19. Coki dan Amel

1.3K 370 40
                                        


Cobalah kau kenang tatkala kau duduk di kelas enam SD. Apakah kau pernah jatuh cinta pada seseorang?

(Karena bercerita dengan puitis seperti itu bukanlah gayaku makanya marilah kita balik lagi ke gaya ceplas-ceplos yang biasa, oke?)

Buat kalian yang udah nggak ingat lagi masa-masa itu, entah karena amnesia dadakan atau memang udah sebegitu tuanya sampai lupa, pada umur segitu sebagian orang mungkin pernah merasakan jatuh cinta.

Jatuh cinta itu ibarat maling. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Pokoknya cinta itu datang dengan tiba-tiba. Kayak jatuh dari langit, begitu. Awalnya mungkin perasaan kamu terhadap si dia biasa-biasa saja. Namun suatu hari kamu menyadari kamu nggak bisa tidur semalaman karena wajahnya terbayang-bayang terus. Bukan karena dia punya utang satu milyar yang belum dilunasin sama kamu sejak tahun lalu, tapi karena hatimu telah dicurinya.

Dan kamu akan selalu ingat pada sang pencuri itu – si dia yang pertama kali masuk ke dalam hatimu. Sebagian kecil orang yang beruntung bisa menikahi cinta pertamanya dan hidup bahagia selama-lamanya kayak di film-film. Apa mereka betulan beruntung atau semata-mata nggak bisa dapat pacar yang lain, aku kurang tahu.

Jadi ketika Gigi membaca pesan terbaru dari Bosque, dia mengerti bahwa ini adalah proyek cinta pertama. Orang-orang mengenalnya dengan istilah cinta monyet, aku sendiri nggak paham kenapa disebut begitu. Apa karena monyet jatuh cinta sejak usia dini? Siapakah gerangan yang mempelajari kisah percintaan para monyet sehingga mencetuskan istilah itu? Entahlah. Yang pasti bukan aku. Bodo amat juga, sih.

Karena target proyek baru ini adalah Coki, adiknya Ciko (nama kakak adik ini kreatif sekali, bukan?), Gigi yakin ini bakal lebih mudah.

Amore si cupid senior sudah kembali dari khayangan. Dia sudah nggak murung lagi dan Gigi senang melihat perubahannya. Sore itu saat Lulu sibuk menonton episode terbaru "The World of The Married" dan Nana pergi membantu persalinan kucing tetangga, Gigi memberitahu Amore tentang proyek barunya.

"Coki ini..." Kening Amore berkerut. "Anak kecil?"

"Umurnya masih dua belas tahun," kata Gigi. "Kelas enam SD."

Amore manggut-manggut dan tertawa kecil. "Proyek yang menarik."

Ada satu hal yang sedikit menganggu Gigi, jadi dia memutuskan untuk menanyakannya. "Apa Bosque mau Coki dan Amel... pacaran? Bukannya mereka terlalu kecil untuk pacaran?"

"Bosque ingin kedua anak ini merasakan cinta," jawab Amore. "Jatuh cinta belum tentu harus pacaran."

Penjelasan itu bikin Gigi tambah bingung. "Apa bedanya?"

Senyum Amore berubah menjadi seringai misterius. Dia menutul-nutul dahi Gigi dengan telunjuknya yang kurus. "Coba kamu pikirkan sendiri..."

Gigi hanya mencibir. Terkadang dia berpikir Amore itu memang nggak berguna.

...


Karena penasaran, pada hari Sabtu Gigi mampir ke rumah Ciko. Sahabatnya itu sedikit bersungut-sungut karena adiknyalah yang justru dapat kesempatan untuk ditembak panah asmara lebih dulu.

Hari itu Coki pergi les Musik. Ciko ditugaskan untuk menjemputnya, dan Gigi diajak untuk ikut. Karena bulan lalu SIM Ciko sudah keluar, jadi dia menyetir mobil ibunya dan pergi ke tempat les itu.

Di halaman parkir tempat les, Coki sudah menunggu. Anak itu adalah versi mini dari Ciko kakaknya, dengan tampang yang lebih polos.

Coki menghampiri mobil. Dia melambai sekilas pada Gigi, mereka memang sudah saling kenal. "Bang, teman aku boleh ikut, ya?"

"Siapa?" tanya Ciko.

"Amel," jawab Coki. "Dia baru gabung di kelas piano aku hari ini. Mamanya nggak bisa jemput, terus dia nggak punya hape, jadi nggak bisa pesen ojol."

Gigi mencolek Ciko, memberi kode. "Boleh-boleh aja kan, Ko?"

Ciko mengangguk setuju. "Ya udah. Kita anterin aja sekalian."

Ciko mengibas-ngibaskan tanganya, memanggil seseorang. Seorang gadis cilik muncul dengan malu-malu dari belakangnya. Coki mengenalkan Amel pada Gigi dan kakaknya. Coki bilang bahwa kakaknya akan mengantar Amel pulang, tetapi anak itu cepat-cepat menolak dengan malu.

"Nggak apa-apa, kak," kata Amel sambil tertunduk. "Aku nunggu aja."

"Tapi kamu tadi bilang Mama kamu nggak bisa jemput kamu hari ini karena harus kerja, kan?" desak Coki. "Terus kamu pulangnya gimana? Mana lagi rumah kamu kan di Gang Mengkudu, itu jauh banget lho..."

"Papa Amel gimana?" tanya Gigi. Dia juga nggak tega meninggalkan Amel sendirian. Anak itu manis sekali. "Atau ada orang lain yang bisa menjemput?"

Amel hanya menggeleng sambil tertunduk.

Setelah dibujuk-bujuk Coki, akhirnya Amel setuju untuk ikut. Kedua anak itu naik di kursi tengah dan mengobrol sepanjang perjalanan. Gigi dan Ciko menguping pembicaraan mereka diam-diam. Karena baru pertama kali bertemu hari itu, Coki banyak bertanya tentang Amel. Anak itu sepertinya tertutup, seringkali dia hanya menjawab dengan bergumam atau mengangguk.

Rumah Amel letaknya berlawanan arah dengan rumah Coki. Menjelang sore, jalanan mulai dipadati kendaraan orang-orang yang ingin malam mingguan. Setelah tiga puluh menit, mereka sampai di daerah Tanjung Duren.

"Aku turun di sini aja, kak," kata Amel.

"Lho, ini kan masih di jalan besar Amel," kata Ciko. "Rumah kamu di mana? Biar kita antar sampai di depannya aja."

"Nggak usah, kak. Aku nggak mau ngerepotin."

"Nggak apa-apa, Mel," kata Coki baik hati. "Kita anterin kok."

Gigi juga ikut membujuk Amel. Akhirnya anak itu menunjukkan alamat rumahnya. Letaknya masih sekitar delapan ratus meter dari jalan utama.

Mereka berhenti di sebuah rumah mewah. Lampu terasnya menyala, tapi keadaan di sekitar rumah itu tampak sepi. Sebuah Fortuner terparkir di garasi.

"Ini rumah Amel?" tanya Gigi.

Amel mengangguk. "Terima kasih kak. Coki, aku turun ya."

"Oke, Mel..." Coki melambai. "Sampai ketemu hari Rabu nanti, ya!"

Tiba-tiba pintu depan rumah Amel terbuka. Seorang wanita muda keluar dengan langkah-langkah panjang. Dia memakai blus ketat yang bikin Gigi sesak napas hanya dengan melihatnya. Wajahnya dipoles make-up tebal.

"AMEL!" Wanita itu memekik marah. "Ke mana aja kamu?"

Amel mundur ke arah mobil sambil mengerut. "Itu... Tante Ambar..."

"Tante? Kamu harus panggil saya Mama! Kalau sampai Papa kamu dengar, saya bisa dimarahi!" Wanita itu menarik tangan Amel dengan kasar. Dia mendelik pada Gigi, Ciko dan Coki. "Kalian ini siapa? Kenapa Amel ikut sama kalian?"

"Saya Ciko. Ini adik saya, Coki," kata Ciko sopan. "Adik saya satu tempat les dengan Amel. Tadi Amel bilang dia nggak dijemput–"

"Nggak dijemput?" Wanita bernama Ambar itu berseru keras. Dia berbalik pada Amel dan mengkemplang kepalanya. "Kamu ngadu macam-macam sama orang-orang di tempat les, ya? Dasar anak kurang ajar! Mau dijemput tapi malah kabur!"

"Ampun Tante!" Amel terisak kesakitan. "Ampun!"

"Sengaja mau bikin jelek nama saya, ya?" Ambar mencubiti Amel dengan kesal. "Supaya saya diceraikan sama Papa kamu, iya kan?"

Tiba-tiba sebuah sedan hitam muncul di ujung jalan. Ambar terhenti, raut wajahnya tampak ketakutan. Dia mendorong Amel dengan kasar. "Masuk, masuk! Papa kamu pulang! Awas kalau kamu ngadu macam-macam, ya!"

Gigi, Ciko dan Coki saling pandang keheranan.

MENDADAK CUPID! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang