Dika menggigit bibir bawahnya dengan kuat, melihat Reno seperti ini membuatnya lemah. Dia sama sekali tidak bisa melanjutkan ini lagi.
"Gue gak bisa lagi, Teo," gumam Dika tanpa sadar menyebut nama Teo. Pemuda itu menunduk dan memeluk Reno dengan sangat kuat hingga membuat tubuh Reno membeku. "Jangan minta maaf, gue yang harusnya minta maaf sama lo," kata Dika lalu terdengar suara isak tangis pelan.
Reno segera melepaskan pelukan Dika. "Kenapa lo nangis?" tanya Reno yang bingung melihat Dika. Harusnya ia yang sekarang menangis karena sudah ditolak, tapi kenapa jadi Dika...?
Dika tidak menjawab dan kembali duduk di sebelah Reno sambil mengusap air mata di wajahnya. "Teo nyuruh gue jauhin lo," katanya dengan suara bergetar. "Tapi gue gak bisa," lanjut Dika lagi. Reno masih menatap ke arah Dika dengan raut bingung.
"Teo?"
Anggukan pelan terlihat dari Dika. Sambil mengusap air matanya dia kembali bicara, "Teo nyuruh gue jauhin lo, dia bahkan sampe minta gue tinggal bareng sama dia di sini. Ini apartemen Teo, dia ada praktek sekarang dan baru balik besok," jelas Dika dengan suara sedikit serak karena menangis.
Sekarang Reno mengerti kenapa Dika bisa berada di apartemen mewah seperti ini. Tapi bukan itu permasalahannya, mendengar Teo yang menyuruh Dika melakukan semua ini membuatnya marah.
Mencoba menahan emosinya, Reno menghela nafas panjang. "Jadi sebenernya lo gak mau jauhin gue?" tanya pemuda itu yang menatap tepat ke kedua manik Dika. "Ini semua salah Teo?" ucapnya kembali dengan sedikit penekanan. Entah mengapa perkataan bahwa ini semua ulah Teo membuatnya sedikit terbawa emosi. Dika yang menyadarinya langsung menggeleng dengan cepat.
"B-Bukan gitu!"
Reno mengernyitkan dahinya, tidak mengerti. Padahal jelas-jelas tadi Dika sendiri bilang bahwa semua ini ulah Teo, dia yang menyuruh Dika menjauhinya dan membuat Reno hampir frustasi.
Dengan ragu-ragu Dika meraih kedua tangan Reno, ia menunduk sambil menggenggam tangan Reno. "Gue sendiri juga mau jauhin lo," katanya membuat Reno mencelos.
Rasanya begitu menyakitkan mendengar sosok yang sangat ia temui justru ingin menjauhinya. Apakah ini yang bisa dibilang sebuah karma? Mungkin begitu.
"Kenapa?"
Dika menggigit daging bibir bagian dalamnya dengan kuat, tatapannya masih tidak mau terangkat untuk sekedar bersitatap dengan sosok di hadapannya saat ini. Rasanya sangat menakutkan melihat ekspreksi yang akan ditunjukkan oleh Reno. Genggaman tangannya pada pemuda itu sedikit menguat, sebisa mungkin Dika mencoba memantapkan hatinya yang tengah dilanda kebimbangan.
"Dika?"
Kali ini pemuda itu memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, tatapan mereka berdua langsung bertemu. Bisa dilihat raut sulit yang terpancar dari air muka Dika. "Gue takut, Re," katanya pelan namun cukup jelas di telinga Reno. "Gue t-takut buat ketemu lo."
Reno membalas genggaman Dika, sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh wajah lelaki di depannya ini. Ia tidak membiarkan Dika barang sedikit pun untuk kembali menurunkan wajahnya. "Kenapa lo takut?" tanya Reno yang tengah mencoba menekan segala bentuk emosi yang ada pada dirinya saat ini.
"Gue takut---" jeda sejenak untuk Dika menarik nafas, "gue takut setelah lo bilang perasaan lo ke gue, semuanya bakal berubah. Maksud gue, g-gue gak tau kenapa lo bisa jadi suka sama gue padahal dulu lo bahkan keliatan muak." Dika menatap Reno dengan tatapan sendu. "Gue cuma takut itu semua cuma hal yang semu. Gue takut pas gue udah ngerasa nyaman dan lo berubah."
Dengan lembut tangan Reno yang masih menangkup wajah Dika mengelus pipinya. "Lo terlalu mikir berlebihan," ujarnya sedikit tersenyum. Ada perasaan hangat ketika mengetahui bahwa Dika merasa ketakutan untuk kehilangannya, walau tidak diucapkan secara jelas, bukankah itu semua sudah kelihatan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta yang Tabu
Storie d'amoreDika tidak pernah berharap sesuatu yang lebih selama ini. Hidupnya sangatlah sederhana, namun ia tetap bersyukur dan bahagia. Namun tiba-tiba ia merasa hidupnya kurang semenjak pertemuannya dengan sesosok manusia yang membuatnya jatuh hati pada pand...
