Siang itu Dika tengah membuat makan siang di dapur, sedangkan Teo duduk di ruang makan menunggu Dika sambil menatap notebooknya. Jika ditanya mengapa Teo tidak membantu memasak, karena dia tengah mengerjakan tugas kuliahnya sekarang. Dibandingkan dengan jurusan Dika, jurusan Teo memang lebih sibuk.
Mereka masih tinggal bersama sampai sekarang, karena memang daripada menyewa tempat kos lebih baik jika Dika tinggal bersama Teo. Selain bayarannya sangat murah---hanya membersihkan apartemen dan memasak---tinggal bersama Teo juga lebih aman. Apalagi mereka sudah berteman dekat cukup lama.
Dering ponsel Dika yang ada di atas meja makan membuyarkan konsentrasi Teo yang tengah mengetik sesuatu.
"Dika, ada telpon," teriak Teo tanpa perlu repot-repot untuk berjalan ke dapur dan memanggil Dika.
Beberapa detik kemudian sosok yang dipanggil muncul dari balik tembok dengan kaos biru bermotif sablon dengan celana pendek seatas lutut berwarna hitam. "Siapa?" tanya Dika sambil melangkah mendekat ke arah Teo.
"Cek aja, Reno kali."
Dika mengambil ponselnya, dan benar saja tebakan Teo barusan, yang menelponnya saat ini adalah Reno.
"Iya Reno yang telpon. Kok lo tau?" tanya Dika sambil melirik ke arah Teo yang sudah tidak menatap layar dan menatap ke arahnya balik.
"Siapa lagi orang yang rajin telepon lo selain dia?"
Dika hanya tertawa mendengar jawaban Teo yang sedikit sarkas itu, namun ia tidak merasa tersinggung sama sekali. Tidak mau membuat Reno menunggu terlalu lama, ia pun segera mengangkat panggilannya.
"Kenapa, Re?" Suara Dika yang sepertinya bertanya lebih dulu. Teo kembali dalam aktifitasnya mengerjakan tugas, sedangkan Dika sudah duduk di depan Teo sambil berbicara pada Reno.
"Sabtu ini?"
Mendengar nama hari tersebut Teo reflek mengangkat pandangannya kembali ke arah Dika, tapi sepertinya Dika tidak menyadari ada yang menatapnya.
"Bisa kok, gue gak ada tugas akhir minggu ini," kata Dika yang masih berbicara dengan Reno melalui sambungan teleponnya. Teo masih menatap Dika yang kini asik bicara dengan Reno.
Setelah itu panggilan pun berakhir.
"Reno ngajak kencan?" tebak Teo yang langsung bersuara ketika Dika sudah menaruh kembali ponselnya ke atas meja.
Wajah Dika tampak terkejut mendengar ucapan Teo barusan. "Lo denger suara Reno?" tanyanya masih dengan raut terkejut. Teo memutar bola matanya malas.
"Gak," jawabnya. "Tapi lo bilang sabtu ini, gue pikir Reno ngajak lo kencan," kata Teo sambil mengedikkan bahunya dan menopang pipi kanannya dengan sebelah tangan. Dika malu seketika, pipinya sampai merona tipis.
"Iya," jawab Dika singkat. "Tunggu sebentar, masakannya udah mau jadi. Gue selesaiin itu dulu baru kita ngobrol." Lalu tanpa menunggu balasan dari Teo lagi, pemuda itu sudah lebih dulu pergi kembali ke belakang untuk melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertinggal karena mengangkat telepon sebelumnya. Teo sendiri hanya mengangguk samar dan kembali berfokus pada tugasnya.
***
Beberapa menit kemudian masakan yang Dika buat pun sudah tersedia dengan rapih di atas meja. Notebook milik Teo yang sebelumnya ada di atas meja juga sudah digeser agar tidak terkena apapun.
"Makasih," ujar Teo kepada Dika yang sekarang tengah duduk di depannya dan menyajikan makanannya seperti biasa. "Lo makin hari makin pinter aja masaknya, ajarin gue dong."
Dika terkekeh. "Soalnya di sini ada banyak bahan, gue jadi bisa nyoba masak lebih banyak macem," sahutnya sembari menaruh piring bersih ke hadapan Teo. "Kalau lo mau gue bisa ajarin lo masak," kata Dika kembali sambil tersenyum lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta yang Tabu
RomanceDika tidak pernah berharap sesuatu yang lebih selama ini. Hidupnya sangatlah sederhana, namun ia tetap bersyukur dan bahagia. Namun tiba-tiba ia merasa hidupnya kurang semenjak pertemuannya dengan sesosok manusia yang membuatnya jatuh hati pada pand...
