Black List√

8.4K 250 3
                                        

"Kalau menurut om, kita jangan gegabah dulu. Lebih baik kita tungu dia yang ngajak duel duluan," ucap David.

"Enggak bisa, Om," sahut Andrew.

"Saran om begitu. Kamu juga butuh istirahat, Andrew. Luka tusuk kamu kan cukup dalam."

Andrew menghela napas panjang. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi sorot matanya tetap penuh tekad.

"Kalau kita diem terus, mereka bakal makin berani."

"Lawan tetap lawan, tapi pakai kepala, bukan cuma emosi," balas David tegas.

"Kalian ngomongin apa sih?"

Suara Luna membuat ketiga pria itu menoleh.

"Enggak kok," jawab David cepat. "Kamu udah beli makanan buat Andrew?"

"Udah nih."

Luna adalah istri David. Setelah bertahun-tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Karena itu, Luna sangat menyayangi Andrew dan Alea seperti anaknya sendiri.

"Nih, buburnya dimakan dulu ya," ucap Luna sambil menyodorkan semangkuk bubur.

"Thanks, Tan."

"Iya, yang banyak makannya. Biar cepet sembuh."

Andrew tersenyum kecil lalu mulai menyuapkan buburnya.

Di sisi lain...

Bright menggandeng tangan Alea menyusuri koridor sekolah. Tujuannya sederhana, mengantar Alea sampai depan kelas.

"Alea!"

Aurey berlari kecil menghampiri mereka.

Bright dan Alea berhenti.

"Alea, lu gapapa kan? Semalem gue kepikiran terus."

"Gue gapapa kok. Gue yang harusnya nanya, lu semalem pulang sama siapa?"

"Gue pulang naik taksi. Untungnya aman."

Alea mengangguk lega.

Aurey menatap Bright dengan rasa bersalah.

"Maaf banget ya, Al. Gue beneran gak tahu tempat itu ternyata tempat laknat. Kalau gue tahu, gue gak bakal nerima ajakan Bryan."

"Udah, Rey. Yang penting kita sama-sama selamat."

Bright yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

"Kita ke kelas."

Tanpa menunggu lama, ia kembali menggandeng tangan Alea.

Aurey hanya bisa memandangi mereka pergi.

"Maaf ya, Al..." batinnya.

Di lapangan sekolah...

"Bos! Pulang sekolah kita mau jenguk Bang Andrew. Lu ikut gak?" tanya Edwin.

"Kalian duluan aja. Gue mau ke rumah Alea dulu."

"Oke, sip."

Devan menyilangkan tangan.

"Menurut gue si Felix sama gengnya makin gencar deh."

"Gabisa dibiarin nih," timpal Aksa.

Bright mengangguk pelan.

"Oya, kalau kalian setuju sama ucapan gue syukur. Kalau enggak juga gapapa."

"Setuju apaan, Bos?" tanya Devan penasaran.

"Om David. Mantan anggota geng mafia. Omnya Bang Andrew."

"Ya, Bos. Kenapa emang?"

"Dia ngajak kita gabung sama tim Bang Andrew. Soal nama geng nanti dirundingin lagi."

POSSESIVE BOYFRIEND[END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang