DUA PULUH ENAM

7.9K 623 29
                                        

"Tunggu sebentar, pesanannya akan segera diantar."

Dika kembali bergerak seperti aktifitas rutinnya selama bekerja. Ia menyapa, mencatat, lalu mengantarkan pesanan dari meja ke meja.

"Sibuk banget, Dika?" ujar Ilham, anak dari orang yang mempunyai restoran ini sambil tersenyum menggoda Dika. Ilham juga yang berjaga di kasir untuk melayani pelanggan yang akan membayar pesanan mereka.

Dika tertawa. "Bagus dong, Mas. Berarti restorannya rame dan laris," kata Dika yang membalas sambil menyerahkan catatan pesanan ke sela kecil untuk disalurkan ke bagian dapur.

Ilham lebih tua lima tahun daripada Dika, maka dari itu ia memanggilkan dengan tambahan panggilan Mas. Itu pun karena Ilham sendiri tidak mau dipanggil Pak, dia tidak setua itu katanya.

"Dik, nanti pulang bareng yuk?" tawar Ilham, namun sebelum Dika sempat menjawab ada pelanggan yang akan membayar.

Dika pun juga segera melanjutkan pekerjaannya sebagai pelayan di sini karena ada pelanggan yang baru saja masuk.

"Selamat datang."

.

.

.

Entah hanya firasat Dika saja, atau memang seperti ada yang memperhatikannya? Dika rasanya sedikit tidak nyaman. Ia sesekali pasti menoleh ke kanan dan kiri, rasanya seperti ada yang terus-terusan melihat ke arahnya. Tapi tidak ada siapapun.

Mencoba mengabaikan, Dika berusaha bertingkah seperti biasanya. Mungkin hanya perasaannya saja, toh, tidak mungkin ada penculik atau orang jahat selagi ia berada di dalam restoran. Pasti akan banyak yang membantunya.

Selesai dengan pekerjaannya malam itu, Dika segera merapihkan barang-barangnya untuk segera pulang. Ia tidak mau pulang terlalu larut atau kalau tidak Dika pasti akan kena marah.

"Makasih atas kerja kerasnya semua," kata Ilham seperti biasa sebelum para karyawannya pergi meninggalkan restoran satu persatu.

Dika melangkah keluar restoran sambil berbicara sedikit dengan seseorang yang juga bekerja sebagai pelayan. Langkahnya lalu terhenti di depan restoran ketika melihat sebuah mobil, di sebrang jalan yang seperti tidak pernah bergerak dari sana. Kaca bagian luarnya sangat gelap, Dika tidak bisa lihat apa ada orang di dalam sana atau tidak. Apa lebih baik Dika pesan ojek online saja?

Karena terlalu banyak berpikir, tanpa sadar sebuah motor sudah berhenti di sampingnya. Ilham menaikkan kaca helmnya lalu tersenyum.

"Kok bengong di pinggir jalan?" Ilham tertawa pelan. Ia pun lalu menyodorkan sebuah helm ke arah Dika. "Ayo pulang bareng," ajaknya.

Dika menoleh ke arah Ilham. Lalu tanpa berpikir panjang ia menerima helm darinya. Dika akan pulang bersama Ilham saja kalau begitu, ia tidak mau sampai kejadian 'diculik' itu terjadi kembali padanya.

Setelah mengucapkan terima kasih Dika pun naik ke atas motor dan pulang. Ia memberi arah pada Ilham untuk menuju ke apartemen tempatnya tinggal karena memang baru kali ini Dika menerima tumpangan Ilham. Biasanya Dika akan dijemput atau kalau tidak, ia akan naik kendaraan umum. Kadang-kadang juga Dika akan berjalan kaki karena jaraknya memang hanya sekitar dua puluh menit.

Motor Ilham berhenti di depan gedung apartemen. Dika pun segera turun dan melepas helmnya.

"Wow, apartemen gede?" kata Ilham yang sedikit terkejut melihat Dika tinggal di tempat bagus seperti ini. Ia baru tahu bahwa salah satu pekerjanya adalah orang yang cukup kaya untuk tinggal di tempat seperti ini.

"Bukan punya aku, Mas," balas Dika yang tersenyum. Memang apartemen ini bukan miliknya tentu saja, bagaimana mungkin uangnya cukup untuk membeli apartemen di sini. Untuk ongkos saja Dika masih mengirit dengan jalan kaki.

Cinta yang TabuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang