mau tau sesuatu gak?"
"Apa?"
"Bagi papa, attitude itu nomor satu. Dan papa udah nemuin itu di kakak sejak pertama kali ketemu. Kakak itu baik, sopan, dan ramah. Jadi kakak jangan khawatir"
Vantae menatap Rosé lalu tersenyum tipis. Sungguh hatinya senang dan lega mendengar penuturan Rosé tadi. Setidaknya ia memiliki nilai positif dimata orang tua Rosé.
♒♒♒
Waktu masih menujukkan pukul 19.45 masih belum terlalu malam menurut Vantae. Jadi selesai makan, Vantae masih mengajak Rosé ketaman biasa hanya sekedar mencari angin sambil menikmati malam.
Dan kini keduanya sudah duduk manis dibangku panjang. Rosé menyandarkan kepalanya dibahu Vantae sedangkan lelaki itu mengusap pelan rambut Rosé.
"Kak" panggil Rosè tiba-tiba.
"Ya?"
Vantae menyahut seadanya, dan tangan masih bergerak mengusap rambut gadisnya. "Tipikal wanita kesukaan mama kayak apa?"
Entahlah kenapa tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dimulut Rosé. "Maķsudnya calon menantu idaman mama aku?"
"Iya"
"Hm,, yang dewasa, gak gampang ngambekan, gak suka marah, bisa ngertiin posisi anaknya, hmm— dan bisa masak"
Jawaban Vantae membuat Rosé mematung, dan sedikit tertohok. Pasalanya semua yang dibilang Vantae itu tidak ada di diri Rosé. Gadis itu pun lalu mendongakkan kepalanya menatap Vantae.
"Dan itu semua gak ada di aku kak"
Kali ini Vantae berhenti mengelus rambut Rosé, dan memalingkan pandangannya dan menatap Rosé juga. "Terus?"
"Kok terus sih, aku serius kak"
"Aku juga serius"
"Berarti mama gak suka aku"
"Tapi kan kesukaan aku ya kamu"
"Percuma dong kalo yang suka cuma anakanya aja"
Vantae menghela nafasnya, dan kali ini tatapannya benar-benar serius. "Yang ngejalanin hubungan siapa?"
"Aku sama kakak"
"Terus yang jadi masalahnya apa?" Vantae terus menatap Rosé, membuat gadis itu sedikit salah tingkah. Padahal kan maksudnya Rosé bukan begitu.
"Belum pernah ketemu mama kan? Jadi jangan berspekulasi sendiri" lanjut Vantae.
Vantae benar sih, Rosé memang belum bertemu mama Vantae sama sekali. Tapi namanya juga perempuan, ia merasa tidak akan enak jika salah satu orang tua kekasihnya, terlebih mamanya tidak menyukainya.
"Ish, orang kakak bilang gitu"
"Kan aku bilang mungkin, sayang. Lagi pula kamu kan belum ketemu mama"
Rosé menghela nafasnya lalu bersandar didada Vantae. "Iya sih, pengen ketemu, tapi takut"
"Emang mama ku gigit?" Ucap Vantae lalu menyentil dahi Rosé pelan. Mungkin sudah jadi kebiasaan Vantae suka menyentil dahi sang pacar.
"Ih gak gitu juga kak"
"Yaudah gakusah takut. Anaknya aja gak gigit kok—gigit sih paling ntar kalo udah nikah" Refleks Rosé langsung memukul bahu Vantae. Sedangkan lelaki itu hanya terkekeh geli.
Kini keduanya diam dengan pikirannya masing-masing. Mungkin ini yang dirasakan Vantae tadi. Tapi kan setidaknya Vantae sudah bertemu orang tua Rosé dan bahkan sesekali mengobrol.
Lah, si Rosé? Okey, lupakan.
Jadi setidaknya Rosé sudah tau tipe ideal dari mama Vantae, meskipun sedikit tidak yakin. Dan yang harus ia lakukan adalah merubah sikapnya yang suka ngambek dan ia juga harus belajar memasak mulai hari ini.
Tanpa mereka sadari, ternyata topik pembicaraan keduanya kali ini sedikit serius. Dan saling berkesinambungan satu sama lain.
"Yang?"
Hingga panggilan Vantae pun membuat pikiran Rosé seketika buyar. "Apa?"
"A-ayo pulang, udah malem—tambah dingin juga"
♒♒♒
KAMU SEDANG MEMBACA
How About Us? [✔]
Casuale[C O M P L E T E D] Vantae Kimona seorang pemuda yang notabenya sangat susah jatuh cinta, namun tiba-tiba menyukai seorang gadis cantik yang bermata indah. Bahkan sahabatnya pun terheran saat mendengar pengakuan Vantae yang menyukai seorang gadis. B...
![How About Us? [✔]](https://img.wattpad.com/cover/215595597-64-k311479.jpg)