"Jadi semuanya bener? Apa yang diomongin Rega bener? Apa---yang selama ini dibicarain itu bener?" Suara Reno tercekat di akhir kalimat.
Reno menatap Dika tidak percaya, apa yang belakangan ini terus mengganggu pikirannya ternyata adalah hal yang nyata. Ia tidak habis pikir, kenapa Dika bisa menyukainya padahal selama beberapa hari ini Reno dengan susah payah terus mencoba mengusir pikiran anehnya itu. Tapi sekarang Dika secara terang-terangan mengaku di hadapannya, membuat semua pemikiran yang Reno pertahankan pun langsung hancur seketika begitu saja.
"Sial."
Umpatan kembali terdengar dari mulutnya, Reno benar-benar tidak habis pikir. Rasanya---bahkan dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Gue gak suka sama lo, Dik," ujar Reno mencoba memperjelas. Walau begitu ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya ketika ia mengatakan itu. Reno menatap datar Dika yang masih saja menunduk, tangannya terlihat sedikit gemetar kalau ia tidak salah lihat. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Gue sempet mikir kita bisa temenan, tapi---argh, gue gak ngerti lagi." Reno terus berbicara sedangkan Dika masih saja menunduk dalam. Keadaan kantin yang ramai membuat Reno tak bisa berbuat banyak, ia ingin sekali mencengkram kuat seragam Dika dan memaksanya bicara bahwa semua yang dikatakannya adalah bercandaan saja.
"Maafin gue, Re...."
Reno mendesah frustasi. Nyatanya semua itu bukan hanya candaan.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Reno langsung bangkit dan pergi dari kantin. Ia meninggalkan makanannya yang bahkan belum habis setengah, rasa laparnya sudah hilang begitu saja. Pikirannya kacau saat ini, dan sumber dari semuanya adalah Dika. Untuk itu, daripada Reno berbuat macam-macam lebih baik dia segera melarikan diri.
Sementara itu, Dika tidak bergerak seinci pun dari tempat duduknya. Ia tidak berusaha untuk mencegah Reno pergi, kedua tangannya saling meremat satu sama lain. Rasanya sangat menyesakkan, Dika tidak bisa menahannya---dia sangat ingin menangis dan berteriak sekarang tapi yang ia lakukan hanya diam di sana.
Tak lama kemudian, beberapa meter dari tempat duduknya Teo tampak berlarian ke arah Dika. "Dika!" Tanpa banyak tanya pemuda itu langsung duduk di sebelah Dika dan memeluknya sangat erat hingga Dika merasa sesaknya semakin menjadi. Detik berikutnya air mata Dika pun keluar dan mengalir begitu saja, namun mulutnya tak mengeluarkan suara apapun.
"Itu keputusan yang bener," sahut suara Varel yang juga datang dan duduk di hadapan mereka berdua. "Sekarang lo tau apa yang harus lo lakuin selanjutnya," katanya kembali dan memberikan sedikit jeda. Varel menghela nafasnya samar, "lo harus nyerah."
Dika masih tidak bersuara, dalam hatinya Dika enggan mengiyakan perkataan Varel. Dia masih berharap, walau harapannya sangat lah sia-sia. Pelukan Teo padanya semakin mengerat ketika merasakan tubuh Dika bergetar pelan.
"Reno brengsek," desis Teo pelan masih memeluk Dika untuk menyembunyikan air mata sahabatnya itu. Baru kali ini ia melihat sahabatnya menangis seperti ini, walau Dika pernah dibully atau dikucilkan sekali pun, ia tidak pernah menangis dan menjadi terpuruk seperti sekarang.
"Gue udah bilang dia emang brengsek, Dik," kata Teo lagi kemudian mencoba untuk menenangkan Dika, tapi sama sekali tidak berefek apapun pada Dika.
Suasana kantin memang bising, tapi telinga Dika hanya berdengung seakan ia berada di ruangan yang sangat sepi. Pikirannya kacau, ia ingin pergi sejauh mungkin untuk saat ini.
"Lo gak bakal bisa lanjut belajar, kita kabur aja," kata Varel setelah beberapa menit mereka hanya terdiam dan menunggu Dika berhenti menangis, nyatanya itu tidak juga berhenti. Varel bangkit dari duduknya dan terlihat menelpon seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta yang Tabu
Roman d'amourDika tidak pernah berharap sesuatu yang lebih selama ini. Hidupnya sangatlah sederhana, namun ia tetap bersyukur dan bahagia. Namun tiba-tiba ia merasa hidupnya kurang semenjak pertemuannya dengan sesosok manusia yang membuatnya jatuh hati pada pand...
