"Besok final turnamen leader champion. Lo nggak mau datang buat kasih dukungan ke bang Adam? Sejak turnamen lo sama sekali nggak pernah lihat bang Adam bertanding secara langsung, kan? Ini kesempatan yang bagus untuk maju sebagai Putri yang penuh percaya diri," ujar ketua OSIS dengan panjang.
"Ini waktunya untuk tunjukkan pesona yang lo punya," lanjutnya.
Putri menatap sekitar halte yang tampak ramai. Ia sedang menunggu angkutan umum, sementara ketua OSIS menunggu jemputan.
"Pasti di sana banyak teman-teman Adam. Apalagi ini pertandingan final," Putri mendesah malas.
Si ketua OSIS berdecak. "Terus masalahnya apa?"
"Gue malu," cicit Putri.
"Malu itu kalau lo ketahuan mencuri atau berbuat suatu hal yang negatif. Ngapain malu kalau lo nggak salah? Katanya kemarin mau berubah jadi orang yang lebih percaya diri. Mana semangatnya, Bung?"
Kali ini Putri harus mengakui bahwa ketua OSIS memang cocok menjadi seorang ketua OSIS. Dibalik sikap konyol dan menyebalkannya si ketua OSIS adalah sosok yang bijak. Pandai mengayomi dan membangkitkan semangat dengan caranya sendiri.
"Lo benar. Ini saat yang tepat untuk tampil dan menunjukkan ke semua orang kalau gue pantas buat Adam. Gue keren. Gue cantik. Dan gue waw." Putri membangun kepingan percaya dirinya untuk lebih kokoh. Membulatkan tekad bahwa semua akan berjalan lancar.
"Lo belajar dari mana kata-kata narsis itu?" si ketua OSIS tertawa ringan.
"Dari lo!" Lalu mereka berdua melepas tawa.
Sementara itu Adam dan Safa pulang bersama. Rutinitas baru Adam sejak Safa keluar dari rumah sakit adalah mengantar dan menjemput cewek itu. Setidaknya sampai Safa benar-benar pulih dan Adam tidak merasa lagi.
"Besok final turnamen, ya?" Safa bertanya. Ia turun dari atas boncengan motor Adam, kini mereka telah sampai di halaman rumah Safa.
"Besok gue boleh datang?" tanya Safa sekali lagi.
"Jangan terlalu dipaksa kalau memang lo belum sehat betul," Adam membuka helm, menatap Safa dengan pandangan penuh pengertian.
"Gue udah sehat sekarang. Besok gue pasti datang," janji Safa.
Adam mengangguk, "lo boleh datang sama teman-teman yang lain. Kalau misalnya lo ngerasa sakit atau lemas lebih baik nggak usah datang, atau pulang duluan sebelum pertandingan selesai juga boleh. Gue masih cemas karena kejadian di alun-alun."
Senyuman Safa merekah lebar dengan dada berdegup tidak karuan. "Makasih udah perhatian sama gue, Dam."
"Nggak usah sungkan. Udah memang seharusnya karena lo teman gue. Dan gue juga merasa bertanggungjawab karena waktu lo kena serempet lagi bareng gue."
Degup jantung Safa memelan. Ada kepahitan dalam kalimat Adam yang harus dia terima. Nyatanya cowok itu masih menganggap dia sebagai teman sampai sekarang.
"Besok tepat satu bulan dari waktu yang gue minta untuk meluluhkan perasaan lo," ujar Safa.
"Safa--"
"Jangan kasih komentar apapun, Dam. Biar gue coba sampai akhir," potong Safa.
Adam menghela napas kasar, dan lebih memilih untuk memberikan senyuman pada Safa. Ia kembali memasang helmnya, kemudian menghidupkan mesin motor. Sebelum berlalu pergi Adam berkata, "leih baik lo istirahat. Gue beruntung kenal sama lo, Fa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putus! [END]
Teen FictionKonon katanya perempuan adalah makhluk yang paling sulit dimengerti. Tidak sesimpel itu menginginkan apa mau mereka. Memendam rasa dan menyampaikannya dengan kode yang para Adam sulit mengerti. Jika soal Aljabar adalah pelajaran yang sulit dipahami...
![Putus! [END]](https://img.wattpad.com/cover/221309436-64-k47744.jpg)