DUA PULUH EMPAT

8.2K 580 28
                                        

"Gue hampir gila pas liat lo tadi sama Eron, gue bisa aja balas hajar dia tapi gue gak bisa karna gue lebih khawatir sama lo ketimbang buat balas dendam," kata Reno panjang lebar sambil menatap ke arah Dika dengan tatapan yang rumit. "Lo bikin gue gila, Dika."

Mulut Dika terbuka tanpa mengeluarkan suara apapun, ucapan Reno barusan sangat membuatnya membeku. Ia menatap Reno terkejut bukan main. Bukankah Reno baru saja ... menyatakan cinta secara tidak langsung kepadanya? Tapi bagaimana mungkin.

"Kenapa lo diem aja?" tanya Reno yang sedikit menyentak Dika. Pemuda itu terlihat mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menggigit bibir bawahnya. Dika sejujurnya bingung harus menjawab apa.

Reno kembali menatap ke jalan, pemuda itu kemudian melajukan kembali mobilnya. Dalam hati ia merutuki tingkahnya yang sangat aneh. Kemarin dia sudah dengan mantap bilang bahwa ia tidak menyukai Dika, tapi sekarang Reno justru mengatakan hal aneh seperti tadi. Tanpa sadar mulutnya sudah mengumpat dan membuat Dika semakin bungkam, padahal Dika belum mengatakan apapun padanya tapi Reno sudah bertingkah seperti seseorang yang baru saja ditolak.

Suasana aneh itu terus berlangsung sampai akhirnya suara dering ponsel Reno mengalihkan perhatian mereka. Reno mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

"Reno sialan! Dimana Dika?!" Teriak Teo langsung yang terdengar sampai ke telinga Dika, padahal Reno tidak menyalakan speakernya sama sekali.

"Gak usah teriak, gue lagi nyetir. Gue matiin tel---"

"Gue mau ngomong sama Dika! Kasih hapenya ke Dika!" potong Teo langsung saat sadar Reno akan kembali mematikan telponnya secara sepihak. Reno pun langsung memberikan ponselnya pada Dika seperti pinta Teo. "Teo mau ngomong," kata Reno. Dika pun mengambil ponsel tersebut.

"Halo?"

"DIKA!" Teriak Teo sekali lagi, sampai membuat Dika terkejut saking kencangnya teriakan itu. "Lo di rumah sakit mana sekarang? Gue mau ke sana," kata pemuda itu kemudian terdengar sangat khawatir. Dika mengernyitkan dahinya bingung, bagaimana bisa Teo tahu ia baru saja dari rumah sakit?

Dika melirik ke arah Reno, seperti menyadari bahwa Reno yang memberitahunya. "Gue gak lagi di rumah sakit, tadi cuma beli obat aja. Sekarang gue sama Reno ...," kata Dika yang tidak menyelesaikan kalimatnya karena memang ia tidak tahu Reno akan membawa mobilnya kemana sekarang. "Re, kita mau ke mana?" tanyanya kemudian pada Reno.

"Ke rumah gue," jawab Reno singkat tanpa menatap ke arah Dika.

"Apa?"

"Apa? Ke rumah Reno?" Teo yang ikut mendengar dari telepon pun ikut terkejut. Dika terlihat berpikir sejenak, ia ingin mencari alasan untuk tidak pergi ke rumah Reno. Karena kalau sampai Dika pergi ke rumah Reno, yang ada mereka akan semakin canggung nanti.

"Kenapa kita ke rumah lo?" ujar Dika yang kembali bertanya pada Reno dan mengabaikan Teo yang sedang berbicara dengannya melalui telepon. Teo sendiri juga seperti paham akan situasi dan hanya terdiam menguping pembicaraan melalui teleponnya.

Reno melirik ke arah Dika lewat ujung matanya lalu kembali menatap ke depan. "Lo gak mungkin pulang dengan keadaan begitu, kan?" katanya. Dika melihat ke arahnya sendiri dan baru tersadar bahwa masih ada bekas cekikan di lehernya yang terlihat sangat jelas, tentu saja ia tidak akan ke rumah. Tapi jika pilihan lainnya pergi ke rumah Reno, rasanya sangat berat.

"Bawa Dika ke tempat gue, No!" sahut Teo di telepon yang hanya bisa didengar oleh Dika. "Dika pasang speakernya biar gue bisa ngomong sama Reno juga," suruh pemuda itu saat sadar bahwa Reno tidak mendengat kalimatnya tadi.

Dika hanya menurut dan langsung menyalakan speaker hingga suara Teo kini terdengar di dalam mobil. "Kalian ke rumah gue aja," kata Teo mengulangi ucapannya lagi dengan tenang.

Cinta yang TabuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang