Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tawaran Tara tadi pagi nyatanya masih mengganggu pikiran Jena hingga kini, ditambah Jo yang juga sangat mendukung keputusannya untuk menyetujui makin saja membuat kepala Jena pusing.
Jujur dia tidak enak hati untuk menolak, terlebih waktunya yang sempit akan sangat membuang banyak waktu mereka untuk mencari orang lain lagi. Juga membuang waktu mereka latihan andai saja Jena menerima tawaran itu.
Haruskahditerima saja?
Itu yang Jena pikirkan sejak tadi. Dia mau, tapi tidak cukup percaya diri.
"Kenapa?"
Damian bertanya tanpa menoleh padanya, sibuk berkutat di depan kompor memasak sesuatu untuk makan malam mereka. Sedangkan Jena sendiri duduk di kitchen bar sambil memperhatikan cowok itu disana. Damian sudah jauh lebih sehat ketimbang kemarin, suhu tubuhnya sudah turun mencapai angka normal. Jena senang Damian sudah sehat seperti biasa, sangat aneh rasanya melihat cowok itu terbaring tidak berdaya di atas ranjangnya dengan wajah pucat seperti kemarin malam.
Jena baru pulang kuliah jam empat sore tadi karena harus mengerjakan tugas kelompok dulu, karena memang sudah cukup sore jadi dia langsung pulang ke rumah buat mandi sama ganti baju. Setelah itu barulah pergi ke rumah Damian seperti janjinya tadi pagi.
"Nggak apa-apa"
Damian tidak lagi bertanya saat Jena menjawab begitu, tidak heran sih soalnya Damian tidak pernah terlalu kepo sama urusannya. Kalau Jena mau dia akan cerita tanpa diminta, dan kalau dia diam saja itu artinya Jena sedang tidak ingin berbagi masalahnya. Jadi Damian cukup paham dengan hal itu.
"Mau dibantuin nggak?" Tawar Jena, tidak nyaman rasanya jika hanya duduk diam seperti ini sedangkan si pemilik rumah justru sibuk masak.
"Nggak usah, udah hampir jadi"
Setelah itu hening, yang terdengar hanyalah alat masak yang beradu satu sama lain disertai desisan minyak. Jena bingung mau ngobrolin apa, sedangkan Damian sendiri juga terlalu fokus dengan aktivitasnya.
Jadi mereka hanya diam-diaman seperti itu sampai kurang dari lima menit kemudian dua piring aglio olio dengan ekstra udang buatan Damian tersaji di atas meja. Kalau mencium dari aromanya sih enak, dan mungkin rasanya juga tidak kalah enak.
Benar saja, baru juga sesuap Jena memakannya ia langsung dibuat berdecak kagum. Kemampuan memasak Damian patut diapresiasi.
Setelah sibuk mengoceh betapa enaknya aglio olio buatan Damian, mereka makan dengan tenang karena Jena juga sudah lelah ngoceh terus daritadi. Mereka mencuci piring kotornya masing-masing sebelum akhirnya duduk bersebelahan di sofa sambil menonton serial Netflix.
Jena tidak tau judulnya apa karena ia memang tidak terlalu memperhatikan, malah sekarang sibuk memainkan jari tangan Damian di atas pahanya sedangkan kepalanya ia sandarkan ke bahu cowok itu.