56. Night Call

6.2K 692 54
                                        

Sudah lima belas menit lamanya sejak Jena masuk ke mobil, namun sampai sekarang mobil itu tidak juga ia kemudikan meninggalkan parkiran kafe. Dia masih disana, bersandar pada kursi kemudi dengan pikiran melayang ke kejadian beberapa menit lalu saat Sheren meminta maaf padanya.

Kalau ditanya apa Jena kesal sekarang pada cewek itu, jawabannya adalah sangat. Walau bagaimanapun Sheren sudah membuat nama baiknya kotor dengan rumor tak berdasar yang ia ciptakan, membuatnya jadi sasaran bully di media sosial juga pandangan benci orang-orang tiap kali ia berada di kampus. Sheren sudah membuat hari-harinya sulit semingguan ini.

Kalau Jena tipe pendendam, mungkin sekarang ia sudah memikirkan hal jahat untuk membalas perlakuan Sheren padanya. Atau mungkin menyiram wajah cewek itu dengan milkshake dan membentaknya di tengah kafe untuk membuatnya malu.

Tapi Jena tidak begitu.

Dia bahkan tidak bisa marah saat Sheren bilang dia melakukan itu untuk membuatnya putus dengan Damian. Sheren menyukai Damian sejak mereka SMA, dan Damian juga merasakan hal yang sama. Andai tidak ada Jena mungkin mereka berdua sudah jadian sejak beberapa bulan yang lalu.

Jujur Jena masih kaget akan pengakuan Sheren tadi, tidak menduga kalau cewek yang selalu tersenyum ramah padanya justru melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan lelaki yang dia suka.

Tapi seperti yang Jena bilang tadi, dia bukan tipe orang yang pendendam. Meski ia merasa kesal pada Sheren, Jena tetap memaafkan cewek itu.

"Sekali lagi gue minta maaf, Jen. Gue tau tindakan bodoh gue bikin lo kesulitan, gue janji bakal kasih tau Damian soal ini. Gue juga bakal minta maaf sama dia"

"Jangan sampai kak Dami tau, dia bisa marah besar sama lo kak. Gue nggak mau dia sampai benci sama lo"

Cewek yang duduk berhadapan dengannya itu menggeleng. "Gue pantas dapetin itu, kalau Damian mau benci gue maka gue pun siap untuk dibenci sama dia"

"Nggak, gue bilang jangan. Cukup kita selesaikan ini berdua, nggak perlu libatin kak Dami. Gue udah cukup ngehargai lo karena berani minta maaf dan mengakui kesalahan. Lagipula hubungan kami juga udah mulai membaik, dan itu cukup buat gue"

"Lo terlalu baik, Jena" kata Sheren, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.

Namun Jena justru tersenyum dengan gelengan kecil, menolak anggapan Sheren barusan.

"Gue bukan orang baik kak. Gue hanya mencoba menghargai lo karena gue tau pasti minta maaf untuk kesalahan yang udah lo lakuin ini pasti sulit, lo hebat karena udah berani" Jena menepuk punggung tangan Sheren yang berada di atas meja.
"Gue marah sama lo, banget malah. Tapi gue nggak bisa benci sama lo kak, gue tau lo aslinya baik kok cuma cinta ngebutain akal pikiran lo aja"

"Jena.."

"Boleh gue minta sesuatu sama lo?"

"Apa?"

"Gue nggak ngelarang lo buat temenan sama kak Dami, tapi tolong jangan pernah ganggu hubungan kami berdua lagi. Bisa?"

Jena menghela napas pelan, langit sudah tampak gelap saat ia menoleh keluar jendela. Rupanya sudah hampir satu jam ia berdiam diri disana, sudah saatnya pulang sebelum Theo mengomel karena ia belum juga berada di rumah sampai sekarang.

**

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[2] Boyfriend { Tsundere } ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang